Warga Medan : " Ormas yang sering bentrok, kerjanya cuma malakin dan mabok"


Kondisi Kota Medan, Senin (1/2/2016) sudah kembali normal pascabentrok antar dua organisasi kepemudaan pada Sabtu dan Minggu kemarin. 

Pantauan di lapangan, beberapa aparat masih berjaga-jaga di beberapa titik. Seperti di Kantor Pemuda Pancasila (PP) dan persimpangan Jalan Thamrin dan Jalan Asia Medan.
Jejeran pertokoan sepanjang Jalan Thamrin, Asia, dan Sutrisno, Medan yang kebanyakan menjual barang elektronik dan peralatan rumah tangga, yang sebelumnya memilih tutup sudah buka dan beraktivitas kembali.

Pasar Rame yang berada di samping Thamrin Plaza sudah ramai di datangi pembeli, begitu juga dengan sekolah-sekolah yang berada di sekitarnya. 

"Kami sebenarnya berani-berani takut buka toko, tapi semogalah tidak ada bentrok lagi. Sudahlah perang-perang itu, kasihan korbannya, kasihan kami pedagang, polisi tolong kasi aman kami warga Medan-lah," kata As, pedagang aksesoris ponsel di Jalan Thamrin. 

Ditanya apakah dia merasakan manfaat dari ormas-ormas ini, dia langsung menggeleng. 

"Kami sebenarnya resah, terganggu. Tiap hari kutip duit, kalo tak di kasi marah-marah. Datang-datang bau minuman, minta duit buat mabuk, pusinglah," kata pedagang yang hampir 10 tahun berdagang di daerah ini. 

"Tapi jangan kasi tau siapa awa, nanti mereka datang rame-rame pukuli awa," ucapnya takut. 

Ucapan yang sama juga dikatakan pedagang lain, mereka mengaku resah dengan tingkah polah OKP-OKP ini. 

"Kerjanya cuma minta uang, tak tau orang itu macam mana kami susahnya mencari uang. Orang itu datang rame-rame cuma minta uang. Diberantas ajalah orang itu, tak usah ada lagi OKP-OKP di Medan," kata Manalu, warga Jalan Asia. 

"Semua orang sekarang ngaku-ngaku OKP, pejabat-pejabat pun beking-nya OKP. Ngeri awak yang tak ber-OKP ini, salah sikit di-bal-bal orang ini. Tapi sayang beraninya cuma keroyokan, atau culik, satu lawan satu tak berani orang itu," kata Manalu dengan nada emosi. 

Penyataan paling ekstrim dilontarkan Panjaitan, warga Padang Bulan Medan. Penjual kopi ini bilang OKP-OKP itu sampah masyarakat. 

"Sampah masyarakatnya orang itu, buat resah masyarakat saja. Maunya kalo perang, karena sama-sama sampah, ya di tempat sampahlah. Jadi tak ada korban orang tak bersalah. Kota Medan punya dua TPA, kok," kata Panjaitan. 

Dia juga mengaku resah dan aneh saat OKP-OKP masuk ke kampus dengan nama Satuan Mahasiswa. "Mahasiswa pun udah jadi preman, apa itu Satma PP, Satma IPK? Masak kampus ngasi mahasiswanya jadi preman? Petentengan saja jadinya orang itu, anggar jago, tapi beraninya rame-rame," ujar ayah empat anak ini. 

Kepala Polda Sumut Irjen Pol Ngadino mengultimatum kepada kedua organisasi yang terlibat bentrokan bahwa polisi akan melakukan tindakan tegas seperti protap tembak di tempat jika mereka masih melakukan tindakan pidana. 

“Kami punya mekanisme, punya protap, kalau tidak bisa diperingatkan dan sampai membahayakan nyawa orang lain, tembak di tempat. Ini boleh, anggota sudah tau itu,” tegas Kapolda. 

Terkait banyaknya broadcast di jejaring sosial yang menyebutkan bentrok susulan masih akan terjadi, Kapolda mengatakan agar masyarakat tidak perlu takut. 

“Masyarakat tidak usah takut, tidak usah terpengaruh, tidak ikut-ikutan. Aparat keamanan sudah diturunkan menjaga keamanan masyarakat Sumut secara keseluruhan, tidak perlu takut, tetap beraktivitas seperti biasa,” tegas Kapolda. (Kompas)

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Tuesday, February 2, 2016

Post a Comment
close