Densus 88 menantang Tuhan, Bubarkan!!!





“Ketika kebiadaban mendapat pemakluman, dan tak ada lagi pertanyaan, maka hanya persoalan waktu sampai sebuah peradaban menuju kehancuran”

Densus 88 kembali melakukan “ritual pengorbanan”. Sabtu, 12 maret 2016 lalu di Klaten, satu lagi nyawa telah diminta oleh Densus untuk dikirim ke alam yang berbeda. Sejak satuan khusus ini dibentuk pada 26 agustus 2004 hingga sekarang, telah terjadi banyak kasus salah tangkap, perlakuan brutal hingga berujung kematian yang menimpa anggota masyarakat kita oleh Densus, dan tidak tersentuh hukum. Tindakan extra-judicial killing ini telah memakan begitu banyak jiwa tak bersalah.

Saat ini, hampir tak diperlukan lagi sebuah bukti yang akurat. Tak diperlukan lagi penyelidikan kasus yang mendalam. Tak perlu lagi ada pengadilan adil yang terbuka atas seseorang. Cukup bermodalkan kata “terduga, terkait, tersangka teroris”, nyawa manusia di negeri ini dapat seketika menjadi “halal” untuk dicabut.

Dengan dalih “Menjaga keamanan Negara”, “Menjaga Ketertiban”, “Melawan Terorisme”, “Demi Kepentingan Umum”, satuan biadab ini berhak membunuh siapapun yang mereka inginkan. Keadaan saat ini telah menjadi lebih parah dibandingkan zaman orde baru. Jika orba memiliki “petrus”, sekarang kita tengah menghadapi kebangsatan “Densus”. Jika petrus membunuh secara diam-diam, menghilangkan orang secara misterius. Densus mampu membunuh secara terang-terangan. Jika petrus membunuh dalam sepi, Densus justru membunuh dalam keramaian, mencabut nyawa seseorang di hadapan keluarga, di hadapan istri dan anak-anak mereka. Di hadapan orangtua mereka.

Bagaimana mungkin tidak dikatakan bangsat. Jika membunuh orang tak bersalah adalah tugas mereka?
Pernyataan ini akan menjadi sangatlah panjang jika diisi oleh seluruh data kebiadaban satuan bernama Densus 88 ini. Begitu banyak kejanggalan yang terjadi atas para korban. Mereka para korban tak sempat bicara, peluru sudah bersarang di kepala. Tanpa pengadilan, nyawa tak lagi dikandung badan. Bahkan saat seorang hamba sedang menghadap Tuhannya, Densus menerobos masuk ke dalam rumah tanpa salam, memecahkan kepala korban hingga otaknya berderai.

Pada 20 september 2014, di kecamatan Dompu, seorang bernama Nurdin tewas di tangan Densus saat tengah melakukan Sholat Ashar. Belum lagi kita tambahkan dengan kebiadaban densus pada kasus di Poso 2014, ada 12 orang dibunuh oleh Densus yang bahkan tidak termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang).

Penangkapan-penangkapan di Jakarta, Bandung, Kendal, dan Kebumen, pada Mei 2013, yang menuntut 7 nyawa yang masih berstatus terduga. Melihat Kinerja buruk ini, benarlah bahwa bahwa Densus harus dihentikan. Densus sudah menjauh dari tujuan pembentukannya. Tak ada progress yang signifikan atas tugas mereka memberantas “terorisme”.

Kasus terakhir di Klaten yang memakan satu korban bernama Siyono, hanyalah satu dari ratusan kebiadaban yang telah dilakukan oleh Densus 88. Korban yang berusia 34 tahun ini, dibawa dari rumahnya pada tanggal 8 maret 2016 dalam keadaan sehat wal’afiat, sebagai terduga. Tapi entah apa yang telah dilakukan Densus, ia dikembalikan ke rumah tanpa nyawa, dengan alasan lemas sehabis berkelahi dengan anggota. Keterangan aneh macam apa ini, kawan?!

Bahkan ada satu hal yang harusnya membuat kita sebagai kaum muslimin merasa marah, semarah-marahnya. Kita harus selalu mengingat ini. Mereka! Densus 88 pada kasus di Ciputat, tangerang selatan januari 2014, telah menjadikan Al-Qur’an sebagai barang bukti! (hizbut-tahrir.co.id)  Ya! Al’Qur’an menjadi barang bukti untuk membuktikan bahwa yang mereka tangkapi adalah teroris! Tidak cukup dengan melakukan dosa besar membunuh kaum muslimin, mereka bahkan juga melecehkan Kitab Suci.

Apalagi namanya ini, kalau bukan menantang Tuhan? Ya! Densus 88 telah menantang Tuhan dengan kelakuan biadab yang mereka perbuat.

Kemana sembunyi pemerintah dan aparat-aparatnya melihat kebiadaban dan penghinaan ini? Kemana hilangnya suara mereka? Bagaimana bisa pemerintah diam seribu bahasa atas kelakuan tendensius aparat negaranya sendiri selama bertahun-tahun? Atau mungkin tak ada lagi hati nurani?! Atau memang itu sebenarnya yang mereka ingini?!

Sungguh, kawan. Densus benar-benar tengah mencoba “mendahului dan menantang” Tuhan. Mereka telah membunuh begitu banyak kaum Muslim tanpa pengadilan yang haq. Tidak ada transparansi sedikitpun yang ditampakkan oleh Densus atas setiap kasus. Nyawa-nyawa telah melayang tanpa alasan. Merekalah Teror sebenar-benar terror. Densus 88-lah teroris sebenarnya.

Sungguh, kawan. Perlakuan Densus bukan saja mencabut nyawa-nyawa kaum muslimin. Namun ada hal lain yang tengah mereka coba sebarkan di tengah masyarakat kita. Mereka tengah menebar ketakutan. Menakut-nakuti kita, bahwa mereka mampu membunuh kita. Atas setiap kasus yang kita lihat, mereka tengah menyampaikan sebuah pesan, bahwa kita yang “islam”, kita yang menginginkan Islam sebagai pengatur kehidupan, kita yang memegang kuat tali Islam, bisa mereka lenyapkan. Sebab hampir seluruh korban kebiadaban mereka adalah kaum muslimin yang dekat dengan wacana keislaman.
Barangkali, saat ini bukan kita yang terbunuh dan teraniaya, mungkin belum. Tapi besok, lusa, atau kapanpun, bisa saja kepala-kepala kitalah yang menjadi sasaran empuk popor senjata mereka.
Maka, kawanku, sebelum itu terjadi, mari kita ganyang keberadaan mereka. Tuntut pembubaran satuan biadab ini.

Bubarkan Densus 88!! Tanpa tapi.
Wassalam.
Jogjakarta, 14 Maret 2016 [Vier A. Leventa]
Like Fanpage kami :

Monday, March 14, 2016

Post a Comment
close