Dialektika Sejarah Gerakan Islam Di Nusantara Dari Era Ke Era



Sejarah adalah ingatan, maka apa jadinya jika manusia tanpa ingatan?” –Ahmad Mansur Suryanegara-


Berbicara tentang sejarah untuk sebagian orang mungkin adalah hal yang membosankan.Seperti nostalgia yang tak berkesudahan.Membaca sejarah ibarat mengorek-ngorek luka lama masa lalu.Membuka kembali waktu yang sudah terlewati.Apalah artinya mengingat-ingat sesuatu yang telah hilang? Biarlah hari lampau tetap menjadi kenangan, dan mari berpikirtentang hari ini, untuk masa depan yang lebih baik. Ya, seperti itu memang terlihat lebih rasional.

Di satu sisi, sejarah memang dapat merusak.Hal itu bisa saja terjadi bila sejarah hanya dijadikan sebuah kenangan yang mengawang-ngawang.Dijadikan sebagai sebuah romantisme belaka. Ketika sejarah hanya menjelma melankolia yang membuat pikiran terjebak pada masa lalu,maka sejarah akankehilangan tenaga “Pengubah”-nya.Tapi, hal itu bisa jadi berbeda tatkala sejarah dijadikan sebuah pelajaran. Ruang ingatan yang membuat kita dapat melihat dengan jelas apa saja yang telah terjadi. Hingga kita dapat mengambil hal-hal positif dan negative dari ruang tersebut.

Ini telah dibuktikan oleh hitler di jerman, bagaimana ia menaikkan rasa patriotism kaum fasis jerman dengan mengangkat sejarah superioritas kaum Aria mereka. Hal serupa juga digunakan oleh Kemal attaturk di Turki.Dan perkembangan dialektika sejarah yang digunakan di Rusia, sebagai kunci untuk membangkitkan perjuangan kaum proletariat, bahwa sejarah berjalan dan berakhir di tangan mereka.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah ungkapan penting yang pernah dilontarkan oleh Soekarno. Mereka yang mengatahui sejarah, akan paham tentang jati dirinya.

Sejarah gerakan Islam di Nusantara pun memiliki torehan tinta emas yang jauh lebih mengesankan.Tercatat dengan baik oleh waktu, bahwa Islam menjadi poros takdir Nusantara selama beradab-abad lamanya. Tapi hal itu te(di)reduksi ketika kolonialisme dan imperialism eropa mulai memasuki wilayah Nusantara. 

Sejarah Islam dikebiri, dipelintir, diputar-balikkan, bahkan dibunuh hingga hilang.Maka menjadi pentinglah bagi kita untuk mengetahui sejarah ini dengan benar dan serius, agar bangkit kembali jati diri yang telah lama tertidur.

Itulah sekilas tentang perlunya kita memahami sejarah.Dialektika sejarah dalam pembahasan kita, tidak berhenti pada pengertian tentang pertentangan thesis, anti-thesis, dan sintesis, sebagaimana pengertian Hegel.Tapi lebih pada pengertian yang dituangkan oleh Tan Malaka dalam Madilog-nya. Dialektika di sana mengandung 4 hal, yakni waktu, pertentangan, timbal balik, dan seluk beluk (pertalian).

Sebenarnya pembahasan kita bisa sangat melebar. Karena keterbatasan ruang, maka kali ini hanya akan dituliskan garis besar pikiran saja. 

Pada awalnya kita akan membuat garis masa untuk menentukan sejarah gerakan islam di nusantara pada setiap era dan generasinya, hal ini dilakukan untuk mengusahakan agar pembahasan terbentuk dengan rapi. Kemudian dari tiap-tiap era akan kita urai sedikit tentang seluk-beluk yang terjadi di dalamnya. Untuk selanjutnya kita dapat melihat pertentangan dan timbal-balik di disetiap era, bagaimana segalanya dapat berjalan dan saling berhubungan.

Baiklah. Kita akan memulai dari sejarah awal masuknya Islam di Nusantara. Sejarah masuknya Islam di Nusantara –nusantara adalah istilah untuk menyebut indonesia saat ini sebelum merdeka- memiliki beberapa teori. Setidaknya sampai saat ini ada 3 teori[1] terkuat yang paling sering digunakan.

Teori pertama di usung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India.Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar.

Dalam L’arabie et les Indes Neerlanaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai arab yang dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah nusantara dan daratan india. Sebetulnya teori ini dimunculkan oleh Pijneppel, seorang sarjana dari Universitas Leiden.Tapi Snouck yang lebih terkenal memasarkan teori ini.[2]


Teori kedua, yakni teori Persia. Hal ini berdasarkan kesamaan budaya antara penduduk nusantara dan Persia.Misalnya budaya peringatan 10 Muharram sebagai peringatan wafatnya cucu Rasulullah, yaitu Hassan dan Hussein.Kemudian kebudayaan menggunakan keranda di sumatera barat, juga persis dengan budaya penduduk Persia.Alasan ini menguatkan teori bahwa Islam di nusantara berawal dari Persia.Dan diperkirakan masuk pada abad ke-13.

Teori ketiga, yakni teori Arabia.Teori yang terakhir ini mengkritik kedua teori sebelumnya.Dalam teori ini mengatakan bahwa Islam di Nusantara berawal dan berasal langsung dari Makkah atau Madinah.Waktu kedatangannya pun bukanlah pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7.Abad di mana Islam juga baru muncul.Pada awal abad Hijriah atau dalam masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.





Sumber-sumber literature cina menyebutkan bahwa pada abad ke-7 telah berdiri perkampungan-perkampungan arab muslim di pesisir pantai sumatera. Bahkan dalam kitab sejarah cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah kedatangan kunjungan diplomatic dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang arab pada sekitaran tahun 651 masehi atau 31 hijriah. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya duta tersebut datang pada masa kepemimpinan utsman bin Affan.[3]

Selain itu Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam juga menyatakan bahwa pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari arab untuk Cina yang lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abi Sofyan, diam-diam melanjutkan perjalanan ke Jawa. Dengan menyamar sebagai pedagang beliau meneyelidiki tanah Jawa dan melakukan pengamatan, beliau mendatangi kerajaan Kalingga.

Kita mengetahui bahwa pada abad-abad ini adalah eranya Kerajaan Sriwijaya.Tercatat bahwa duta-duta muslim telah mengunjungi zabaj atau Sribuza atau yang lebih dikenal dengan nama kerajaan Sriwijaya. Sebuah literature arab kuna yang berjudul Aja’ib al hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa terdapat perkampungan-perkampungan Muslim yang dibangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan yang terjadi antara Daulah Islamiyah dengan kerajaan Sriwijaya membuktikan bahwa Islam masuk tidak hanya berpengaruh melewati jalur perdagangan ataupun sosial-budaya, namun telah masuk kedalam ranah politik melalui hubungan diplomatik berupa proses korespondensi. Hal ini diungkapkan oleh Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd Al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.

Penjelasan di atas adalah titik tolak sejarah masuknya Islam di Nusantara, bahwa sejak permulaan abad Hijriah Islam telah menyentuh negeri ini, yakni abad ke-7 masehi, telah terbentuk komunitas-komunitas muslim di beberapa titik Nusantara, lebih tepatnya Sumatera. Hal ini menjadi sel utama berkembangnya Islam untuk era selanjutnya.

Era selanjutnya yang telah dicatat oleh sejarah adalah pada abad ke-13.Ini merupakan salah satu titik yang membuktikan Islam semakin lama kian membesar pengaruhnya di kalangan penduduk Nusantara.
Pada awal abad ke-12 Kerajaan Sriwijaya mengalami titik mundurnya.Terjadi masalah yang serius, sehingga mereka membuat sebuah kebijakan dengan menaikkan upeti bagi kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya.Hal ini berakibat pada berubahnya arus perdagangan yang membawa misi Islam.

Saat itu Islam telah berkembang di beberapa titik Pulau Sumatera, yakni aceh dan minangkabau.Pada abad ini pula berdiri sebuah Kerajaan Islam pertama yakni Samudera Pasai, yang paling dikenal dalam sejarah.Walaupun sebenarnya ada beberapa perdebatan.Karena ada salah satu pendapat dari Prof Ali Hasjmy, bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak.Abad ini adalah titik Dimana Islam secara resmi telah masuk sebagai sebuah kekuatan politik yang dijalankan oleh sebuah wilayah otonom.

Abad ke-13 dapat dikatakan sebagai abad permulaan bermunculannya Kerajaan-kerajaan Islam di nusantara.Kemunculan ini bukanlah sebuah kemunculan yang tiba-tiba. Namun telah terjadi proses dakwah yang terorganisir dengan rapi selama berabad-abad lamanya, dihitung sejak para ulama pedagang menginjakkan kakinya pertama kali pada sekitaran abad ke-7 masehi atau awal abad hijriah.Beberapa di antara mereka yang dikenal oleh masyarakat Nusantara, Jawa Khususnya adalah Para Walisongo. Bukti bahwa mereka terkoordinasi dengan baik dinyatakan dalam sebuah versi, dewan walisanga yang dibentuk pada tahun 1474 M oleh raden Rahmat membawahi Raden Hasan, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Qosim (Sunan Drajad), Usman haji (Ayah Sunan Kudus), Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Suta Maharaja, Raden Hamzah dan Raden Mahmud. 

Terlepas dari perdebatan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudera Pasai atau Perlak, pada kenyataannya Kerajaan Islam otonom yang menjadikan Syariat sebagai landasan pemerintahannya telah dimulai sejak tahun 1267 oleh Kerajaan Samudera Pasai hingga runtuhnya pada tahun 1521. Berikut adalah beberapa kerajaan Islam yang muncul sepanjang abad ini sampai abad-abad berikutnya.

Kerajaan Ternate (1257-sekarang), Kerajaan Pagaruyung (1500-1825), Kerajaan Malaka (1400-1511), Kerajaan Inderapura (1500-1792), Kerajaan Demak (1475-1548), Kerajaan Kalinyamat (1527-1599), Kerajaan Aceh (1496-1903), Kerajaan Banjar (1520-1860), Kerajaan Banten (1527-1813), Kerajaan Cirebon (1430-1666), Kerajaan Mataram Islam (1588-1681), Kerajaan Palembang (1659-1823), Kerajaan Siak (1723-1945), Kerajaan Pelalawan (1725-1946).[4]

Tak hanya Kerajaan-kerajaan di atas, namun ada banyak lagi Kerajaan Islam yang telah tersebar di penjuru Nusantara.Terhitung di Sumatera ada 19 Kerajaan, di Jawa 7 Kerajaan, Maluku 9 kerajaan, Sulawesi 4 kerajaan, Kalimantan 14 Kerajaan, Papua 12 Kerajaan.

Ini telah membuktikan bahwa Nusantara dahulu merupakan Negeri Islam.Namun penulis belum menemukan hubungan diplomatic yang jelas dan terang antara seluruh Kerajaan Islam di Nusantara dengan Kekhilafahan di Turki sebagai induk negeri kaum Muslim.Kecuali aceh dan beberapa Kerajaan lainnya di Sumatera dan Jawa.Tapi yang dapat dibuktikan bahwa Kerajaan-kerajaan ini menerapkan Syariat Islam dalam pemerintahannya.Sebagai contoh yang terjadi pada Kerajaan Islam di Pulau Jawa.Para Ulama melakukan pembagian tugas.Masing-masing ulama bertugas merumuskan aturan penyelenggaran negara sesuai Syariat Islam.Sunan Ampel dan Sunan Giri didukung lembaga penyokongnya menyiapkan aturan soal perdata, adat-istiadat, pernikahan, muamalah dan lainnya.Dibantu pemuda Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), mereka menyiapkan aturan jinayat dan siyasah (criminal dan politik).Di dalamnya terkandung hukum imamah, qishas, ta’dzir termasuk perkara zina dan aniaya, jihad, perburuhan, perbudakan, makanan sampai masalah bid’ah.[5]

Era Selanjutnya yang memiliki banyak sekali dialektika adalah sekitaran abad ke-15 akhir menuju abad ke-16.Ini semacam gerbang era berikutnya yang berbeda.Pada Tahun 974 Hijriah atau 1566 Masehi kapal-kapal dari Kejaraan aceh telah berlabuh di Bandar pelabuhan Jeddah.Hubungan yang erat antara Aceh dengan Kekhilafahan Utsmani mulai tampak pada abad-abad ini.ikatan yang terjadi tidak hanya dalam hubungan sosial ekonomi, tapi juga berhubungan dalam politik dan kemiliteran. Itu terbukti dari bantuan Utsmani atas aceh dalam mengusir Portugis dari pantai samudera Pasai pada tahun 1521.

Titik-titik kekuatan politik Islam di Nusantara mulai tersebar. Tidak hanya di Sumatera, namun telah terlihat di pulau-pulau lain. Raja Goa pertama di Sulawesi telah memeluk islam yakni Sultan Alaidin Al Awwal dan perdana menterinya atau wazir besar, yang bernama Karaeng Matopa pada Tahun 1603.
Kemudian adalah kerajaan Ternate.Islam telah masuk bahkan sejak 1440.Pada tahun 1512 saat portugis masuk ke wilayah ini, raja ternate telah menjadi seorang Muslim, yakni Bayang Ullah.Di sekitarnya ada pula kerajaan bacan dengan raja pertamanya yang memeluk Islam yakni Raja Zainulabidin yang bersyahadat pada tahun 1521.

Ini adalah era permulaan dimana Islam sebagai kekuatan politik berkembang di banyak titik Nusantara.Tapidi lainsisi pada Era ini juga kolonialisme dan imperialism Eropa mulai memasuki Nusantara. Mula-mula hal itu dilakukan oleh Portugis dan Spanyol.Portugis mendapat jatah kue di bagiantimur, dan Spanyol mendapat bagian barat setelah perjanjian Tordesillas. Namun mereka sempat berselisih di wilayah timur,yakni malaku, pada kerajaan Islam ternate dan tidore. Kedua negara ini habis diadu domba oleh dua kekuatan besar imperialis Eropa tersebut; Portugis dan Spanyol.

Kesultanan Malaka yang masuk kedalam rangkaian kepulauan Nusantara, dan memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara bahkan mampu diruntuhkan oleh portugis pada tahun 1511.
Pada Abad-abad selanjutnya terjadi pertentangan yang begitu kental antara kekuatan  politik Islam yang telah terbangun dengan Kekuatan Imperialis Eropa di Nusantara. Hal itu terjadi sampai kemudian turut serta dan masuknya belanda dan Inggris Raya.

Pertalian dan pertentangan yang terjadi pada abad-abad ini telah berhasil dicatat oleh seorang ulama abad ke-17 yang bernama Nuruddin Ar-Raniry. Di dalam kitabnya yang berjudul Bustan As Salathin, beliau menuliskan hubungan diplomatic antara kerajaan Islam Aceh dengan khilafah Utsmani di Turki. Terbukti bahwa pada tahun 1562 di bulan Juni, seorang duta Aceh terlihat berada di Istanbul untuk meminta bantuan militer dari Utsmani untuk menghadapi serangan Portugis di Nusantara.

Portugis secara resmi menguasai beberapa bagian Nusantara terhitung mulai tahun 1512, dimulai dengan direbutnya Kerajaan Malaka, sampai Tahun 1850.Belanda dan perusahaan dagangnya; VOC, menjajah Nusantara sejak 1602 hingga 1942. Dan Jepang sempat menjajah selama 3,5 Tahun hingga Proklamasi Indonesia.




Semenjak Kolonialisme Eropa masuk menjarah Nusantara, perlawanan-perlawanan di setiap titik bermunculan. Hal ini dapat menggambarkan pada kita sedikit hal, bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan jalan Dakwah yang damai, proses itu terjadi berabad-abad, dengan adab dan uslub melewati jalan sosio-ekonomi, hingga berujung pada hubungan politik-diplomatis, sampai akhirnya negeri-negeri di Nusantara menjadikan Syariat Islam sebagai Landasannya. 

Sedangkan sesuatu yang berbeda ditampakkan oleh Kolonialis Eropa.Mereka datang dengan bedil dan meriam.Menjajah dan membunuh, mengancam untuk merebut kekuasaan dalam tempo yang singkat demi kekuasaan dan perut mereka sendiri.Hal itu dicatat oleh Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api sejarah, bagaimana kebijakan-kebijakan Penjajah Belanda yang menyengsarakan Rakyat Nusantara. Negeri yang damai sewaktu Islam menjadi Atmosfer Nusantara telah dirusak oleh kaum imperialis Eropa.Dan Era peperangan pun tak dapat dihindari lagi.

Abad-abad selanjutnya, akan dipenuhi oleh darah para ulama. Sepanjang abad 16 sampai akhir abad 19 telah terjadi peperangan-peperangan antara Kekuatan Islam dengan penjajah Eropa.Tapi saat ini pula kita dapat melihat bahwa setiap negeri atau Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara saling terhubung.Beberapa yang dapat di catat, adalah ketika Malaka di serang oleh Portugis, Kerajaan seperti Demak dan Aceh ikut membantu mengirimkan bala tentaranya untuk mengusir penjajah.

Perlawanan paling lama dan memakan limpahan darah terbanyak adalah Perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830.Perlawanan besar lainnya yang dipimpin oleh para ulama juga terjadi di Aceh, bahkan berlangsung selama 39 tahun bermula pada 5 April 1873 hingga 1912, dan di dalamnya pun ada bantuan bagi pihak Aceh dari Kekhilafahan Utsmani di Turki. Beberapa Pahlawannya yakni Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah. Perang Paderi di Sumatera Barat dengN tokohnya Tuanku Imam Bonjol (1821-1837).  Perang Banjarmasin (1857-1862). 

Di Banten juga terjadi pemberontakan Ulama yang meletus pada 9 juli 1888.Para Kyai yang memimpin yakni Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid.Dan masih banyak lagi perlawanan-perlawanan para ulama atas penjajahan yang mengganggu Stabilitas negeri Islam di Nusantara.
Perang fisik secara nyata mampu menghancurkan Kerajaan-kerajaan islam ini satu persatu, diadu domba dari dalam oleh penjajah, seperti yang terjadi pada Ternate-Tidore.  

 Hingga pada puncaknya dibuatlah sebuah kebijakan bernama Korte Velklaring; Penghapusan kekuasaan politik Islam pada Kerajaan-kerajaan di Nusantara.[6]Inilah yang membuka babak baru dalam sejarah Nusantara.Perjuangan Berabad-abad para Ulama untuk membangun Nusantara yang berlandaskan Islam telah dirusak oleh kedatangan penjajah eropa.Tahun-Tahun berikutnyapun dimulai.

Akhir abad ke-19 menjelang abad ke-20 Perjalanan Sejarah Islam di Nusantara menemukan gaya baru. Dengan runtuhnya satu per satu kekuasaan otonom Kerajaan islam, muncullah kebangkitan Islam dalam bentuk yang berbeda. Hal ini ditandai dengan lahirnya gerakan-gerakan yang lebih modern ditandai dengan Sarekat Islam yang digawangi oleh H. Samanhudi pada 16 oktober 1905.[7] Gerakan ini focus pada monopoli kekuatan ekonomi agar berada di tangan kaum muslim. Selanjutnya mulai berdiri Muhammadiyah, NU dan beberapa organisasi masyarakat.

Kemudian disusul dengan partai-partai politik yang mulai masuk ke dalam wadah demokerasi dalam perjuangan membangkitkan kembali Islam di Indonesia. Tapi hal itu terbukti gagal setelah Partai Masyumi pun tak pernah mampu menjadikan Islam sebagai dasar Negara. Dalam sidang Konstituante Tahun 1955.Telah terjadi penghitungan suara dengan pertanyaan, “Apakah dasar Negara Indonesia?Islam atau Pancasila?”230 anggota sidang memilih Islam sebagai dasar negara, sedangkan 273 lainnnya menginginkan Pancasila.[8]Keadaan imbang yang berlarut-larut ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno.Dan Pancasila tetap menang sampai sekarang.Memang permasalahannya bukanlah tentang suara, tapi siapa yang menghitung suara.

Sejarah telah terjadi dan terus berjalan.Dialektika untuk memperjuangkan Islam sebagai satu-satunya pengatur kehidupan di Nusantara terus dan tetap berjalan sampai hari ini. Setiap Era ternyata memiliki gaya dan bentuknya masing-masing. Sejarah di sini telah berbicara pada kita dengan dirinya sendiri.Dan kini sebuah dialektika untuk membangkitkan Islam sebagai sebuah kekuatan politik pun tengah berlangsung.Tentunya dengan dialektikanya sendiri.

Sekarang menjadi tugas kitalah untuk mendengar sejarah dan belajar darinya.Mengambil semangat yang telah tertanam.Membangkitkan kembali Ruh perjuangan Islam yang sudah cukup lama terkubur.Agar sejarah tak menjelma sebagai candu kenangan, yang hanya dijadikan dongeng sebelum tidur.Sudah terlalu lama sejarah emas Islam yang gemilang itu tersudut dalam ruang sunyi tanpa pembela. Mari bangkitkan dan berdiri di barisan terdepan!!!

Takbir!!

Wallahu’alam bisshowab.

Jogja, 13 februari 2016.
VAL.
Rujukan:
Ahmad Mansur Suryanegara, “Api Sejarah” jilid 2, 2010.
Artawijaya, “Belajar dari Partai Masyumi”, Pustaka Al-Kautsar, 2014.
Majalah Sabili, No. 9 Th. XI, 2003, Sejarah Emas Muslim Indonesia.


[1]Majalah Sabili, No. 9 Th. XI, 2003, Sejarah Emas Muslim Indonesia.
[2]Ibid.
[3]Ibid.
[4]Yusuf, Mundzirin; Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Yogyakarya, Penerbit Pustaka, 2006.
[5]Majalah Sabili, No. 9 Th. XI, 2003, Sejarah Emas Muslim Indonesia.
[6]Ahmad Mansur Suryanegara, “Api Sejarah” jilid 2, 2010.
[7]Ibid.
[8]Artawijaya, “Belajar dari Partai Masyumi”, Pustaka Al-Kautsar, 2014.
Like Fanpage kami :

Sunday, March 20, 2016

Post a Comment
close