"Misteri Kulit Kabel Jakarta" Sabotase, Benarkah? Berikut Yang Terjadi Sebenarnya



Indonesia. "Gila nih. Siapa yang masukin kulit kabel listrik gitu banyak dalam got? Sama kayak kasus Fatmawati," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat, 26 Februari. Di artikel yang dipublikasikan lama Liputan6.com, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama yang biasa dipanggil Ahok menyatakan kecurigaannya ada orang yang sengaja menaruh kulit kabel di lokasi itu, agar air tidak bisa mengalir dan meluap tepat di Istana Merdeka.

Laman Tempo bahkan memuat artikel berjudul Ahok Curiga Jakarta Banjir Karena Sabotase, ini buktinya.

Dalam beberapa berita, wartawan hanya diperlihatkan gambar dari telpon seluler Ahok. Padahal temuan gulungan kulit kabel diambil dari lokasi yang sangat dekat dengan akses peliputan untuk media: di depan Gedung Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Di media sosial Facebook ada yang men-tag saya tentang isu “sabotase”. Saya juga membaca analisis soal kemungkinan sabotase agar Ahok dianggap gagal menangani banjir di Jakarta dari sejumlah akun Twitter. Setelah mencari di internet, saya ketemu tautan di beritajakarta.com, situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berita itu tanggal 26 Maret 2014, judulnya Saluran Jl Medan Merdeka Timur Dipenuhi Kulit Kabel.

Jadi, ini kisah lama? Foto-foto lama?

Buat saya, saat itu jawabannya “iya”. Karena pemberitaan media arus utama termasuk yang saya kutip di atas tidak menampilkan gambar terbaru, yang mereka produksi sendiri. Sesudahnya heboh.


Tanggal 27 Februari 2016 itu bertubi-tubi saya di-tag gambar bahkan video dari akun kampanye Ahok, termasuk yang mereka share dari akun Teman Ahok. Beberapa akun di Twitter pun melakukan hal yang sama ke saya. Buat saya, selama foto dan gambar-gambar itu diproduksi oleh akun pendukung, justru saya harus bersikap skeptis. Bahkan saya mendorong media untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Lokasinya dekat, kok.

Banyak pendukung Ahok yang mungkin berharap saya menerima mentah-mentah sodoran berbagai gambar dan video. Bahkan menerima mentah-mentah argumentasi bahwa benar kemungkinan ada sabotase agar Ahok dianggap gagal mengelola banjir di Jakarta, khususnya di sekitar wilayah Istana Presiden dan Monas. Kemudian juga di sekitar Balai Kota dan Kedutaan Besar AS, serta sejumlah kantor pemerintahan di sekitar Monas.

Idealnya saya mengecek langsung ke lapangan, bukan? Iya. Biasanya demikian. Tapi saya sedang cuti sakit. Jadi saya bersabar saja sambil menikmati berbagai bully-an pendukung Ahok di media sosial. Haha.

Akhirnya, sejak dua hari lalu, media turun ke lokasi, menyaksikan belasan petugas PPSU (Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Umum) mengangkat kulit kabel yang jumlahnya bertruk-truk. Sampai Selasa kemarin, 1 Maret, beberapa media melaporkan ada 12 truk kulit kabel dikeluarkan dari gorong-gorong air di depan Kementerian ESDM.

Melihat begitu banyaknya kulit kabel yang diangkut keluar, saya makin yakin, isu sabotase yang digembar-gemborkan itu, berlebihan.

Sebelum ke lapangan, saya sudah menganggap itu berlebihan. Alasannya, ini bukan pertama kali terjadi. Sebagaimana diberitakan oleh situs beritajakarta.com, tahun 2014 pun sudah terjadi. Bagaimana mungkin hal yang sama terulang? Antara tahun 2014 sampai 24 Februari 2016, apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan gorong-gorong di sekitar kawasan Medan Merdeka Barat dan Selatan, termasuk Timur, tidak tersumbat apapun, termasuk kulit kabel?

Ini kalau kerja pembersihan gorong-gorong serius ya.

Ahok mulai menyalahkan Dinas Informasi dan Komunikasi karena tidak kunjung menyerahkan rekaman CCTV untuk mengecek, siapa oknum yang “membuang” kulit kabel ke gorong-gorong di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Buat saya ini kemajuan sikap dari Ahok, artinya dia mulai melihat ke instansi di lingkungan Pemprov, apakah mereka bekerja dengan baik dan benar. Sebelum menduga ada sabotase apalagi dari pihak luar. Ahok juga menyerahkan temuan kulit kabel itu untuk diselidiki oleh kepolisian.

Selasa malam, 1 Maret, saya mengontak Kapolda Metro Jaya Inspektur Jendral Tito Karnavian. Sudah waktunya meminta jawaban, setelah melihat belasan truk kulit kabel.

Saya bertanya ke Kapolda Tito, bagaimana mungkin ada yang bisa memasukkan 12 truk kulit kabel ke gorong-gorong yang terletak di sekitar Istana Presiden? Di Ring 1? Jika itu terjadi belum lama, sehingga pantas diduga sebagai upaya sabotase untuk musim banjir Februari 2016, bagaimana mungkin kegiatan memasukkan kulit kabel itu lolos dari pengawasan aparat? Termasuk kepolisian?

“Info sementara sisa pemasangan kabel 2-3 tahun lalu yang tidak diangkat. Sedang didalami,” kata Tito menjawab pertanyaan saya.

Kepada media hari ini Tito mengatakan hal yang sama. “Sudin Tata Air dan PLN melihat, apakah ini barang lama atau barang baru. Informasi sementara ini barang lama,” demikian Tito, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya.

Tito menjelaskan bahwa sekitar tahun 2014 ada pembangunan saluran kabel di sekitar Jl Medan Merdeka Selatan. Polisi akan memeriksa kontraktor-kontraktor yang mengerjakan proyek itu. “Itu sudah lama, sudah rusak. Kami belum tahu siapa pemiliknya,” kata Tito.
Rasanya makin jauh ya dari dugaan sabotase? Saya menduga ini semata kelalaian jajaran Pemprov yang tidak secara serius memastikan gorong-gorong di sekitar kawasan itu bersih dari apapun, terutama sesudah temuan tahun 2014.

Untuk membuktikan, sebagai tambahan informasi, Rabu siang, 2 Maret, saya ke lokasi. Petugas PPSU masih mengeluarkan gulungan kulit kabel dari lubang yang dibuka di depan Kementerian ESDM.

“Kami bekerja dua shift, jam 7 pagi sampai jam 3 sore, lalu sampai jam 11 malam,” kata Sardono, salah satu PPSU yang tengah bertugas. Saya mengamati kulit-kulit kabel itu, berlumur lumpur got.

“Ini sih sudah lama, Bu. Bukan baru dimasukin ke gorong-gorong sini. Sudah tahunan,” kata Sardono. Beberapa wartawan dari media televisi ada di sana untuk mengambil gambar.

Lokasinya berseberangan dengan Pos Polisi Lalu Lintas yang anggotanya mengatur arus lalu-lintas di simpang Patung Kuda di depan Gedung Sapta Pesona, di Kawasan Monas. Melihat posisi itu, saya makin ragu bahwa ada peluang bagi siapapun yang ingin membuat citra Ahok jelek, dengan memasukkan kulit kabel menjelang musim banjir kali ini. Lha, diawasi polisi? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasukkan kulit kabel itu? Tanpa dicurigai bahkan oleh petugas keamanan yang banyak tersebar di sana?

“Nggak mungkin, Bu. Itu sudah lama di situ,” kata petugas polisi yang bernama Fredy yang tengah mengatur lalu-lintas di sana.

Saya menanyakan, bagaimana mungkin ada kegiatan memasukkan kulit kabel tanpa ketahuan pengamanan di kawasan itu.

Saya ke Pos Polisi Sub Sektor Merdeka Barat, tak jauh dari lokasi pengangkutan kulit kabel. Di sana ada Pak Sadiyono.

“Sabotase? Bagaimana caranya? Kami di sini patroli 24 jam muter terus di kawasan Monas-Gambir-Istana,” kata Pak Sadiyono.

Dia menduga kuat kulit kabel sudah lama di sana. Ditinggalkan oleh pekerja yang memasang kabel PLN atau Telkom.

“Ibu tahu, sangat mungkin ada pekerja yang menguliti, mengambil isinya untuk dijual, dan meninggalkan kulitnya. Sudah lama. Seperti yang suka menggangsir, mereka hidup di gorong-gorong. Bahkan sedalam dua meter.”

Apakah ada CCTV di kawasan itu? “kamera untuk lalu-lintas ada. Kalau CCTV saya tidak tahu. Mungkin Pemprov atau gedung punya,” kata Pak Sadiyono.

Saya teringat ketika Kapolda Metro Jaya mempresentasikan hasil rekaman CCTV dari Gedung Jaya, ketika terjadi serangan Bom Jl MH Thamrin.

Buat meyakinkan dan memperkaya informasi, Rabu siang, 2 Maret, saya menelpon Letnan Jendral TNI Agus Sutomo. Kini dia Komandan Sesko TNI di Bandung. Pada tahun 2011, di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mayjen TNI Agus menjabat Komandan Pasukan Pengaman Presiden. Tahun 2014, Agus menjabat Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya.

“Mungkinkah ada sabotase untuk menyebabkan banjir di sekitar Istana, termasuk dari orang yang meninggalkan kulit kabel di gorong-gorong? Bagaimana mungkin? Itu kan Ring 1? Demikian pertanyaan saya ke Letjen Agus. Ini pertanyaan yang banyak mengemuka di media sosial juga.

“Wilayah Ring 1 di darat, sebenarnya hanya mencakup kawasan Istana Presiden. Bahkan Kantor Sekretariat Negara itu tergolong Ring 2. Tapi karena menempel dengan Istana, kami jadikan sebagai semi Ring 1,” kata Agus. Untuk wilayah udara, yang dimaksud Ring 1 adalah dalam radius 1 kilometer dari Istana.

Jadi, kata Agus, pengamanan di sekitar Istana termasuk di kawasan Jl Medan Merdeka Selatan dan sekitar Monas, diserahkan ke Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya. “Terutama polisi,” kata Agus.

Sebagai mantan Danpaspampres dan juga Pangdam Jaya, Agus memahami bahwa banjir bisa menggenangi Istana jika kali di belakang Istana meluap, sebagaimana yang pernah terjadi.

“Ketika Pangdam saya mengikuti betul bagaimana arus air jika pintu air Manggarai dibuka, mecahnya ke tiga aliran sungai termasuk yang di belakang Istana,” kata Agus. Sistemnya menggunakan klep, sehingga air dari gorong-gorong di sekitar kawasan itu bisa mengalir ke kali, tetapi tidak sebaliknya.

Pendapat Agus sama dengan Kapolda Tito. Kemungkinan besar kulit kabel itu peninggalan lama. Tidak diperiksa secara seksama selama ini, tahu-tahu ada genangan. Lantas ada kekhawatiran genangan membuat Istana kebanjiran. “Selama kali di belakang Istana tidak meluap, ya Istana tidak kebanjiran,” ujar Agus.

Selama dua periode pemerintahan SBY, lima kali Istana Presiden kebanjiran. Tapi seingat saya, isu sabotase tak pernah muncul.

Makanya saya ingin kali ini Ahok memastikan semua kulit kabel di gorong-gorong, atau apapun yang dianggap menjadi biang-kerok genangan di sekitar kawasan Istana Presiden bisa dibongkar tuntas. Kalau tahun 2014 pernah ada temuan, tapi tidak ada yang bisa disalahkan, maka tahun ini seharusnya isu tersebut tuntas.

Hari ini Ahok memerintahkan petugas PPSU lebih rajin mengecek seluruh saluran air.

Ini perintah yang lebih baik.

Jangan lagi sedikit-sedikit sabotase… sedikit-sedikit sabotase . Yang ini pesan untuk pecinta Ahok juga.

Dari akun Twitter humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, @Sutopo_BNPB, saya membaca kisah sedih di musim banjir kali ini. Tiga orang hanyut di sungai saat banjir Jakarta. Dua tewas (Abdul Rouf, 3 tahun dan Suhardiman, 16 tahun). Satu belum ditemukan.

Kita heboh soal kemungkinan sabotase dari kulit kabel yang bisa menggenangi Istana dan menganggu reputasi Ahok, tapi seperti tidak peduli dengan korban jiwa yang sudah terjadi.[posmetro]
Like Fanpage kami :

Thursday, March 3, 2016

Post a Comment
close