SEANDAINYA RIO HARYANTO MURTAD DARI DUNIA BALAP



Awal dari sebuah euforia kebanggaan identitas bangsa lewat F1 bisa dikatakan salah kaprah nasional. Debut Rio Haryanto di ajang balapan F1 yang harus ditebus dengan 15,5 juta euro atau dalam kurs rupiah setara 320 milyar ini merupakan dana besar yang cukup dan turah-turah untuk membelikan santunan es cendol satu negara, atau akan lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk menguatkan ekonomi lewat pembukaan cabang warung burjo di kancah internasional.

Gagasan promosi Indonesia di mata dunia nampaknya hanya isapan jempol belaka dan selamanya akan tidak efektif jika melalui mekanisme yang main-main. Meskipun beragam dukungan dan desakan untuk mendudukan Rio masuk dalam formasi Mayor Racing terus digalang dan berhasil menuntun Rio untuk balapan, namun faktanya dalam debut perdana kemarin, bendera Indonesia malah diumpetin. Halahhhh...

Agaknya aktivitas rethinking terkait kebanggaan identitas bangsa dikancah internasional ini perlu ditinjau ulang. Pasalnya kebanggaan identitas bangsa yang seperti apa yang akan didapat tatkala anak bangsa tidak kalah cepat dalam memacu jet darat?

Mungkin saja pertanyaan ini akan ditolak mentah-mentah oleh golongan masyarakat yang butuh hiburan, terlebih akan dibenci dan dihujat jika para pengkritik tidak punya kecerdasan permisif yang hanya bisa mengaitkan F1 dengan angka pengangguran, BPJS, MEA, dan tema-tema lain yang ibarat hantu dan bikin ngantuk, padahal masyarakat cuma butuh hiburan. Hiburan!.

Saya menyarankan, Deskripsi kebanggaan identitas bangsa yang tak selesai ini sesungguhnya tak perlu dikait-kaitkan dengan kondisi terpuruk bangsa. Masyarakat tidak akan peduli dengan hutang negara yang terus meledak, masyarakat hanya butuh hiburan saja. Sekali lagi, hiburan!

Namun apabila pembahasan ini kita bawa pada ranah seberapa penting nasionalisme/partiotisme dan kita tinjau dari kacamata keislaman kita, tentu lebih beradab dimata masyarakat yang senang jingkrak-jingkrak. Peninjauan ini akan membuktikan bahwa ikatan nasionalisme/patriotisme yang derivatnya adalah munculnya kebanggaan berbangsa yang sulit terdefinisi ini merupakan ikatan rendah. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dengan jernih menjelaskan nasionalisme ini dalam bukunya, Nizham al-Islam, beliau membedakan nasionalisme/kebangsaan dengan patriotisme.Meskipun sama-sama lahir dari naluri mempertahankan diri. Dalam patriotisme, perasaan yang dominan adalah upaya untuk mempertahankan diri dari ancaman luar, sementara dalam nasionalisme yang dominan adalah keinginan yang muncul dari kecintaan akan kekuasaan, terutama atas bangsa-bangsa lain.Pada awalnya keinginan mempertahankan diri atau mencintai kekuasaan adalah sah-sah saja. Namun kemudian, ia menjadi berbahaya tatkala dijadikan sebagai ikatan untuk mempersatukan manusia atas dasar ras/etnik sebagai sesuatu yang paling suci dan paling tinggi. Begitulah kira-kira penjelasan secara ngilmiyahnya. Hal inilah yang menjadi ibrah mengapa Nabi Muhammad melarang Ashobiyah (Sifat berbangga berlebihan terhadap golongan) lewat sebuah hadits : "bukan termasuk ummatku siapa saja yang menyeru pada Ashobiyah".

Andai saja Rio Haryanto bersegera murtad dari dunia balap lantas belajar hakikat kebanggaan yang halal sesuai islam, kemudian menyeru para fans yang kadung memuji karena sisi relijiusnya Rio, tentu kebanggaan yang muncul dimasyarakat hanyalah kebanggaan Islam saja.

Sebuah Dagelan dari : Aab El Karimi Penulis Buku Gerakan Menolak Sembrono!
Like Fanpage kami :

Monday, March 21, 2016

Post a Comment
close