SEMUA SERBA CHINA




Kehadiran produk dan orang China di negeri ini  kian terasa. SSC, Semua Serba China. Mulai dari investasi alias utang, produk elektronik, semen dan pabrik semen, tenaga kerja, semua sudah “made in China”. Seolah Republik Indonesia ini merupakan bagian dari Republik Rakyat China.

Di sektor investasi, tanggal 15 September 2015 lalu, Bank Pembangunan China (China Development Bank/CDB) memberikan pinjaman kepada Indonesia senilai US $ 3 milyar dengan jaminan tiga Bank milik Negara yaitu Bank Mandiri, BRI, dan BNI.  Dari total pinjaman tersebut, masing-masing Bank BUMN ini menerima pinjaman sebesar US$ 1 milyar dengan jangka waktu sepuluh tahun.

Di hari yang sama, juga dilakukan penandatangan pemberian utang oleh Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Indonesia dengan BTN senilai 5 milyar Yuan (Rp 10 trilyun) untuk membiayai perumahan dan infrastruktur.

ICBC juga memberikan utang senilai US $ 500 juta kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Eximbank), guna mendorong perdagangan luar negeri dan pembangunan infrastruktur Indonesia.

Ini menang sesuai dengan MOu sebelumnya. Bahwa CDB dan ICBC menyetujui pinjaman sebesar US$ 50 milyar (sekitar Rp 700 trilyun) kepada Indonesia.

Arus utang China ke Indonesia memang cukup deras. Di bulan Januari 2016 saja, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis  komitmen investasi China  tumbuh hingga 1.564 %.   Yakni senilai  US $ 1.8 milyar atau menyumbang 23 % dari total investasi yang masuk di bulan Januari.

Sektor otomotif, gabungan perusahaan asal China, SAIC Motor Corp dan Liuzhou Wuling, telah menanamkan dana investasi senilai US$ 700 juta untuk mendirikan pabrik LCGC di atas lahan 60 hektar di kawasan industri Deltamas, Cikarang, Bekasi. Dari potensi pasarnya, pabrik di Indonesia ini ditargetkan akan memproduksi 150.000 unit mobil per tahun dan dipasarkan dengan merek Wuling (carbay.co.id). Tahun 2017 direncanakan akan hadir di jalan raya Indonesia.

Jika dicermati secara mendalam, paket Ekonomi  “made in China” ini sangat berbahaya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, ekonomi Indonesia sesungguhnya menjadi tumbal dari perekonomian China yang lagi bermasalah.  Ekonomi China sesungguhnya lagi bermasalah seiring dengan krisis ekonomi dunia.

Krisis di China diawali dengan krisis finansial dan pasar saham. Krisis tersebut dimulai pada tahun 2014, dan semakin terasa di tahun 2015. Bencana yang dialami China tidak terbatas di sektor pasar finansial, namun merambat ke sektor industri, dan tingkat pengangguran yang tinggi.

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menyatakan: “Pemerintah seharusnya  tidak sekedar menjadi "tong sampah" atas melimpahnya kapasitas industri di Cina.  Pemerintah seharusnya tidak terlena dengan pinjaman yang diberikan oleh Cina. Karena, saat ini kondisi perekonomian Cina tengah dalam kondisi yang tidak baik.  Tiongkok itu kan ekonominya sedang terjerembab," kata Faisal.

Menurut Faisal, saat ini terjadi kelebihan kapasitas pada industri di Cina. Oleh karena itu, mereka harus membuang kelebihan kapasitas tersebut ke seluruh dunia."Terjadi massive over capacity dari industri (Cina), dia harus salurkan itu kelebihan kapasitasnya ke seluruh dunia. Jangan mau kita buat buang sampahnya Tiongkok dong," ungkap Faisal.(suara-islam.com).

Termasuk proyek kereta cepat yang menyulut banyak kontra. Proyek ini perlu bahan baku, barang modal, dan tenaga kerja. Dan pada kenyataannya semua faktor produksi itu  didatangkan dari China.

Sehingga wajar akhir-akhir ini kita juga dibanjiri ribuan tenaga kerja dari China.  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan, puluhan ribu pekerja asal Tiongkok sudah membanjiri Indonesia. Di  Banten   ada 30 ribu, dan di Sulawesi tenggara ada  6.000 pekerja. Kondisi ini sangat merugikan karena pada saat yang sama di Indonesia justru terjadi PHK besar-besaran.

Dalam jangka panjang, paket ekonomi China ini hakikatnya adalah bentuk nyata penjajahan ekonomi. Investasi yang ditanamkan bukan gratis, tapi harus dibayar dengan bunga.

Salamuden Daeng menyebutkan, jika  Proyek yang dialirkan ke Indonesia dalam bentuk utang/pinjaman kepada BUMN-BUMN di Indonesia dengan invest senilai 5,5 miliar dolar dengan usia kelayakan proyek selama 40 tahun. Pada tingkat bunga 5 % dan kurs Rp. 13.800/USD, maka rakyat Indonesia/para penumpang kereta cepat akan membayar dalam jangka panjang dalam bentuk bunga senilai Rp. 180 triliun, dan pengembalian pokok utang senilai 75 triliun. Secara keseluruhan rakyat Indonesia akan membayar kepada Cina senilai Rp. 255 triliun.

Pinjaman  atau utang dengan jaminan 3 BUMN besar (Bank Mandiri, BRI, dan BNI), secara tidak langsung adalah proses pengambilalihan BUMN tersebut oleh China. Karena jika Indonesia tidak mampu membayar utang sesuai dengan tempo perjanjian, otomatis BUMN tersebut beralih kepemilikan.  Dan sampai saat ini, negeri ini jangankan berhasil melunasi utang, yang ada adalah terus dan terus berutang. [H Lutfi Hidayat]
Like Fanpage kami :

Monday, March 21, 2016

Post a Comment
close