Kisah Lengkap Mantan Model yang Merasa Terbebaskan Berkat Islam


www.dakwahmedia.net - Membaca kisah Sara Bokker, sekilas mengingatkan kepada kita tentang takluknya hati Umar bin Khatab di hadapan bacaan Alquran. Ya, mantan mantan aktris dan model asal Amerika Serikat ini menemukan hidayah Islamnya saat membaca Alquran.

Padahal, publik AS tak asing dengan latar belakang gadis kelahiran AS itu. Sara, seperti gadis Barat pada umumnya, ia adalah perempuan trendi dan terbiasa hidup glamor.  Demi menuruti gaya hidup glamornya, Sara memutuskan pindah ke Florida dan Miami. Kedua tempat ini dikenal sebagai surga para penikmat dunia dan pencari glamoritas.  

Tahun-tahun berlalu, kehidupan glamor Sara terus berlanjut. "Saya adalah budak fashion. Sandera untuk penampilan saya sendiri," ujarnya. Kehidupan glamor yang dilalui Sara Bokker berdampak pada gaya hidupnya. Ia bergantung pada alkohol.

Gaya Hidup
Menyadari gaya hidup pribadinya sudah melampaui batas, Sara berniat untuk terbebas dari ketergantungannya pada minuman beralkohol.  Ia mengikuti meditasi dan beberapa kegiatan keagamaan. Tapi, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan tidak berdampak efektif terhadap kehidupan pribadinya.

Selain berprofesi sebagai publik figur, Sara Bokker juga menjadi aktivis relawan. Ia terlibat dalam pergerakan feminisme. Ia bergabung dalam kampanye terkait reformasi pemilu dan hak-hak sipil. Kegiatan ini menyita banyak waktunya. Ia belajar mengenai keadilan, kebebasan, dan rasa hormat. Namun, yang paling penting, ia belajar bahwa dibutuhkan iman untuk melihat dunia.

Suatu hari, Sara menemukan sebuah buku yang menggambarkan hal negatif terkait Alquran. Di Barat Islam memang dikenal dan dikaitkan dengan terorisme, poligami, dan perempuan yang terisolasi.  Namun, perjumpaannya dengan pria Muslim sesama relawan justru memberikannya gambaran berbeda tentang Islam.

Kisah Nabi Muhammad
Dari interaksi tersebut, Sara mendapat cerita tentang Nabi Muhammad SAW, murid-muridnya, dan kemajuan Islam.  Sara mengaku tertegun mendengar cerita-cerita ini. Ia mulai terpesona dengan Islam dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak melalui Alquran.

Saat mulai membaca Alquran, Sara merasakan makna yang begitu dalam bagi jiwanya. Ia merasakan apa yang belum pernah ia rasakan di keyakinannya terdahulu. Hatinya merasa tersentuh.

Dari sinilah, ia pertama kali berkenalan dengan kitab suci umat Islam tersebut. Sara mulai tertarik gaya dan pendekatan Alquran. Ia melirik isi Alquran seputar kehidupan, penciptaan, dan hubungan antara Pencipta dan makhluk-Nya.

Sebagai seorang aktivis perempuan, Ia merasa Islam adalah tempat untuk menyalurkan ide-idenya untuk pemberdayaan Muslimah. Ia akhirnya memutuskan masuk Islam pada Januari 2003 saat berusia 29 tahun.

Syahadat dan Hijab
Sejak berikrar syahadat, Sara akhirnya memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah, lengkap dengan jilbab. Perubahan penampilan ini membuat beban berat Sara terasa langsung terangkat dari pundaknya.

Ia tidak lagi berfoya-foya, berbelanja, berdandan, menata rambut, dan bekerja. Ia merasa bebas dari tempat-tempat nongkrongnya selama ini. Ia merasakan kedamaian saat berjalan di jalanan yang sering ia lalui sehari-hari dibanding kala mengenakan baju-baju seksi.

Ia merasa, hal yang telah membelenggunya telah lepas dan ia merasa bebas. Padahal, ia heran mengapa selama ini mereka melihatnya dengan busana seksi, seperti ekspresi singa menemukan mangsa. "Saya sangat senang dengan penampilan baru ini," tuturnya.

Hijak tak langgar HAM
Tak lama setelah berhijab, beberapa aktivis dan tokoh lainnya mengutuk busananya itu. Hijab dituding melanggar hak asasi manusia dan menindas perempuan. Hijab dianggap hambatan interaksi sosial.

 Ia sempat merasa kesal dengan aksi aktivis yang terlalu terburu-buru mengatakan hijab melanggar hak asasi perempuan. Padahal, beberapa negara lain tidak mempermasalahkannya.

Menurutnya, para aktivis harus menyadari bahwa hak-hak perempuan berhijab sering dirampas. Seperti bekerja, memperoleh pendidikan, dan lain sebagainya. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh aktivis tersebut.

Ia mengaku tetap aktivisi feminisme kendati telah berislam. Tetapi, seorang feminis Muslim, memiliki tanggung jawab memberikan semua dukungan yang mereka bisa untuk suami mereka. Muslimah, juga memiliki tanggung jawab membesarkan anak-anak.

Hijab Simbol Kehormatan Perempuan
Menurutnya, Muslimah juga harus mampu menyerukan kebaikan dan menghalang kejahatan. Berani berbicara kebenara melawan penyakit masyarakat.  Muslimah mesti pula memperjuangkan hak perempuan lain yang ingin mengenakan jilbab. "Mau atau tidak mau, perempuan dibombardir dengan gaya berpakaian yang modern, hampir di seluruh dunia," katanya.

Sebagai mantan non-Muslim, ia menuntut hak perempuan untuk sama-sama tahu tentang hijab, kebajikan, kedamaian, dan kebahagiaan.

Ia mengatakan, kemarin, bikini adalah simbol dari kebebasannya. Walaupun dalam kenyataannya itu hanya membebaskannya dari spiritualitas dan nilai sebenarnya sebagai manusia terhormat.

Hari ini, hijab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk menemukan siapa dia, apa tujuannya, dan hubungannya dengan Pencipta. [RO/DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Monday, April 18, 2016

Post a Comment
close