Kisah mengharukan Taubatnya Bobotoh Fanatik PERSIB menjadi Penyeru Syariah


Assalamualaikum, nama saya Derri Sendiawan. Saya ingin menceritakan perjalanan hidup sebagai seorang supporter dan kemudian saya diberi hidayah oleh Allah.

PERSIB BANDUNG. Nama itu sudah menjadi bagian dari hidup saya, nafas saya, kebanggan saya, darah daging saya. Ya mungkin berlebihan saya mendukung tim kesayangan saya tersebut. Sebuah totalitas loyalitas dan kecintaan saya terhadap pangeran biru saya buktikan dengan menonton setiap pertandingan-pertandingannya.

Jangan tanya kalau main di Bandung pasti saya pergi ke stadion. Namun tak jarang saya pun pergi keluar kota seperti Surabaya, Jepara, Jogja, Tanggerang bahkan sampai ke luar pulau. Semua itu saya lakukan utk satu tujuan yaitu mendukung persib pangeran biru.

Namun apa yg terjadi saya harus beberapa kali bentrok dengan supporter lawan, pihak kepolisian sampai harus dilarikan ke RS. Saya tidak rela kalau Persib dihina dan dilecehkan orang lain. Apapun, siapapun akan saya lawan.

Di Bandung pun saya dan teman-teman dikenal dengan nama HOOLIGANS FROM BANDUNG. Artinya PERUSUH DARI BANDUNG, karena tiap kali Persib menelan kekalahan pasti saya dan teman-teman bakal merusak kota sendiri. Hehe.

Dan paling mengerikan ketika saya pergi ke Jakarta dalam mendukung Persib lawan Persija. Saya dipukuli, disiksa, dsb. Beruntung saya tidak mati waktu itu. Saya sempat melarikan diri dengan menumpang metro mini sambil berlumuran darah. Kejadian itu saya balas di Bandung. Ketika bus yg ditumpangi pemain Persija datang, saya lempar kacanya hingga pecah. Sesudah itu kami bakar bus mereka. Bambang pamungkas, Ismed Sofyan menjadi korban atas perbuatan saya.

Tidak sampai disitu, nada-nada dan lagu-lagu pun kami (Viking) lantunkan utk menghina Persija. "Lalalalala the jak an**ng, the jak an**ng.  Viking Bonek sama saja asal jangan the jak. The jak itu an**ng. Meletus balon orange daar! Hatiku sangat senang. Balonku tinggal biru, kupegang erat-erat." Begitulah lagu-lagu yang kami lantunkan utk membuat kuping pemain Persija panas.

Persib atau Mati, itulah sloganku.

Dan pada tahun 2006, saya merasa bosan dengan kehidupanku. Saya merasa ada yang hilang. Apa itu? Ketenangan jiwa. Saya mulai mencari jati diri. Saya muak dengan kehidupan saya. Tapi aneh, tidak ada seorangpun yang berani mengingatkan saya. Beruntung, di kampung saya ada tabligh akbar Ust. Hari Mukti. Saya coba simak isi ceramahnya. Namun masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Teman-teman di kampungku coba mengajak saya untuk ngaji. Tapi apa jawaban saya, "Kumaha aing we an**ng!" (Gimana saya saja an**ng (sangat kasar), red.). Naudzubillah!
Dan akhirnya, adiknya Ust. Hari Mukti pun mengakses saya supaya ikutan ngaji. Jawaban saya pun tetap sama seperti diatas. Namun saya salut dengan beliau yang tak pernah menyerah. Dia berkata kepadaku. "Der, untuk apa kamu hidup didunia ini? Darimana kamu diciptakan? Kemana kamu setelah mati? Pertanyaan itu membuat saya tersentuh. Sampai-sampai kebawa mimpi. Di dalam mimpi saya, saya berada di tempat yang sangaaaat gelap. Tapi kemudian datanglah beliau.

Saya lupa memperkenalkannya. Namanya Ustadz Mukti Chandra. Beliau membawa saya dari tempat gelap itu ke tempat yg penuh dengan cahaya. Dari mimpi itu saya mulai berubah. Saya coba dekati beliau dengan penuh rasa malu. Akhirnya saya pun turut mengkaji Islam. Tanggal 12 Agustus 2007 saya diajak ke Jakarta untuk mengikuti Konferensi Khilafah Internasional. Saya bingung acara apaan ini?  Sesudah itu beliau pun menjelaskannya.

Lama-kelamaan saya pun faham, kalau Islam bukanlah agama ritual belaka. Islam harus diterapkan di seluruh aspek kehidupan tanpa terkecuali. Akhirnya saya pun ikut halqah pada tahun berikutnya. Dari sinilah pemikiran saya, perasaan saya, kepribadian saya mulai berubah. Namun saya bersedih karena teman-teman saya yang dulu mengajak saya mengaji malah mereka berhenti. Ya Allah!

Saya coba dakwahkan Islam ke orang-orang yang saya kenal, malah mereka menertawakan saya, menghina saya, mengatakan saya sesat. Saya pun marah kepada mereka. "Hai, kenapa kalian dulu mendiamkan saya dalam kemaksiatan? Kenapa dulu kalian menyuruh saya taubat? Tapi setelah taubat saya disebut sesat?" Dari tahun ke tahun saya terus istiqamah dalam berdakwah. Apapun yang akan terjadi pada saya, saya tak peduli.

Alhamdulillah, saya coba dakwahkan Islam ke teman-teman saya di viking. Akhirnya beberapa orang bisa menerima saya. Bahkan mereka pun turut ikut halqah.

Kini saya tergabung dalam syarikah HIZBUT TAHRIR INDONESIA. Yah, walaupun statusnya masih pelajar. Saya bersyukur karena Allah telah menunjukan jalan bagi saya. Saya takkan menyia-nyiakan nikmat iman ini. Saya berniat menjadi salah satu dari pejuang khilafah garda terdepan.

Namun saya masih bingung kenapa kecintaan saya terhadap Persib belum juga hilang? Saya merasa sedih jika Persib kalah. Saya merasa senang jika Persib menang. Yah, sekarang saya hanya melihat Persib lewat layar kaca. Hehe.

Saya berjanji akan mencoba menghilangkan rasa cinta (ashobiyah, red.) saya kepada persib. Saya berjanji akan terus istiqamah dalam perjuangan mengembalikan izzah Islam dalam naungan khilafah. Walaupun saya dihina, dibenci, diboikot. Apapun ancamannya akan saya hadapi. Insya Allah.

Saya menghimbau kepada teman-teman di VIKING supaya meninggalkan fanatisme yang berlebihan. Karena barang siapa yang mati karena membela ashabiyah, maka sungguh dia telah mati jahiliyah.

Saya mohon kepada teman-teman, supaya saya diberi kekuatan untuk tetap istiqamah dalam perjuangan ini. Saya mohon do'a dari teman-teman semua. Saya sangat merindukan kehadiran seorang belahan jiwa utk menguatkan perjuangan dakwah ini sampai ajal menjemput.

Sekali lagi saya mohon dukungan dan do'a dari teman-teman syarikah.

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.

Sumber: http://bluehooligans-persib.blogspot.co.id/2012/02/perjalanan-hidupku.html
Like Fanpage kami :

Thursday, April 7, 2016

Post a Comment
close