MAHASISWA DAN BERAGAM GELAR BUALAN


www.dakwahmedia.net - Kalau kita mendengar sebuah istilah yang familiar pada saat ini tentang beragam gelar yang disandang oleh mahasiswa, sejatinya kita tengah disibukan dengan sejarah heroik yang usang, yang tidak lagi bisa kita temui selain dari literasi sejarah pergerakan babon. Istilah yang santer diteriakan semasa ospek; agent of change, agent of sosial control, iron stock, moral force, merupakan jargon sakti yang tak lebih hanya sekedar bualan. Sebagian besar, kalau tidak dikatakan seluruhnya, mahasiswa yang menghuni bangsa saat ini adalah hasil penandatangan masal dari deklarasi gelar yang membelakangi peran. Hal ini menjadikan bahwa gelar adalah gelar, dan peran, meskipun tak sesuai dengan gelar, tidak menjadi masalah berarti karena posisi kita yang masih menjadi mahasiswa.

Tentu saja, mahasiswa bukanlah baju pramuka anak SMP yang penuh dengan beragam emblem dan tempelan. Gelar yang sejatinya menempel harus dipertegas; dibuang atau dikalungkan. Dan tujuan kita menelanjangi beragam gelar ini secara kasat mata bisa dikerucutkan bahwa gelar bagi mahasiswa itu adalah dampak dari keberpihakan pada hal-hal yang baik dan penolakan pada hal yang buruk. Namun tentu tidak hanya sampai di sini, peran mahasisiwa yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan padunya antara laju gerak dan misi kebangkitan Islam inilah yang menyebabkan kita pantas menyandang gelar dan bukan kita teriakan sendiri.

Sesungguhnya pengertian dari gelar yang masih dijadikan jargon oleh banyak mahasiswa saat ini adalah ketika generasi muda menjadi pionir utama dalam sebuah arus besar kebangkitan. Arus besar kebangkitan inilah yang saat ini masih sebatas kidung-kidung lawas yang diputar berulang-ulang, didoktrinkan pada masa ospek, dan teriakan ‘Hidup Mahasiswa!’ menjadi jargon sakti yang berpengertian lain, membelakangi, dan mengkhianati.

Kalau kita menyelami realitas yang terpampang jelas dihadapan kita, dimana para mahasiswa menyelupkan mimpi-mimpi masa depan dalam satu pengkerucutan konsep yang mainstream berupa penggandaan materi dan memperebutkan kesenangan hidup, tentu membongkar hal ini menjadi lebih berarti dibanding deretan ruang kelas dan ceramah kuliah. Hal ini mengapa penting? Kita dengan mata telanjang bisa mengerti bahwa angka aborsi generasi muda semakin tinggi, seks bebas menjadi budaya, darah yang tumpah menjadi biasa, tiupan terompet generasi muda untuk menyambut pemimpin baru semarak sekali, dan hujatan untuk melengserkannya pun ramai dilakoni. Arus dekadensi ini semata-mata karena generasi muda hampir lupa meletakan tujuan hidup yang terbelokan kepada aspek materi semata, yang disebabkan naluri untuk menyenangi sesuatu dibiarkan begitu saja tanpa parameter. Maka akan menjadi sangat menarik dan menggairahkan sekali ketika ada sumbu yang membebaskan sebebas-bebasnya dan membakarnya sehebat-hebatnya. Tentang hal ini, mengutip apa yang dikatakan Sayyid Quthb bahwa

‘Saat jiwa seorang manusia telah sengaja merendahkan dirinya kepada salah satu ambisi nafsu tubuh, maka sejatinya akan menjadi lemah dan tidak berdayalah ia untuk bergantung di udara merdeka dan bebas’.

Bisa dikatakan generasi muda yang seperti ini akan melekat pada tanah bumi dengan kecemasan besar ketika ada yang membicarakan kematian dan ancaman yang menggoyang eksistensinya, namun hal itu hanya sepintas melesat dalam benak, lekas itu mereka lebih memilih tercebur kepada lumpur kotor dan merasa bangga dengan hiruk pikuk urusan ambisi nafsu tubuh. Karena itu, apapun yang mendasari mimpi para mahasiswa sebagai generasi muda, jika masih berupa aspek materi sejatinya adalah budak. Tujuan-tujuan yang serempak disepakati ini akan laku ketika sebuah peradaban manusia telah kosong dari keinginan dan kemampuan untuk memerjuangkan kebenaran. Kalau dunia ini telah diisi generasi muda seperti ini, maka jangan pernah tercengang dan bersikap biasalah ketika nantinya lahir di tengah-tengah bangsa, para penulis, intelektual, pebisnis, penyajak, sutradara, artis, dan politisi-politisi mengisi suatu dunia yang telah kosong akan pemaknaan terhadap kebenaran. Mereka inilah yang kembali menebarkan momok yang paling menakutkan; sejarah kelam umat manusia ketika manusia dididik untuk saling bersaing dan berseteru hanya demi pertarungan memperebutkan dengus babi besar --maksudnya, sibuk berebut ketidakpastian yang padahal sudah jelas keharamannya.

Saat semua ini berjalan tanpa dipersalahkan, hanya pada waktu inilah manusia mulai mendengarkan dan menonton para penulis, intelektual, pebisnis, penyajak, sutradara, artis, dan politisi-politisi ini tampil, karena mereka membantu sebagian besar rakyat untuk menjadi panutan dalam menggambarkan mimipi-mimpi mereka, perasaan mereka, dan menyajikan pada mereka bahwa melabuhkan hidup pada selangkangan dan kenyangnya perut itu lebih baik daripada keteguhan dalam memegang prinsip untuk menuju suatu kebangkitan. Ya, mereka para penulis, intelektual, pebisnis, penyajak, sutradara, artis, dan politisi-politisi ini mengafirmasi sebagian besar rakyat bahwa lebih baik hidup dengan tenang dan tentram, mengikuti alur yang sudah ada, menunggu semua yang akan terjadi dengan menghabiskan seluruh umur yang tersedia dalam kekosongan, menjaga perut untuk tetap kenyang dan hidup awut-awutan dalam bingkai moral yang bejat dan keyakinan yang rapuh.

Maka jelas, yang kita butuhkan saat ini adalah rekonsiliasi di tengah himpitan kekesalan yang sudah sampai membuat ubun-ubun mendidih. Peristiwa getir yang setiap hari melanda dan memporak porandakan umat, dimulai dari kebijakan represif yang lahir, akidah yang dikikis siaran sinting televisi, isu-isu nasional yang rentan konflik, dan dominasi asing yang melumat kepentingan umat ini, arus panasnya harus tetap terjaga di kepala kita kemudian kita alirkan secara merata ke setiap bagian tubuh sehingga mampu melahirkan pola sikap dan pola pikir untuk keluar dari keterpurukan.

Sebagian mahasiswa dalam menanggapi keadaan krusial ini telah secara malas menenggerkannya sebagai hal yang biasa dalam hidup diiringi dentuman slogan-slogan bullshit yang nyaring diteriakan; hiduplah seperti air yang mengalir blah.. blah.. blah... Kalaupun persoalan ini dianggap penting, nyatanya hanya sekedar masuk daftar agenda organisasi untuk sebuah acara diskusi yang penuh gelak tawa dan ah…. picisan sekali!.

Adapun keberadaan mahasiswa yang lain dalam perkumpulannya hanya sekedar memenuhi hasrat besosial saja, mereka masih saja merasa bahwa menjadi aktivis mahasiswa hanyalah masuk organisasi kemahasiswaan, melakukan bakti sosial dan mengadakan acara-acara besar semata. Lantas apa beda antara organisasi mahasiswa sebagai pergerakan intelektual dengan LSM atau Event Organizer?
Dengan melihat fenomena ini lebih dalam, maka benarlah apa yang dikata Sithok dalam sajaknya ketika kondisi sebuah bangsa dan generasinya kolaps,

“Sungguh kasihan, sebuah bangsa yang diam, bergerak ke kuburan, tidak menawarkan apapun selain keruntuhan, dan tidak berontak ketika lehernya diletakkan antara pedang dan balok tatakan”

Bisakah semua ini dituntaskan hanya dengan mengadakan acara-acara hiburan di kampus? Atau pun mengasah nilai kemanusiaan lewat agenda bakti sosial dengan menapikan siapa sebenarnya yang memiskinkan, konsep yang seperti apa yang ideal, bagaimana langkah pencegahan dan pengontrolan ketat yang akan menghasilkan perubahan? Dan inilah yang sejatinya terkandung pada misi kebangkitan.

Maka menjadikan tudingan ini sebagai gelar bagi generasi muda Indonesia adalah suatu proses panjang dan berat. Kita harus berawal dari memerangi penyebabnya. Penyebab itu manakala mahasiswa Islam bersolek dengan ide-ide kufur dan lepas dari ikatan diin ini. Untuk itu kita harus memula memerangi jiwa-jiwa budak yang terkapar hanya karena diiming-imingi sales atau agen MLM yang menawarkan segunung kekayaan. Kita harus melawan konsep hidup materialisme dan menggantinya dengan ideologi yang benar. Islam. Karena pada dasarnya manusia akan dikatakan manusia ketika ia dapat meninggikan diri dari penyembahan terhadap materi, pengagungan terhadap idola di televisi, menjadi hanya kepada Tuhan yang telah menciptakan kita, menjelaskan aturan-aturannya melalui kitab yang telah diturunkan, kemudian kita dengan segenap raga menjalankannya. Inilah yang disebut pembebas perbudakan yang sesungguhnya, sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan tidak menimbulkan kegundahan. Ini semua ketika dipahami setiap generasi muda akan meretaskan batas-batas perpecahan yang selama ini menjadi pemicu konflik dan pengkotakan kavling atas dalih ‘national state’ atau pun kepentingan lain yang bernada sentimen kelompok. Pada akhirnya, nyatalah bahwa penyebab kemandulan mahasiswa Islam terletak dari berlepasnya mereka pada diin ini. Islam.

Aab Elkarimi
Like Fanpage kami :

Saturday, April 2, 2016

Post a Comment
close