Menghinakan Diri Untuk Dunia?


Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (3/3/2016).

#Komentar;
Al Falah dan Pengelolanya menunjukkan kehinaan yang luar biasa di hadapan Allah, Rasulullah, kaum Muslim dan manusia seluruhnya. Bahkan mereka menghinakan diri dihadapan orang yang hina dihadapan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu hajar Al Haitami (المتوفى: 974هـ) diberikan pertanyaan Fatwa;
Bolehkan bagi seorang muslim, Menciumi tangan kafir harbi, Juga berdiri menyambutnya dan menyalaminya dan melakukan penghormatan kepadanya yang mana hal itu di lakukan untuk memperoleh uang darinya? Jika anda berpendapat tidak boleh, Maka apa yang akan berdampak kepadanya juga yang wajib baginya?

Beliau menjawab:
Bagi orang muslim tidak boleh mengagungkan orang kafir dengan cara tersebut dan sebagainya. Barangsiapa yang melakukannya untuk memperoleh harta si kafir, Maka dia merupakan pendosa yang bodoh. Bagaimana tidak? Sedangkan Nabi Shollallahu alaihi wasallam telah bersabda; “Barangsiapa yang tawadlu’ kepada orang kaya karena kekayaannya, Maka hilanglah dua pertiga agamanya”. Jika tawadlu’ terhadap sesama muslim yang kaya saja dapat menghilangkan dua pertiga agama, Apalagi tawadlu’ terhadap orang kafir? Wallahu alam. (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubro)

Persoalan toleransi bukan dengan seperti ini. Ini bukan toleransi tapi menghinakan diri dihadapan orang Kafir. Termasuk menempatkan/menerima Orang Kafir ke Masjid. Ini jelas-jelas diharamkan sebagaimana Firman Allah;

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ)

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Surat At-Tawbah 28]

Selama ini sering kita dengan Ulama di Kalimantan Selatan menyatakan, yang dicium tangan nya itu adalah karena keilmuan Keislaman, karena dia Ulama, bukan karena harta atau kekayaan. Hari Tanoe itu sama sekali bukan Ulama, dia itu Orang Kafir.

Inilah realitas jika Ulama tidak mengerti dan tidak memiliki kesadaran Politik. Akan mudah terjerumus dan memjerumuskan. Akhirnya dengan sangat mudah terbeli oleh secuil harta demi untuk menghinakan derajatnya atas orang-orang Kafir.

Imam al Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin, juz 2, hal.357:

ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر

“Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ‘ulama. Adapun kerusakan ‘ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapa saja yang digenggam oleh cinta dunia niscaya tidak mampu menguasai ‘kerikilnya’, bagaimana mungkin dapat mengingatkan penguasa dan para pembesar.”

Kita menunggu suara para Ulama Kalimantan Selatan untuk mengkritisi dan saling menasehati atas aib ini?

Oleh : H Luthfi H

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Thursday, April 28, 2016

Post a Comment
close