PRO-RAKYAT, PRO-PASAR, PRO-POOR ?


Apakah makna kalimat bahwa "Negara ini harus pro-rakyat" atau bahkan "Negara Khilafah nanti adalah pro-rakyat" ?

Apakah para pengusaha, pegawai negeri, tentara dan profesional (seperti para dokter) itu bukan rakyat?

Ayolah. Move Up ! Jangan terjebak dogma kaum sosialis apalagi komunis yang memang didoktrin untuk mewujudkan perjuangannya melalui pertentangan kelas! Seolah-olah, para pengusaha, pengawai negeri, tentara dan profesional itu tidak termasuk rakyat.

Islam adalah agama yang adil untuk seluruh manusia. Jadi tidak perlu membuat pertentangan yang tidak syar'i. Yang ada hanya pertentangan antara yang haq dan yang bathil, bukan pertentangan antar kelas. Jadi hindari penggunaan jargon yang sudah ternoda di ideologi sosialis.

Demikian juga jargon kapitalis pro-pasar! Maka seolah-olah aktivitas yang tidak memiliki nilai materi, seperti aktivitas ibadah, aktivitas kemanusiaan atau aktivitas lingkungan itu anti pasar.
Islam adalah agama yang mendudukkan seluruh nilai-nilai (qimah) secara adil dan tuntas. Tidak ada yang lebih didulukan dari yang lain.

Benar bahwa Abu Bakar dalam pidato pelantikannya sebagai Khalifah mengatakan, "Orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku, sampai aku ambil hak orang lemah yang masih ada di tangannya. Dan orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di hadapanku, sampai aku serahkan haknya kepadanya". Ini juga bukan berarti Abu Bakar itu pro-poor. Islam tidak pro-poor ataupun pro-rich, Islam hadir ke dunia untuk menciptakan keadilan di antara manusia, berdasarkan syariah.
Oleh : Prof Fahmi Amhar
Like Fanpage kami :

Sunday, April 17, 2016

Post a Comment
close