Pusham : Sebut Hak Asasi Monyet dalam Kasus Siyono, Ruhut Lecehkan Siyono


www.dakwahmedia.net - Pusat HAM Islam Indonesia (Pushami) mengecam pernyataan politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul, yang mengatakan "hak asasi monyet" bagi yang menuntut pelanggaran HAM terkait pembunuhan Densus 88 terhadap almarhum Siyono, warga Cawas, Klaten, Jawa Tengah.

"Itu merupakan bentuk pelecehan terhadap seorang muslim apalagi beliau (Siyono) sudah meninggal," ujar Aziz Yanuar, pengurus Pushami kepada Suara Islam Online, Kamis (21/4/2016).

Menurutnya, apa yang keluar dari mulut Ruhut sangat tidak mencerminkan sebagai anggota dewan di negara yang 87% lebih adalah muslim. "Ini peringatan bagi umat Islam agar kedepan tidak memilih makhluk semacam dia yang tidak memahami konsep perlindungan HAM," jelas Aziz.

Sebelumnya Ruhut memuji setinggi langit kinerja kepolisian dalam berbagai hal. Termasuk, dia tak menganggap adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam penanganan kasus terduga teroris Siyono.

Bahkan, Ruhut mengecam berbagai pihak dalam rapat dengan Komisi III yang begitu menyalahkan kinerja kepolisian dalam hal ini. Ruhut lantas mempertanyakan pelanggaran HAM apa yang sudah dilanggar Densus 88.

"Saya kecam yang datang komisi III mengatakan Densus 88 melanggar HAM, HAM apa yang dilanggar, hak asasi monyet?," teriak Ruhut dengan nada tinggi di Ruang Komisi III, Senayan, Jakarta, Rabu (20/4).

Menurutnya, Anggota Densus 88 selama ini sudah bekerja dengan sangat manusiawi. Bahkan kata Ruhut, pilihan untuk tidak memborgol Siyono karena ingin menghormati yang bersangkutan.

Namun, klaim Ruhut, diperlakukan manusiawi, Siyono malah balik menyerang aparat yang saat itu sedang menjaganya. "Tapi yang bersangkutan (Siyono), belum balik jadi orang benar, sok ngelawan, hadapilah saja itu Densus," sindirnya.

Ruhut juga mengecam dengan berbagai pihak yang selama ini kerap menyuarakan pembubaran Densus 88. Menurutnya bukan malah dibubarkan, tapi harusnya Densus diberikan penambahan anggaran.

Ruhut malah mempertanyakan mengapa Komnas HAM maupun Kontras tidak pernah memikirkan ketika ada aparat keamanan yang mati dalam menjalankan tugas. Seperti dalam operasi memburu Santoso di Poso, Sulawesi Tengah.

"Apa mereka tidak pikirkan Santoso di Poso sana, adek-adek Brimob, Densus meninggal. Bagaimana anak-anak mereka, apa ada yang membicarakan. Saya bangga dengan polisi. Kita harus terimakasih pada Densus," pungkasnya. [SI/DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Thursday, April 21, 2016

Post a Comment
close