Sang Koruptor..!


www.dakwahmedia.net - SEWAKTU kampanye lihai menjelma orator. Segala janji manis diobral semurah kolor. Katanya akan menyejahterakan ekonomi rakyat di segala sektor. Dalil yang diujarkan mampu membuka lapangan kerja dengan segala faktor. Salah satunya merasa kemampuannya setangguh traktor. Sehingga para pengagguran akan dimudahkan menemu mentor. Baik itu pengajar keterampilan wirausaha mau pun pakar bisnis yang dikutip dari lembaga kantor. Harapannya yang dihunjuk bisa memberikan tutor. Sehingga insting menangkap peluang rezeki bisa melaju kencang bagai kendaraan bermotor.

Begitu terpilih kerjaannya di gedung dewan molor. Saat ada usulan kenaikan gaji buruh justru dianggap pikiran kotor. Dalam hati muncul kekhawatiran uang negara akan sulit untuk disosor. Maklum saja mentalnya sudah terjangkit wabah virus koruptor. Sehingga segala aturan yang pro rakyat harus disingkirkan dengan mengadopsi rezim diktator. Ketika pengedar narkoba diusulkan hukuman mati lolos tanpa korektor. Begitu ada usulan pelaku Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) diperlakukan serupa langsung melakukan monitor. Padahal tindakan mencuri uang rakyat jelas sama bahayanya dengan narkoba hingga segala macam aksi teror.

Seharusnya ada usulan kepada doktor. Bila perlu dikaji pula oleh profesor. Perihal Revisi Undang-undang Tindak Pidana Korupsi atau yang biasa kita sebut Tipikor. Agar tikus-tikus berdasi diracun hingga buih di mulut tergelontor. Supaya harta haram yang dimakannya bisa bocor. Jijik sekali kalau jadi wakil rakyat tapi kelakuannya tak lebih baik dari provokator. Melakukan tindak hasut untuk kepentingan pribadi dan berlaku sebagai narator.

Kalau cuma becus bermain sandiwara kenapa tidak alih profesi menjadi aktor. Daripada di gedung senayan memerankan adegan dagelan politik sampai adu jotos yang membikin jontor. Harusnya kalau sudah terbukti melakukan tindakan anarkhis masukkan ke ruang isolator. Berikan kesempatan kepada rakyat untuk jadi promotor. Menentukan hukuman yang layak bagi anggota dewan yang kerjanya cuma imitator. Meniru pendekar padahal harusnya bisa menjadi seorang kreator. Memunculkan ide-ide yang luar biasa agar kehidupan rakyat tidak dipenuh spekulator. [Arief Siddiq Razaan]
Like Fanpage kami :

Thursday, April 7, 2016

Post a Comment
close