SEBAIK-BAIK ULAMA


قَالَ الحَسَنُ البَصْرِي: أَحْسَنُ ‏الْعُلَمَاءِ‬‬ عِلْمًا مَنْ أحْسَنَ تَقْدِيْر مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ تَقْدِيْرًا لاَ يُفْسِدُ عَلَيْهِ وَاحِدًا مِنْهُمَا بِصَلاَحِ الآخَرِ، فإنْ أَعْيَاهُ ذلِكَ رَفَضَ الأَدْنَى، وآثَرَ الْأَعْظَمَ.

Hasan Al Bashriy berkata: "Sebaik-baiknya  keilmuan seorang ulama adalah dia yang terbaik dalam  --memberikan  kadar maisyah  --untuk kehidupan dunianya dan   akhiratnya--. Porsi keduanya itu tidak dirusak dengan kebaikan yang lain.  Namun jika yang demikian cukup melelahkannya, maka sejatinya ia meninggalkannya  yang terendah (yakni dunia). Dan lebih mengutamakan yang agung (yakni akhirat).
جوامعِ الكَلِمِ ونَفَائِسِ الحِكَمِ مِن كِتَابِ المجالسةِ وجَواهرِ العِلْمِ.
*****

Dari kalimat ini kita bisa memahami bahwa ulama yang terbaik --dalam pandangan Hasan Al Bashri-- adalah ia yang terbaik dalam memberikan porsi untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhiratnya. Artinya bahwa ia memberikan dunianya --di mana ia hidup-- sesuai dengan kadarnya dan tidak memberikan kadar yang berlebihan dari keperluan hidupnya. Hal demikian sesuai dengan Firman Allah SWT:
  وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qashash 77)

Demikian juga, dia akan memberikan porsi kehidupan akhiratnya sebagaimana sesuai dengan hak-nya. Tidak menguranginya, dan tidak lebih mengutamakan kehidupan dunia atas kehidupan akhirat. Karena hal demikianlah yang dinyatakan oleh Al Qur’an.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)” (Ad Dhuha 4)

Demikian pula Firman Allah SWT,

رَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (At Taubah 38)

Karenanya, sebaik-baiknya ulama adalah dia yang memberikan kadar dunia dan akhirat dengan porsi yang terbaik. Dia tidak akan merugikan salah satunya. Dia tidak akan merugikan dunianya untuk kepentingan akhirat, demikian pula  dia tidak akan mementingkan dunia jika merugikan kepentingan akhiratnya.

Namun jika kedua hal tersebut dirasa sangat sulit dan sangat melelahkannya, ia harus mengalahkan yang dekat (yakni dunia) dan lebih mengutamakan yang lebih agung (yakni akhirat). Artinya, jika dia harus dihadapkan pada satu pilihan, antara dunia dan akhirat, dia harus mencampakkan dunia dan lebih mengutamakan kehidupan yang lebih agung, yakni akhirat. Karena dunia ini fana, sementara yang kekal abadi adalah akhirat.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
[H. Luthfi Hidayat]
Like Fanpage kami :

Sunday, April 3, 2016

Post a Comment
close