Tanggapi Pernyataan BNPT, Ust Brnard : Di Eropa dan Amerika Islam Minoritas kok Distigma Teroris Juga?


www.dakwahmedia.net - Pernyataan pejabat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut merupakan risiko agama mayoritas bila Islam selalu diidentikkan dengan terorisme dinilai sangat tendensius dan tidak sesuai dengan fakta. Padahal, di Amerika dan Eropa yang Islam menjadi minoritas, Islam tetap distigmatisasi sebagai agama teroris.

"Di Amerika dan Eropa Islam merupakan agama minoritas. Jika disana ada kasus terorisme lalu Islam distigma teroris apakah nanti akan muncul pernyataan itu merupakan risiko agama minoritas?," ungkap aktivis Forum Umat Islam Ustaz Bernard Abdul Jabbar kepada Suara Islam Online, di Jakarta, Jumat (15/04/2016).

(Baca: Terorisme Selalu Dikaitkan dengan Islam, BNPT Sebut Risiko Agama Mayoritas)

Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi ini lalu mengingatkan peristiwa yang terjadi 21 tahun silam di Oklahoma City, AS. Saat itu sebuah bom mobil meledak menghancurkan sebuah gedung kantor pemerintah. 168 orang, termasuk 19 anak-anak yang berada di pusat penitipan anak, tewas. Sementara sekira 500 orang lainnya luka-luka.

Mantan misionaris ini mengingatkan, saat itu serta merta aksi pengeboman itu disebut sebagai aksi terorisme dan tudingan diarahkan kepada Islam garis keras.

Belakangan tuduhan itu tak terbukti. Diketahui pelaku pemboman adalah Timothy McVeigh, simpatisan David Koresh, pemimpin sebuah sekte Kristen yang menyempal yang disebut Cabang David (Branch Davidian) di Waco, Texas.

Sebagai informasi, Koresh mengaku sebagai nabi kepada para pengikutnya. Dengan alasan kelompok sempalan ini menyimpan senjata gelap pada 19 April 1993, pasukan polisi federal FBI menyerbu Waco, menyebabkan David Koresh dan 74 pengikut terbunuh, termasuk sejumlah anak-anak. Dengan motif balas dendam atas serangan aparat keamanan AS kepada para pengikut aliran sesat Branch Davidian di Texas inilah Timothy melakukan aksinya.

"Setelah ketahuan motifnya, lalu pemerintah AS menyebut jika pengeboman itu tindakan kriminal biasa," ungkap Ustaz Bernard.

Tidak berbeda dengan Amerika, lanjut Ustaz Bernard, hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Pada Rabu, 28 Oktober 2015 lalu, bom meledak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten. Opini yang dibentuk pemboman itu merupakan aksi terorisme dan pelaku yang dituding adalah kelompok Islam.

Belakangan terungkap, pelaku bom Alam Sutera adalah Leopard Wisnu Kumala (26), alumni STTIKOM Insan Unggul Jurusan Manajemen Informastik Konsentrasi Informatika & Komputer angkatan 2005, yang lulus pada 2008. Leopard beragama Katolik dan dari keturunan China. Ia diketahui sangat pandai meracik bom dengan bahan peledak high explossive jenis Triaceton Triperoxide (TATP).

"Karena pelakunya bukan orang Islam, lalu Kapolri bilang saat itu pengeboman tidak ada kaitannya dengan terorisme. Motifnya pemerasan, kriminal murni. Sama kan dengan kasus Oklahoma?, tanyanya retoris.

Atas dasar fakta-fakta itulah, kata Ustaz Bernard, isu terorisme dan perang terorisme sejatinya adalah perang terhadap Islam dan umat Islam.

"Nggak ngaruh mau Islam di sebuah negara jadi minoritas atau mayoritas, karena faktanya yang disasar dalam perang anti terorisme ini ya Islam," pungkasnya. [SI/DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Friday, April 15, 2016

Post a Comment
close