Bagaimana Perubahan Damai Terjadi?


Sekitar 15 tahun yang lalu, saat saya awal mengenal HT(I), saya berusaha unk mengetahui gambaran dan membayangkan bagaimana perubahan revolusioner bisa terjadi, padahal HT(I) tidak masuk parlemen, juga tidak akan melakukan kudeta secara militer atau people power.

Dalam imajinasi saya perubahan itu kira-kira seperti ini:
HT terus berjuang secara intelektuan dan damai menjelakan islam, syariah dan khilafah secara istiqomah dan sistematis. Tentu unk itu HT(I) merasakan berbagai situasi dan kondisi. Ada saatnya tegang dan ada saatnya relax. Ada saatnya panas yg membakar, ada saatnya dingin yg membekukan. Ada saat yg mengharukan, ada saat yang menyesakkan. Setelah melewati berbagai musim, akhirnya masyarakat menyadari bahwa mereka berada dlm kekeliruan jika tetap berada dalam kapitalisme-demokrasi, dan sebagai gantinya mereka menyadari harus menggunakan syariah dan khilafah. Pemahaman itu terus bergulir dan menjadi opini di masyarakat, tentu saja di sana ada banyak orang dan organisasi yang menentang gagasan ini habis-habisan.

Pada saat yang sama masyarakat melihat dan merasakan sendiri kejahatan kapitalisme-demokrasi. Akibatnya, opini dan gagasan syariah-khilafah semakin kuat dan diterima masyarakat semakin luas.

Problem dan masalah yang dihadapi masyarakat semakin besar dan datang bertubi-tubi silih berganti tanpa pernah ada solusi. Sampai akhirnya ada masalah yang teramat besar, jika tdk diselesaikan akan berdampak pd kehancuran negeri (sy tdk tahu itu masalah apa). Negeri ini terancam huru-hara besar dan kehancuran. Pada saat itu semua solusi kapitalisme-demokrasi tdk bisa menyelesaikan, bahkan justru memperparah. Semua orang pesimis dan pasrah, baik ilmuan, birokrat, militer dll.

Pada situasi itu, ada yg memberi tahu tokoh-tokoh kunci oleh tokoh lain yg kelasnya ada di bawahnya, bahwa meski tidak disuka, satu-satunya solusi unk mengatasi negeri yang berada diambang kehancuran hanya dengan menggunakan sistem syariah-khilafah yg selama ini diperjuangkan HT(I).

Akhirnya, meski awalnya tidak suka, krn tdk ada pilihan lain akhirnya HT(I) diundang unk menjelaskan konsep syariah-khilafah sbg alternatif. Bisa jadi awalnya ada byk sekali keberatan, tetapi dengan diskusi maraton yang panjang berpekan-pekan akhirnya mereka dapat menerima. Terlebih lagi, tokoh-tokoh kunci itu melihat kerinduan masyarakat yg memuncak kepada syariah dan khilafah.

Setelah berpekan-pekan diskusi dg sangat serius, mempertimbangkan segala resiko dan dampaknya, serta setelah meminta pendapat ahli dan istikhoroh yg sgt khusu', tibalah saatnya tokoh-tokoh kunci itu mengumumkan perubahan mendasar dari kapitalisme demokrasi menjadi syariah-khilafah. Masyarakat bersama HT(I) menyaksikannya dan menyambutkan penuh dengan kesyahduan.

Semua merasa seakan baru dilahirkan. Semua dalam satu semangat mengisi dan membangun peradaban baru. Semua masyarakat bergandengan tangan. Berbahagia dan bergetar menyambut peradaban dan kehidupan baru.

Semua orang menghampiri HT(I), termasuk orang-orang yang memusuhinya unk mengucapkan selamat dan permohonan maaf. HT(I) mengatakan: Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita semua sama. Seandainya kami seperti Anda, kami juga akan melakukan hal yg sama. Sudahlah lupakan semua yang telah terjadi wahai saudaraku semua. Kita smua adalah saudara. Kita semua adalah satu. Bagi kami, kalian semua adalah orang-orang hebat layaknya Abi Sufyan dan Ikrimah bin Abi Jahal. Mari kita bergandengan tangan mengisi dan membangun peradaban baru Islam, sungguh tantangan baru telah menyambut di depan mata kita.

****

Tulisan seperti di bawah ini telah sy lihat dlm imajinasi saya 15 tahun yang lalu. Dan isya Allah akan diikuti oleh yang lain dengan skala yang semakin besar, sampai akhirnya menyentuh tokoh-tokoh kunci di negeri ini. Termasuk upaya-upaya ormas tertentu yang seperti saat ini, juga telah sy imajinasikan 15 tahun yg lalu. Skala mereka akan semakin besar dan semakin masif, dan sikap mereka akan berakhir seperti yang diakami oleh Sahabat Nabi Abu Sufyan.

Wallahu a'lam.
Choirul Anam

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Thursday, May 5, 2016

Post a Comment
close