Boikot AADC2 !!



Oleh: Budi Susanto (Fatih Salam)

Apakah As Gym hancur popularitasnya karena poligami?

Bukan. Lalu apa penyebabnya?

Semua berawal dari Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa) yang bertujuan membangkitkan kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap moral bangsa yang dimotori Aa Gym dan didukung oleh MUI, Hidayat NUr Wahid, Dien Syamsudin, dan tokoh lainnya. Gema Nusa, lahir dari keprihatinan atas krisis yang bersumber dari krisis moral, kata sang Dai.

Lalu apa hubungannya dengan AADC2?

Ok, kita simak cikal bakalnya.

Aa Gym awalnya dikenal sosok Dai yang diterima seluruh lapisan masyarakat.

Militer menyambut kehadiran Aa Gym, paspampres bercanda menyebut RI-3, bursa saham mengundang Aa membuka bursa, kalangan nasrani juga menyambut hangat kehadirannya, bahkan di Ambon ketika konflik. Pendeknya Aa Gym menjadi Dai kondang tanpa hater saat itu. Akan tetapi semua berubah ketika Aa mendirikan Gema Nusa dan mulai menyerang karya seni tidak islami.
Aa Gym menggunakan semua potensinya untuk menantang film "Buruan Cium Gue" yang rilis Multivision Plus tahun 2004. Hasilnya film tersebut dicabut dari peredaran sekalipun sang prouser Ram Punjabi berusaha mencegahnya.

Langkah Aa Gym membuat pihak yang terancam, dalam hal ini terutama kelompok seniman yang mengusung ideologi kebebasan seni, mulai melihat Aa Gym sebagai potensi bahaya.
Lalu seniman pro liberalisme mengadakan jumpa pers menentang Aa Gym.

Saat itu yang menjadi pembicara adalah Riri Riza (sutradara AADC1 dan kini AADC 2), Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal), dan Ayu Utami (penggagas novel vulgar).

Kelompok yang menamakan diri Eksponen Pendukung Kebebasan Berekspresi (Ekspresi) membuat pernyataan bersama mengecam penarikan BCG. Ada banyak seleb dan tokoh tergabung dalam kelompok pemrotes itu seperti Nicholas Saputra, Rieke Dyah Pitaloka, Oppie Andaresta, dan Jajang C Noer, Garin Nugroho, Riri Riza, Mira Lesmana, Shanty Harmayn, Nono Anwar Makarim, Goenawan Muhammad, Ratna Sarumpaet, Debra Yatim, Sitok Srengenge, Yeni Rosa Damayanti, Ulil Abshar-Abdalla,Ayu Utami, dan Ging Ginanjar.

Riri Riza, sang sutradara AADC, adalah yang paling vokal dalam jumpa pers tersebut.

"Kami menentang langkah sejumlah pihak, antara lain Menbudpar, MUI, dan Aa Gym yang menyatakan sikap mereka terhadap film Buruan Cium Gue! (BCG!) melalui tekanan, ancaman, dan penghakiman sepihak dengan mengatasnamakanmoral bangsa." Demikian kata Riri Riza.


"Seni membutuhkan kebebasan mutlak, kalau kebebasan tersebut ditutup, kreativitas seni akan terancam. "

Kata "cium" yang disamakan dengan kata "zina" menurut Riri merupakan suatu hal yang berlebihan.
"Itu kan hanya istilah dari agama tertentu saja (Islam)."

Kesannya kalau cuma mewakili ajaran Islam saja tidak penting dipertimbangkan.

Jumpa pres tersebut adalah kali pertama Aa Gym diserang secara publik dan kemudian mulai memicu semacam gerakan tersembunyi yang ingin menjatuhkan sang Dai kondang tersebut. Jadi poligami Aa hanya momen ketika sang dai melakukan celah untuk dijatuhkan. Tanpa poligami pun Aa sedang diincar dan dicari cara agar jatuh.

Terlepas setuju atau tidak setuju dengan poligami Aa Gym, kita semua seharusnya tetap bergerak melanjutkan perjuangan untuk menolak karya seni tidak islami sudah ikut terbenam. Tidak ada lagi dai yang berani bersuara.

Dulu, Buruan Cium Gue boleh kalah oleh Aa Gym.

Tapi kini Riri Riza sukses menghadirkan adegan ciuman tiga kali dalam AAC 2.

Mungkin Riri Riza lupa dalam jumpa pers saat itu juga berkata tentang sensor film,
"Penontonlah yang harus disaring. Misalnya, penonton Buruan Cium Gue harus telah berusia 21 tahun. Yang melanggar peraturan tersebut akan dikenai sanksi."

Kenyatannya tiga kali ciuman hot dan film ini disuguhkan untuk 13 tahun ke atas.

Kaum liberal menang dan muslimin kalah!

Film liberal unggul, film islami kalah!

Film Comic 8 yang mengumbar buka aurat, cinta sesama jenis dan humor porno dan jorok, sukses di pasaran. Seratus ribu lebih penonton di hari pertama.

Film AADC 2 yang mengusung kebebasan dalam pacaran (pergaulan bebas) sukses di pasaran. Lebih dari 200.000 penonton di hari pertama.

Sebaliknya film Kalam Kalam langit yang mempromosikan Quran hanya di tonton 20 ribuan saja. selama tayang.

Film Dreams (Fatin) yang mengusung impian, hanya ditonton kurang dari 10 ribu.
Atau film Super Didi tentang ayah dan suami yang bertanggung jawab hanya ditonton tak sampai 50 ribuan

Atau Surat Cinta Untuk Kartini yang romantis tanpa mengumbar syahwat hanya meraih 80 ribuan penonton.

Kalau ini dibiarkan produser film bisa kapok membuat film islami dan sebaliknya film yang mengabaikan ajaran Islam akan melesat dan akibatnya kita kehilangan banyak generasi karena tidak punya hiburan yang mendidik.

Anggy Umbara di film comic 8 begitu sukses ketika membuat film 3 bernuansa religi dan juga sangat digarap apik, gagal di pasaran.

Perjuangan Anda dikalahkan, Aa Gym!

Juga perjuangan MUI, Hidayat Nur Wahid, Anda kalah.

Akui saja film islami hanyalah produk gagal!

Bahkan muslimah berjilbab saja tidak menonton film islami.
Mungkin itu kata kaum liberal.

Apakah perlu dakwah lewat film?

Dakwah di mesjid dan pengajian dihadiri oleh oleh mereka yang ingin mendalami agama, tapi dakwah di bioskop lebih menyebar luas karena bisa meraih orang yang jauh dari mesjid dan pengajian dan disampaikan dengan cara menarik.

Buat Anda yang peduli dakwah dan generasi islami, apakah akan biarkan seni islami dikalahkan lagi dan lagi hingga akhirnya hancur sendiri?

Salam perjuangan

# nontonfilmbaik
# dukungfilminspi ratif
# dukungfilmreligi

Source: BC WA
Like Fanpage kami :

Tuesday, May 3, 2016

Post a Comment
close