Felix Siauw : Ada Proyek Liberalisasi di balik Riset Kota Islami


Beberapa waktu Ma’arif Institute merilis hasil penelitiannya tentang daftar kota Islami yang menghasilkan simpulan menggeparkan. Tercatat kota Denpasar pada penelitian ini berada diurutan teratas yang diikuti Yogyakarta dan Bandung, sedangkan kota-kota yang memiliki perda syariah justru berada diurutan terbawah. Misal Aceh yang berada diperingkat 19, Padangpanjang yang memiliki pesantren wanita terbaik berada diurutan ke-26, dan Padang diurutan 29. Padahal dua kota yang disebut terakhir diranah minangkabau itu merupakan titik sentral perda syariah.

Penelitian yang melibatkan 29 kota di Indonesia ini menggunakan tiga variable, yaitu tingkat keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan warganya.

Diwawancarai di sela-sela aktifitas Sorenya via telpon, Felix Siauw menanggapi,

“Ini adalah beberapa hal yang harus kita kritisi, jadi siapapun bisa membuat penelitian apapun dengan standar apapun. Nah pertanyaannya adalah kalau seandainya survey ini membuat suatu judul kota paling Islami, apakah yang disebut kota Islami ini apakah hanya tadi?….apakah itu benar-benar suatu standar yang Islami?... kalau dilihat seperti itu ya semua tempat bisa Islami.” Tuturnya pada dakwahmedia.net

“Jadi yang perlu dikritisi di sini adalah apakah betul seorang yang tidak Islam bisa mempraktekan islam, apakah Islam itu hanya sederet nilai-nilai universal saja, misal seperti kejujuran, keamanan, kebaikan dan sebagainya. Apakah bisa dikatakan Islami seperti itu? Tentu tidak. Karena di dalam Islam sendiri yang dikatakan sebagai akhlak, yang dikatakan sebagai Islami, itu adalah sebuah penerapan dari syariat Islam. Jadi penerapan syariat islam itulah yang dikatakan sebagai Islami.” Tambahnya.

Terkat pernyataan Direktur Ma’arif Institute, Fajar Riza Ul Haq, yang menyatakan bahwa ketiga indeks ini melampaui wacana Negara Islam atau Khilafah yang diusung beberapa kelompok Islam, Felix Siauw juga menanggapi,


“Disini jelas sekali ada usaha sekulerisasi yang diinginkan oleh pihak Ma’arif Institute dengan mengatakan bahwa tidak perlu ada negar islam untuk membuat jadi Islami. Ini yang sangat penting!. jadi ada sebuah misi sekulerisasi, ada sebuah misi liberalisasi, dengan jargon-jargon yang sering kati terdengar, yang penting adalah kontennya bukan konteksnya, yang penting adalah nilainya, bukan penerapan syariat islamnya. Ini saya pikir sebuah hal yang harus diwaspadai.” Pungkasnya. [ dakwahmedia]

Editor : Aab El Karimi
Reportase : Fatah Al Fajtan

Like Fanpage kami :

Thursday, May 19, 2016

Post a Comment
close