Kisah Jihad Diponegoro Ngabdul Khamid Melawan Kafir Harbi Belanda

Gambar Pensil 1830 Ketika Diponegoro sakit malaria


Meski telah dua abad berlalu, kisah dan sosok bangsawan Kesultanan Yogyakarta pengobar ‘Perang Jawa’ (Java Oorlog), Pangeran Diponegoro, tetap lestari dalam benak ingatan publik. Bahkan, belakangan seiring dengan terbitnya buku ‘Kuasa Ramalan’ karya sejarawan asal Inggris Peter Carey, nama cucu laki-laki,Sultan Hamengku Buwono ke II ini berkibar-kibar kembali.

Agar tidak terus memendam rasa penasaran, maka di Museum Nasional kini publik bisa menyaksikan secara langsung beberapa peninggalan penting dari 'Sang Pangeran' saat memimpin perang yang membuat bangkrut negara Belanda dan membunuh 12.749 serdadunya (8.000 di antaranya orang berasal dari negeri Belanda).

Dan selama perang lima tahun itu dana sebesar  f.25.000.000 telah dihabiskan. Jadi bila di rata-rata selama setahun saat itu Belanda harus mengeluarkan dana hingga f.5000.000. Jumlah ini kala itu jelas sangatlah besar.

Keras dan  berdarahnya amuk perang Jawa ini kemudian membalikan anggapan pejoratif kepada orang Jawa bahwa mereka itu sekelompok orang yang terdiri dari para pemalas, pengecut, dan bodoh.

‘’Perang ini kemudian membuktian  bahwa prajurit Jawa ternyata sangat mengagumkan. Prajurit Jawa yang secara lahiriah tampak bodoh dan pemalas terbukti adalah prajurit yang pemberani, ulet, dan tangguh dalam berperang.,’’ kata sejarawan Saleh A Jamhari pada acara pembukaan ‘Pameran Warisan Diponegoro di Museum Nasional Indonesia, Jakarta (18/5).

Pihak pemerintah kolonial Belanda pun mengakui perang itu sangat menyulitkan mereka. Bahkan karena menyadari keunangan negara terancam sangat serius, maka kekosongan dana negara itu akan mereka cari gantinya dengan mengeluarkan kebijakan ‘Tanam Paksa’ tak lama kemudian setelah perlawanan Diponegoro  dapat mereka padamkan.

‘’Pada perang jangka panjang  yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan Jendral de Kock ini, secara militer tidak ada pihak yang mengklaim sebagai pemenang. Ternyata Dipanegara tidak dapat ditaklukan dengan kekuatan senjata.  De Kock mengekploatasi dan mengeksplorasi nilai-nilai budaya Jawa untuk mengaalahkan Diponegoro sekaligus orang Jawa. Menang tanpa ngasoraken (menang tanpa merendahkan) itulah salah satu kunci yang digunakan oleh Jendral de Kock,’’ kata Jamhari.

Nah, sisa kobaran kecamuk perang itu, hampir dua ratus tahun kemudian masih bisa dilihat jejaknya di Museum Nasional hinggga 22 Mei mendatang. Artefak pelana kuda, tombak, lukisan hingga tongkat ziarah ‘Kanjeng Kiai Cakra’ milik Pangeran Diponegoro dipamerkan ke publik.


Pelana kuda Diponegoro

Pelana kuda Diponegoro ini diletakan di dalam sebuah lemari kaca. Pelana kuda terbuat dari jerami padi, kawat, kulit, besi tempaan dengan ukuran 75 x 50 cm. Pelana ini didapat sekitar tahun 1825.

Diponegoro memang dikenal sebagai penunggang kuda  hebat. Sebelum perang berkobar, di kediamannya di Tegalrejo ia memiliki istal luas. Istalnya memerlukan tak kurang dari 60 pekatik (pemelihara kuda dan pemotong rumput).

Beberapa tunggangannya seperti Kiai Gentayu (Ki Gitayu), seekor kuda hitam dengan kaki putih, dianggap pusaka hidup. Kemahiran menunggang kuda Sang Pangeran memungkinkannya berkelit dari kejaran Belanda.

Namun, pada 11 November 1829, di ulang tahunnya ke-44, nasib baiknya habis. Ia disergap di pegunungan Gowong di Kedu selatan-barat oleh Mayor A.V. Michiels (1797-1849) dan Pasukan Gerak Cepat ke-11 yang terdiri dari pasukan Ternate yang terkenal dengan kemampuan  lacaknya.

Menghindari penyergapan itu, terpaksa Sang Pangeran melompat dari atas kudanya ke lembah yang terdekat. Saat itu dia juga mendapat luka di bagian kaki. Diponegoro berhasil selamat dengan cara bersembunyi bawah rimbun rumput Gelagah.

Namun tindakan ini dibayar mahal. Kuda, tombak pusaka (Kiai Rondhan), dan seluruh kopor pakaian (termasuk jubahnya) berhasil direbut tentara kolonial

Tombak dan pelana kuda tersebut kemudian dikirim kepada raja Belanda Wiliem I (bertakhta, 1813-1840), sebagai rampasan perang. Namun, seratus lima puluh tahun kemudian benda milik Diponegoro dikembalikan kepada Indonesia oleh Ratu Juliana pada tahun 1978.

Tombak Bertatah Meteorit ‘Kiai Rondhan’


Layaknya rekan sesama bangsawan kraton di zamannya, Pangeran Diponegoro pun memiliki sejumlah pusaka. Salah satu kesayangnna adalah tombak Kiai Rondhan, yang dianggapnya mempunya daya magis memberikan perlindungan dan peringatan (wangsit) akan datangnya bahaya.

Pada 13 November 1829, ia kehilangan senjata tersebut saat ia disergap di pegunungan Gowong. Hilangnya Kiai Rondhan sangat mempengaruhi mental Diponegoro. Ia saat itu pun menganggap terlepasnya Kiai Rondhan dari tanagnnya sebagai tanda atau isyarat bahwa dirinya telah dikhianati oleh tiga pemimpin yang paling dipercayainya di Mataram.

Tombak pusaka ini sebenarnya hendak diwariskan kepada putera tertuanya. Namun, benda ini  kemudian jatuh ke tangan tentara Belanda dan kemudian dikirimkan kepada raja Belanda Willem I (1813-40), bersama pelana kudanya, sebagai rampasan perang. Barang ini pun akhirnya dikembalikan kepada Indonesia oleh Ratu Juliana pada tahun 1978 sebagai hasil ‘Kesepakatan Budaya Belanda-Indonesia’ yang ditandatangani pada tahun 1968.

Tongkat Ziarah Diponegoro, Kanjeng Kiai Cakra



Tongkat ini terbuat dari kayu, perak, embos emas, besi meteorit, dengan ukuran 134 x 3 cm. Diperkirakan dibuat pada akhir abad ke 16.

Benda ini dibuat untuk seorang Sultan Demak, pada abad keenambelas. Tongkat ziarah pusaka ini diberi kepada Pangeran Diponegoro pada tahun 1815 oleh seorang warga biasa asal Jawa.

Simbol cakra mempunyai makna penting bagi Pangeran Diponegoro, mengingat cakra adalah senjata tradisional milik Dewa Wisnu, yang inkarnasinya yang ketujuh sebagai penguasa dunia dengan menggenggam senjata dikaitkan dengan mitologi Jawa dengan kedatangan Ratu Adil atau Erucokro, sebuah titel yang digelar Diponegoro pada masa awal Perang Jawa.

Tongkat diambil pasukan sekutu Belanda pada 11 Agustus 1829 saat kampanye terakhir Diponegoro di Mataram dan diberi kepada Pangeran Notoprojo, seorang trah Sunan Kalojogo, salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah pada abad ke-16, dan cucu panglima perang perempuan Pangeran Diponegoro yang tersohor Nyai Ageng Serang.

Pada Bulan Juli 1834 Notoprojo memberikan tongkat ini kepada Gubernur Jendral JC Baud ( menjabat 1833-1836) sewaktu dia melakukan perjalanan (tournee) pertama kali ke Jawa Tengah.

Ahli waris Boud, Michel, dan Erica, mengembalian tongkat ini kepada rakyat Indonesia yang diwakili Monumen Nasional, pada 5 Februari 2015 pada waktu pembukaan pameran ‘Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa dari Raden Saleh Hingga Kini’ di Galeri Nasional (5 Februari – 8 Maret 2015).

Lukisan Pensil 'Pangeran Ulama' Saat Terkena Malaria
Lukisan ‘Dipo Negoro: Pemimpin Pemberontak di Jawa’ ini merupakan sketsa pensil karya Adrianus Johanes  Bik (AJ Bik)  yang dilukis di Stadhuis, Batavia, antara 9 April dan 3 Mei 1830. Tampak Pangeran Diponegoro berbusana ‘ulama’ yang dipakainya selama perang Jawa, yaitu serba,  baju koko tanpa kerah, dan jubah. 

Sebuah selempang tersampir di bahu kanan dan keris pusaka. Kanjeng Kiai Bondoyudo, terselip ikat pinggang yang terbuat dari sutra bermotif bunga-bunga.

Pipinya tampak agak cekung menonjolkan tulang pipi Pangeran, adalah akibat serangan malaria yang ia derita sejak menjadi pelarian di hutan-hutan Begelen dan Banyumas pada masa akhir perang (11 Noveber – 9 Februari 1830). Lukisan aslinya tersimpan di Rizksmuseum, Amsterdam.

Sebagai cucu seorang raja (dari garis ayah), Diponegoro dari garis ibu memang cucu seorang ulama atau kiai berpengaruh. Maka ketika melihat kerajaaanya terus melemah dan banyak dicampuri orang asing, Diponegoro pun resah. Sejarawan  Saleh A Djamhari mengatakan Diponegoro memandang pemerintahan yang dijalankan adiknya (Hamengku Buwono IV) itu lemah baik dalam pikiran dan hatinya karena rela diperbudak orang-orang barat. Kebiasaan berpakaian secara Eropa dan kebiasaan minum-minuman keras merupakan penodaan terhadap keyakinan agama dan tradisi yang dijunjung tinggi oleh orang Jawa.

'Diponegoro menganalogika masyarakat Kesultanan Yogyakarta dengan masyarakat Arab pra Islam yang disebut masyarakat jahiliyah,'' kata Saleh. Karena keadaan itu dia pun mulai menyingkir dengan pergi ke gua-gua meniru kebiasaaan Muhammad sebelum jadi nabi. Bukan hanya itu ia pun berkelana ke masjid-masjid atau dari pesantrenke pesantren di pelosok desa. Pada satu titik tertentu, ia pun menanggalkan baju kebesaran tradisionalnya dan sekaligus mengganti namanya.

"Namaku bukan Dipanegara lagi, tapi 'Ngabdulkamid' (lidah jawa menyebul nama Arsb: Abdul Hamid,red),'' kata Saleh menirukan sikap Diponegoro. Sejak itu Diponegoro (selama Perang Jawa) mengenakan 'pakaian ulama' berwarna putih atau hijau,warna yang disukai Nabi Muhammad.

Sebagai seorang Muslim penganut tarikat Satariyah, cita-cita perjuangan Diponegoro saat itu adalah ingin mengubah masyarakat dari kesultanan Yogyakarta menjadi masyarakat dalam wadah 'balad' (negara Islam). ia pun yakin bila pembentukam 'balad islam' hanya bisa dicapai dengan perang sabil terhadap kafir barat.

Pilihan cita-cita serta sikapnya yang mau berbaur dengan rakyat itulah yang membuat perlawanan Diponegoro mendapat dukungan, pengakuan, dan legitimasi  dari para pemimpin masyarakat. Para demang, bekel, kiai terkenal seperti Kiai Mojo, Kai Mlangi, Kiai Kwaron,Kiai taptoyani, serta para ulama sahabatnya dari berbagai daerah menyokong gerakannya.

Pater Carey mencatat ada 112 kiai, 31 haji, 15 syekh dan penghulu yang sepaham dengan Diponegoro. Bukan hanya itu, dalam babad Dipanegara versi Surakarta disebutkan bahwa banyak temenggung, kliwon, penewu, mantri pangeran arya hampir tiap malam datang ke Tegalrejo (markas perlawanan Diponegoro) berjanji setia dan akan mendukungnya dalam melakukan 'perang sabil' (perang suci di jalan Allah).

Jadi wajar bila kemudian seorang anggota pasukan Belanda yang seniman, AJ Bik, melukis Pangeran Diponegoro dengan pose memakai pakaian kebesaran ala seorang ulama. Sebab. sosok dia pada saat itu oleh rakyat Mataram dipandang sebagai seorang pemimpin umat atau seorang ulama.
Like Fanpage kami :

Wednesday, May 18, 2016

Post a Comment
close