Muslimah HTI : Pemuda Islam, Pelopor Perubahan hakiki


www.dakwahmedia.net - Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menggelar konferensi perempuan di Jogja Ekspo Center, Yogyakarta, Sabtu (07/05/2016). Acara yang diikuti sekira 500 peserta Muslimah itu bertema “Pemuda Muslim : Pelopor Perubahan Hakiki”.

Pratma Julia Sujandari dalam orasi pertama mengingatkan peserta tentang kegigihan para pengusung ideologi sekulerisme global dalam memalingkan kalangan pemuda muslim dari identitas keislamannya.

“RAND Corporation, sebuah lembaga think tank kebijakan global yang didanai oleh pemerintah AS, pada 2004 menerbitkan sebuah laporan berjudul "How the West Can Promote an Islamic Reformation" (Bagaimana Cara Barat Mempromosikan Reformasi Islam),"  terang Pratma mengungkapkan adanya agenda di berbagai negara yang tidak lain merupakan bagian dari agenda kapitalisme dan sekulerisme global.

Nida Sa’adah menyampaikan tentang sekularisasi pemuda muslim melalui kurikulum pendidikan. Nida menerangkan bagaimana upaya Barat melakukan ‘penyesuaian’ kurikulum pengajaran yang sesuai dengan visi mereka.

“Barat inilah yang membuat kurikulum bukan didasarkan pada akidah umat. Mereka memalingkan para pemuda Islam kepada budaya Barat ” tegas Nida.

Menurut pembacaannya, para penjajah Barat telah menempatkan kebijakan pendidikan sebagai salah satu area yang paling penting yang harus mereka kendalikan.

Nida menyerukan agar kita tidak menyampaikan Islam atas dasar bahwa Islam adalah sekedar mata pelajaran atau informasi untuk sekedar mengisi kertas ujian dan mencapai sertifikasi. Sebaliknya, Nida menegaskan bahwa kita harus menanamkan konsep yang mengarah pada perubahan pemikiran dan berikutnya pada perubahan sikap dan perilaku.

Sementara itu, Ratu Erma Rachmayanti menyebutkan rumusan analisa terhadap bermunculannya sekian banyak dokumen rencana strategis untuk meliberalkan anak-anak dan pemuda Muslim.

“Rencana aksi untuk mencegah kekerasan ekstrimis, atau plan of action to prevent violent extremism, merupakan dokumen terpenting yang diadopsi PBB dan diluncurkan pada 12 Februari 2016”, ungkapnya.

Menurut Erma, terdapat dua isu kritis kepemudaan dalam dokumen strategi  tersebut. Pertama, terdapat upaya untuk menjauhkan anak-anak dan pemuda muslim dari pemahaman Islam yang benar. Kedua, terdapat upaya untuk membajak potensi anak-anak dan pemuda muslim dalam rangka mempertahankan hegemoni Negara Barat.

Sementara itu Azimatur Rosyida, aktivis mahasiswi dari Universitas Airlangga, memaparkan tentang dampak media industri dan budaya online pada pemuda muslim. Menurutnya, industri dan budaya online bahkan menjadi sarana kapitalisasi dan sekulerisasi global secara digital.

Sebagai bagian dari tawaran solusi, orasi kelima disampaikan Fika Komara berfokus pada upaya mengatasi krisis identitas pemuda muslim. Fika mengawali orasinya dengan berbagai pertanyaan penyadaran tentang banyaknya kekeliruan para orang tua muslim dalam mengarahkan anak-anak mereka.

Para orang tua harus membentuk akidah dengan keyakinan yang kokoh dalam diri  anak-anak. Para orang tua harus menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang iming-iming  jalan hidup liberal sekuler yang menipu. Para orang tua harus memahamkan kepada anak-anak mereka bahwa islam adalah dien yang memiliki solusi untuk masalah kehidupan. Para orang tua harus membangun kebanggaan terhadap kebudayaan dan sejarah Islam. Itulah poin-poin kunci yang kemudian diserukan Fika.

Acara konferensi ini diselingi testimoni tokoh pemuda dari berbagai kalangan, penayangan video, puisi dan teatrikal. Setelah istirahat dan sholat, acara diisi dengan diskusi tanya-jawab. Pada akhir konferensi, MHTI melalui Iffah Ainur Rohmah sebagai juru bicara menyerukan pesan untuk pemuda muslim.

“Bangkitlah pada posisi sah Anda sebagai garda terdepan bagi Islam, penjaga dien Anda, dan pelindung umat Anda! Dan bangkitlah pada kewajiban besar Islam Anda untuk menyelamatkan umat manusia dari penindasan dan kegelapan yang menimpanya hari ini, yaitu dengan menegakan negara Khilafah yang mulia! Rangkullah peran sejati Anda sebagai pelopor perubahan hakiki!”, seru Iffah. [SuaraIslam/DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Sunday, May 8, 2016

Post a Comment
close