Musuh Utama Bangsa Indonesia


Oleh : Nola Dwi Naya Sari, Mahasiswi UPI Bandung

Mengutip pernyataan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan yang menyatakan, narkoba dan minuman keras menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Bahkan kondisi saat ini sudah darurat narkoba, sehingga rakyat dan negara tidak boleh kalah melawan narkoba (republika.co.id). Wajar penyataan ini dinyatakan, didukung oleh fakta yang disampaikannya bahwa "bayangkan 6 juta orang Indonesia yang terjerat narkoba". Sebanyak 5 juta ton narkoba disita. Jadi ini musuh kita bersama. Juga miris dalam melihat banyaknya penyelenggara negara yang terjerat narkoba. Setelah seorang bupati di Sumatera Selatan, seorang Dandim dan perwira polisi di Sulawesi Selatan juga tertangkap karena narkoba. Ditambah lagi kabar berita bahwa Peredaran narkoba di Kabupaten Garut pun dinilai sudah berbentuk jaringan.  punya pelanggan, kurir dan bandar.

Hal diatas benar-benar menggambarkan bagaimana negeri ini darurat narkoba dan berada dalam lingkaran hitam yang mencekik generasi didalamnya. Fakta ini pun diketahui oleh pemimpin negeri ini. Saat memberikan kuliah umum di Universitas Gajah Mada(UGM) Yogyakarta, Bapak presiden menyebut Indonesia telah memasuki level darurat narkoba. Sebanyak 40 sampai 50 orang di Indonesia mati setiap harinya akibat penyalahgunaan narkoba.

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini? Membaca kembali penyataan Bapak MPR diatas yang menegaskan ‘Negara tidak boleh kalah melawan narkoba’, sesungguhnya negeri ini benar-benar sudah berada dalam garis kekalahan yang nyata. Dalam menyikapi hal ini, Menurut Zulkifli, Pemerintah harus mengawasi peredaran narkoba di tempat-tempat hiburan, di Lapas dan lainnya.

Masalahnya, bukan hanya dalam proses pengawasan seperti yang disebut diatas. Masalahnya juga terletak pada keberadaan tempat-tempat hiburan, yang sarat menjadi pemicu. Bayangkan tempat hiburan yang didalamnya banyak kemaksiatan yang terjadi (campur baur perempuan dan laki-laki, terbukanya aurat, haramnya miras) yang merusak akal dan memancing kasus lainnya seperti free sex. Artinya, keberadaan tempat maksiat seperti harus ditutup. Namun saat ini seolah-olah itu sengaja dijadikan tempat refreshing pikiran.

Juga pernyataan Bapak presiden bahwa dirinya tidak akan mengabulkan permohonan grasi dari puluhan terpidana mati kasus narkoba. Ini adalah bentuk penindakan yang memang tegas. Namun tidak menjadikan negara ini menang dalam menstop narkoba. Karena dibalik proses penindakan, juga penting adanya proses pencegahan. Ini yang tidak terpikirkan dengan matang.

Permasalahan narkoba tidak terlepas dari pengaturan tatanan kehidupan yang saling berhubungan. Masalahnya, asas yang dianut negeri ini adalah terdapatnya pilar kebebasan. Dalam bertingkah laku, kepemilikan, berpendapat, beragama, ditambah lagi dengan nilai kehidupan saat ini lebih dominan pada aspek materi saja dibandingkan dengan nilai ruhiyah (agama) dan nilai kemanusiaan. Sehingga dalam tatanan aspek pendidikan saat ini, karena tidak berlandaskan pada akidah ideologi yang benar, hanya menghasilkan output pendidikan yang tinggi akan derajat inteletualnya dalam suatu ilmu/bidang,  namun rendah dalam derajat pikiran dan sikapnya. Juga tidak mampu membimbing orang-orang yang sekalipun penghasilan materinya cukup tinggi, namun tetap saja tidak memberi ketentraman hidup baginya. Juga dalam tatanan sistem sosial yang lebih sarat dengan gaya hidup bebas.

Negara dalam aturan Islam memegang peranan menjaga masyarakatnya yang mencakup penjagaan terhadap agama, akal, harta, jiwa, kehormatan, kepemilikan dan keamanan. Juga dalam jaminan terhadap pendidikan, kesehatan dan keamanan, yang saat ini menjadi faktor pemicu atas beberapa permasalahan.

Semua tak terlepas dari penerapan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Jadi seudah jelas, yang menjadi musuh utama kita adalah sekulerisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan). Maka dari itu, yuk selamatkan negeri ini dengan penerapan syariat Islam. Wallah a’lam bi ash-shawab. [DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Friday, May 13, 2016

Post a Comment
close