NASIONALIS ATAU TIDAK, HIDUPLAH DI BUMI ALLAH DENGAN BENAR!


www.dakwahmedia.net - Kalaulah ada yang bertanya pada saya, “Apakah Anda salah satu bagian dari golongan nasionalis?” Saya akan menjawab, “Tidak. Bukan”. Dan saya biarkan para pemirsa tertelan dengan parodi opini yang ramai; anti NKRI dan pengkhianat bangsa atau bahkan bermakar pada Negara, ringkus!. Saya akan dengan tenang melanjutkan, “Saya bukanlah bagian dari nasionalis. Saya memegang beberapa prinsip dalam hidup saya. Saya seorang muslim dan saya akan hidup dengan Islam. Kalaupun karena keIslaman saya, saya menuntut Freeport untuk dinasionalisasi bukan berarti saya seorang nasionalis. Saya hanya cinta pada Indonesia dengan parameter yang jelas; Apa yang Allah suruh. Lagipula, saya seorang muslim.”

Merespon hiruk pikuk berita sebuah ormas yang akhir-akhir ini galak menyebarkan provokasi permusuhan sesama muslim atas dalih NKRI harga mati, saya sedikit berani curhat. Terlepas dari nasionalis atau bukan, patriotis atau tidak, dalam lamunan saya selalu terngiang akan beragam tragedi kemanusiaan yang kadang tak masuk akal. Jutaan liter darah yang mengalir akibat dari alasan nasionalis atau patriotisme kiranya bisa jadi bahan pertimbangan sebelum kita memutuskan. Augusto Pinochet, seorang pembantai massal dari Cile ketika ditanya alasan melakukan pembantaian mengatakan, “saya ingin dikenang sebagai seorang lelaki yang mengabdi pada negara ini”. Pol Pot, Pembunuh massal dari Kamboja pada penghujung hayatnya ketika diwawancarai seorang jurnalis, “apakah anda akan meminta maaf atas penderitaan yang telah anda sebabkan?” Pol Pot menjawab, “tidak, Saya ingin anda tahu bahwa segalanya telah saya lakukan, saya lakukan untuk negara saya”. Begitupun dengan alasan Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris, ketika memberikan pembelaan terhadap perannya dalam pembunuhan atas ratusan ribu rakyat irak yang mengatakan, “Saya melakukan apa yang menurut saya tepat untuk Negara kita”. Dan demi Allah! Saya tidak ingin perkataan ini keluar dari lisan anda. Untuk itu saya menulis ini.

Bismillah, Saya kira relevansi logis dari perjalanan nasionalisme dan patriotisme adalah bahwa ia tidak lebih hanyalah sebuah alasan yang dasarnya sangat dangkal. Silahkan buktikanlah! Sudahkah anda bertanya pada Adolf Hitler mengapa beliau dengan tega membunuh sangat banyak manusia? Jika berkenan, saya bocorkan jawabannya. Tulisan dalam bungkernya pada detik-detik terakhir tumbang, 29 April 1945, ia menulis, “Dalam tiga dekade ini, saya telah digerakan hanya oleh cinta dan kesetiaan saya kepada rakyat saya di dalam segala pemikiran, tindakan, dan kehidupan”. Hampir semua pelaku pembantaian besar, jika mereka ditanya tentang apa yang mereka lakukan merka akan berdalih bahwa mereka adalah seorang nasionalis, untuk rakyat, demi Negara, cinta tanah air. Hal ini menjadi teramat wagu manakala kita berpikir lebih nakal; seburuk inikah alasan pembantaian? Lantas bagaimana ia akan bertanggung jawab dihadapan Allah?

Jika diantara pembaca yang budiman, atas dalih NKRI harga mati kemudian berani mencaci, menghardik, membubarkan, memukul, membanting, memenjarakan, orang-orang yang dengan lantang menyeru formalisasi syariat Islam dengan mendirikan institusi Khilafah, perkenankanlah saya membantu anda untuk mencarikan alasan yang baik mengapa anda melakukan itu semua?. Sehingga semua pikiran yang anda bangun dengan susah payah tidak menjadi lucu dan aneh. Alasan saya begini, saya sedikit takut dengan nasib anda dikemudian hari, saat nyawa merengut, dan kerongkongan anda begitu kering, sementara anda seorang muslim. Apa yang akan anda pertanggung jawabkan dhadapan Allah dengan perbuatan anda yang memusuhi sesama muslim?. Saya ingin anda ikut berpikir dengan sebuah logika cantik yang dibangun Dwi Condro, saat anda dan para pejuang syariah dan khilafah sama-sama berdoa, kiranya siapa yang akan Allah kabulkan? Apakah anda akan berdoa, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang menyeru pada penerapan syariah yang berasal dari-Mu! Hinakanlah! Hancurkanlah!” Apa anda sedang bercanda?

Jadi nasionalis atau bukan, hiduplah di bumi Allah dengan benar!. Carilah alasan terbaik mengapa kita hidup, dari mana kita hidup, dan kemana setelah hidup. Selamat berpikir.
Oleh : Aab El-Karimi

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Sunday, May 1, 2016

Post a Comment
close