PENDIDIKAN KEJUJURAN


www.dakwahmedia.net - Pendidikan hakikatnya adalah gambaran sebuah sistem. Corak anak didik adalah cermin dari corak sebuah masyarakat.

Terlalu jahil dan naif jika kita  menganggap pendidikan itu hasil dari dia duduk di sekolah. Di ajar oleh gurunya. Namun TV atau media, karakter dan sikap masyarakat, orang tua, Ustadz, Pemerintah, semua berperan dalam membentuk karakter nyata out put pendidikan kita.

Persoalan berikutnya adalah sejauh mana dan sisi mana yang paling berpengaruh? Dan adalah sistem kehidupan yang berkembang di masyarakatnya yang akan menginspirasi, mengiring peran orang tua, guru, masyarakat, dan seluruh komponen yang menyentuh anak Didik tadi.

Orang tua saat ini tidak sedikit yang sudah selalu berorientasi materi melihat pendidikan anak. Yang pentong anak ku memiliki "masa depan" yang cerah. Kekhawatiran orang tua atas anaknya adalah lebih pada materi. Menyogok, curang, asal nilai anak baik, sudah tidak jadi soal.

Masyarakat pun sudah semakin permisif, Ustadz sering bingung melihat keadaan, TV dan media mendidik hedonis. Sinetron memang seringkali mengambil setting remaja dan anak sekolah. Pake seragam SMP atau SMA. Namun adegan dan perilaku yang ditampilkan tidak jauh dari pacaran, berebut cowo, enaknya jadi anak orang kaya, bonyok (bokap dan nyokap) diceritakan pengusaha yang sibuk. Geng cewe berebut cowo. Kalau ngomong bibirnya dimonyong-monyongin. Yang sangat jauh dari nilai-nilai dan perilaku pendidikan sesungguhnya. Namun inilah nyatanya pendidikan yang dilakukan oleh TV kita.

Guru di sekolah juga tidak sedikit yang sudah matre!!! Jika orang tua siswa jualan Gas, anak Didik akan mudah mendapat nilai 8 jika gas selalu gratis! Jika orang tua siswa tukang jualan atau punya Toko Bangunan, cukup dengan keramik beberapa dus, nilai siswa aman. Beasiswa untuk anak seringkali sudah didisain sedemikian rupa, untuk siswa yang mana, yang penting sang guru kecipratan duit beasiswanya.

Dan pemerintah ? Sektor ini sangat disayangkan sudah mulai kehilangan nilai yang paling mendasar dari pendidikan, yakni KEJUJURAN.

Temuan Ombustman Republika bahwa semua Provinsi melakukan kecurangan atas UN, kecuali Kalimantan Utara,  adalah gambaran nyata bahwa Pemerintah --Daerah-- sudah kehilangan esensi paling dasar dari Pendidikan.

CURANG, demi hanya untuk 100℅ lulus. Tapi salahkan Pemerintah itu? Ya tentu itu salah. Namun mereka melakukan itu karena sistem. Sistem lah yang mempressure mereka harus berbuat demikian. Pemerintah atau Kepala Daerah yang peserta didiknya tidak 100 % lulus pasti nanti dicemooh. Dianggap kepala daerah yang gagal. Dan ini telah terjadi beberapa waktu uang lalu di beberapa daerah. Semua saling menyalahkan. Kenapa tidak melakukan "strategi" ini dan itu. Kepala Dinas Pendidikan setempat akan diintrogasi, atau bisa jadi dicopot  karena dianggap tidak becus untuk me-luluskan 100 % siswa.

Dan agar hal seperti di atas tidak terjadi, biasanya semua akan mencari jalan "aman". Peduli amat dengan KEJUJURAN. Ini yang mungkin sebut dengan KEBOGHONGAN SISTEMIK.

Tampilan anak yang Corat coret baju, rambut dipilok, yes ok...namun mereka lebih jujur dari Pemerintah. Jika mereka ditanya tentang persiapan ujian? Mereka jawab dengan jujur, "ngapain belajar, toh nanti juga pasti lulus dan dibantu sama guru."

Justru sikap Pemerintah (sebagian besar daerah, kecuali Kalimantan Utara) adalah bentuk nyata pendidikan kepada semua pihak; bahwa Pemerintah saat ini  sendang mengajarkan KEBOHONGAN.

Jika kita mau jujur? Berapa persen di setiap sekolah kita kemaren, SMA misalnya, yang lulus dengan nilai UN  murni 5,5  di setiap mata pelajaran? Kami yakin hasilnya tidak akan lebih dari 50 %.

Namun negeri ini kadang sudah terlalu terbiasa, bahkan sudah membudaya untuk tidak melakukan kejujuran. Bahkan mungkin ada yang bertanya, di mana gerangan "kuburan" kejujuran itu sekarang?

Semua kita harus berani menjawab, jika kita ingin tidak dicap sebagai manusia pembohong. Kita semua harus JUJUR.

Oleh : H. Luthfi H
Like Fanpage kami :

Monday, May 9, 2016

Post a Comment
close