Sifat Jujur Rasulullah Di Mata Musuh - Musuhnya


www.dakwahmedia.net - Salah satu sifat utusan Allah, termasuk Rasulullah Saw, adalah ash-shidqul mutlaq atau kejujuran secara mutlak yang tidak rusak dalam segala kondisi. Sekiranya setiap perkataannya diuji, pastilah sesuai dengan kenyataan; baik ketia ia berjanji, serius, bercanda, memberi kabar maupun ketika bernubuwah.

Kesaksian musuh-musuh Rasulullah Saw bernilai besar. Hal itu menunjukkan pada puncak kepercayaan masyarakat terhadap pribadi Rasulullah Saw. Hanya saja, sebagian manusia dikuasai kebodohan dan keangkuhannya, sehingga mereka mengingkari hal itu tanpa alasan yang jelas.

Ustaz Said Hawwa rahimahullah, dalam kitab Ar-Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam, menuliskan sejumlah kisah yang berisi kesaksian dari tokoh-tokoh yang menjadi musuh Rasulullah Saw.

Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Mughirah bin Syu’bah berkata, “Hari pertama aku mengenal Rasulullah Saw adalah tatkala aku dan Abu Jahal berjalan-jalan di sebuah lorong Mekah, tiba-tiba kami bertemu Rasulullah Saw. Selanjutnya, beliau menyeru Abu Jahal, ‘Wahai Abu Hakam, marilah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah.’. Abu Jahal menjawab, “Hai, Muhammad, tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Tidaklah yang kamu inginkan adalah agar kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan risalah? Baiklah kami bersaksi bahwa  aku mengikuti kamu.’. Rasulullah Saw lantas berlalu, sementara Abu Jahal menghadap padaku sambil berkata, ‘Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa yang ia katakan adalah benar, tapi ada sesuatu yang mencegahku, yaitu Bani Qushayy pernah mengatakan, ‘Pada kami kekuasaan menjaga Ka’bah (Hijabah).’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Lalu mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memberi minum haji (Siqayah).’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Lalu mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memimpin rapat (Nadwah).’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Kemudian mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memimpin perang (Liwa’).’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Setelah itu mereka memberi makan kendaraan mereka dan kami memberi makan kendaraan kami, hingga tatkala kendaraan siap dan berdekatan, mereka mengatakan, ‘Dari kami seorang nabi.’ Maka, demi Allah, aku tidak menjawabnya.” Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkan riwayat semisal ini.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, “Abu Jahal berkata kepada Nabi Saw, ‘Kami tidak mendustakanmu tetapi mendustakan apa yang kamu bawa.”

Allah Swt berfirman, “…mereka sebenarnya bukanlah mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang zalim itu meningkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al An’aam : 33)

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Mu’awiyyah bercerita, “Abu Sufyan keluar menuju tanah lapang miliknya, mengiringi Hindun. Aku ikut keluar berjalan di depan mereka. Saat itu aku masih seorang bocah dan aku menunggang keledaiku. Tiba-tiba kami mendengar kehadiran Rasulullah Saw. Maka Abu Sufyan berkata, ‘Turunlah hai Muawiyyah supaya Muhammad menaiki kendaraanmu!’. Aku langsung turun dari keledaiku dan Rasulullah Saw menaikinya, beliau berjalan di depan kami sebentar menoleh kepada kami dan bersabda, “Wahai Abu Sufyan bin Harb dan Hindun  binti Utbah! Demi Allah, sungguh kalian pasti mati, kemudian pasti dibangkitkan, lalu yang berbuat kebajikan pasti masuk surga dan yang berbuat keburukan pasti masuk neraka. Aku berkata kepada kalian dengan benar, dan kalian sungguh orang yang pertama aku beri peringatan.’ Kemudian Rasulullah Saw membaca, “Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…’ hingga ‘..keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’ (QS. Fushilat : 1-11)

Abu Sufyan lalu berkata pada beliau, ‘Apakah engkau sudah selesai wahai Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah Saw turun dari keledai lantas aku menaikinya. Lalu Hindun menghadap Abu Sufyan seraya berkata, ‘Apakah untuk tukang sihir ini kau turunkan anakku?’ ‘Tidak, demi Allah ia bukan tukang sihir dan bukan pembohong,’ Jawab Abu Sufyan.’” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Thabrani.

Imam Bukhari dan Muslim juga menceritakan kisah Abu Sufyan di hadapan Heraklius, sebagaimana diceritakan Abu Sufyan sendiri pada Ibnu Abbas. Di antaranya adalah pertanyaan Heraklius pada Abu Sufyan, “Heraklius bertanya, ‘Apakah kalian menuduhnya berbuat dusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya?’ Aku jawab, ‘Tidak’” Di akhir kisah itu, Heraklius berkata kepada Abu Sufyan, “Aku tanyakan pada kalian apakah kalian menuduhnya berdusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya, kalian jawab tidak. Maka aku segera tahu bahwa ia tidak mungkin meninggalkan dusta pada manusia untuk kemudian berdusta pada Allah Swt.”

Inilah kesaksian musuh-musuh Rasulullah Saw. Sebagian mereka masuk Islam setelah mengadakan permusuhan sengit, dan sebagian lagi mati dalam kekafirannya. Akan tetapi, dalam permusuhan paling sengit sekalipun, semua mengakui dan meyakini bahwa Muhammad Saw adalah orang yang jujur. Wallahu a’lam bissawab. [SI/DakwahMedia]
Like Fanpage kami :

Thursday, May 19, 2016

Post a Comment
close