Ini Penyebab dan Solusi Rentetan Maraknya Pembunuhan Sadistik




Oleh: Kholila Ulin Ni’ma, Dosen Jurusan Pendidikan Guru RA di STAI al-Fattah Pacitan

Dalam beberapa waktu terakhir, tiga tragedi telah menyayat hati. Bagaimana tidak?! awal April 2016 Yuyun ditemukan di tepi jurang dalam kondisi mulai membusuk, tanpa busana dan penuh luka. Dari hasil visum, Yuyun dinyatakan mengalami menganiayaan dan pemerkosaan bergilir oleh belasan pemuda, hingga akhir dia meninggal dalam kondisi yang menyiksa tersebut. Berita tentang kemalangannya masih terus menjadi bahan perbincangan media, bahkan menggerakkan solidaritas berbagai kalangan dengan berbagai macam aksi. Menyalakan lilin, klakson mobil, motor, terompet atau apapun yang diserukan untuk dibunyikan pada waktu yang ditentukan sebagai bukti solidaritas.

Namun, apakah kasus sadis itu berhenti?? Tak selang beberapa lama, peristiwa memilukan mencuat lagi. Mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Feby Kurnia Nuraisyah Siregar,  dibunuh di toilet  kampus ini oleh seorang petugas kebersihan, pada pagi, 28 April 2016. Pelaku kemudian membawa kabur sepeda motor dan telepon genggam Feby.

Tak berhenti disitu, kejahatan seksual kembali menimpa anak di bawah umur. Ironis, pelakunya teman-teman korban yang masih 'ingusan' alias masih di bawah umur, di antaranya ada yang masih duduk di kelas 3 dan 5 SD. Peristiwa naas itu menimpa Bunga (13), bukan nama sebenarnya, warga Surabaya, Jawa Timur. Para pelakunya adalah MI (9), MY (12), JS (14), AD (14), BS (12), LR (14), AS (14), dan HM (14).

Korban dicabuli para tersangka sejak dia masih berusia empat tahun. Saat itu, seorang tersangka, AS, mencabuli korban terlebih dahulu. Merasa perbuatannya tidak diketahui orang lain, tersangka yang masih tetangga korban ini pun mengulangi perbuatannya. Ironisnya lagi, terkadang korban yang meminta sendiri untuk melakukan hal itu. Bahkan saat mengulangi perbuatannya, tersangka juga mengajak teman-temannya. Tidak hanya itu. Untuk melancarkan aksinya, para tersangka juga mencekoki korban dengan pil ekstasi dan miras. Korban pun dicabuli teman-temannya secara bergiliran. (merdeka.com, 13/5/2016).

Bahkan peristiwa yang baru baru ini terjadi membuat kita bertanya tanya, setega itukah manusia indonesia sekarang?membuuh dengan cara memasukkan gagang pacul di kemaluan sampai meninggal?


Kasus semacam ini tentu bukan kasus pertama atau kedua kali selama demokrasi diterapkan di dunia. Dan kasus ini juga bukan menjadi kasus terakhir jika demokrasi kapitalis tetap dipertahankan eksistensinya. Berbagai kasus sadistik yang terjadi beberapa waktu ini ibarat puncak gunung es. Berita yang menggegerkan yang tampak di permukaan hanya sedikit, namun berita yang tidak di-blow-up di media sangatlah banyak.

Sekretaris KPAI, Rita Pranawati, bahwa pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Tanah Air meningkat 100 persen dari tahun-tahun sebelumnya.  “Dari 2013 ke 2014 itu naiknya 100 persen, baik itu mereka yang jadi korban atau pun pelaku,” ujarnya di Kantor KPAI, Jakarta, Jumat (4/3/2016) (kpai.go.id). Data itu tentu membuat kita terhenyak. Rumah dan sekolahpun tak aman lagi karena banyak juga kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan ini. Miris memang. Apalagi sangsi yang diberikan untuk para pelaku sangat tidak seimbang dengan kelakuan biadab yang mereka lakukan.

Menggali Akar Masalah

Sebelum memberikan obat atas berbagai kasus sadistik, tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu akar penyakitnya. Jika kita runut, maka mencuatnya kasus kekerasan hingga pembunuhan sangat dipengaruhi beberapa faktor berikut.


Pertama, faktor keimanan individu yang sangat lemah. Sehingga para pelaku dengan ringannya melancarkan aksi kejahatan yang menimbulkan kerugian banyak orang. Bahkan mayoritas tersangka pada kasus Yuyun tak sedikitpun menunjukkan wajah penyesalan. Peran dunia pendidikan sangat penting di sini. Saat ini kualitas pendidikan generasi lemah sehingga menghasilkan degradasi moral pada output pendidikan. Pendidikan di Indonesia dengan konsep sekulerisme meniscayakan urusan agama dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang tidak terkait dengan mata pelajaran lain atau menjadi pijakan bagi materi ajar yang lain. Walhasil, semakin tinggi jenjang pendidikan, tidak berkorelasi positif dengan pemahaman agama dan akhlak anak didik.



Kedua, faktor lingkungan (keluarga dan masyarakat). Perhatian keluarga yang sangat lemah dalam menanamkan agama pada mereka menjadikan begitu mudahnya remaja terjerumus dalam lembah maksiat. Apa yang dilihat, apa yang diminum dan dimakan oleh anak sangat minim dari pengawasan orangtua. Banyak orangtua yang lebih menyibukkan diri dengan materi atau pendapatan pribadi, dibandingkan kewajiban mendidik putra-putri mereka. Entah itu karena memang tuntutan ekonomi, atau hanya sekedar hobi (bahkan ambisi) untuk mengejar karier. Tentu wajar jika hal ini terjadi oleh para ayah, karena memang kewajiban mereka adalah mencari nafkah untuk keluarga. Tapi akan sangat berbahaya jika para ibu (sebagai pendidik pertama dan utama bagai anak-anaknya) turut berlomba-lomba mendahulukan karier mereka.


Masyarakat yang sangat minim kepeduliannya terhadap generasi umat. Sangat boleh jadi, ada yang salah dengan masyarakat kita. Banyak masyarakat yang tidak mau ambil pusing dengan kondisi remaja saat ini. Ada yang menganggap wajar atas kerusakan yang terjadi. Ada yang sismpati akan tetapi tidak tahu solusi. Ada juga yang memang tidak peduli karena beranggapan ‘itu bukan anak kami’. Hingga masyarakat baru merasa geram ketika kasus sadis terjadi.

Ketiga, faktor negara yang tidak memberikan aturan tegas dalam mengatasi kasus sadistik. Pemerintah tidak terlalu memikirkan upaya preventif untuk mencegah kasus yang sama. Bahkan berbagai pemicu tindak kriminal justru difasilitasi keberadaannya. Berbagai tayangan media, mudahnya mengakses pornografi di dunia nyata maupun dunia maya, juga miras yang tetap di’halal’kan peredarannya. Padahal ketua Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA Indonesia) Wirianingsih mengatakan, mencuatnya kasus Yuyun di Rejang Lebong semakin mengindikasikan Indonesia darurat miras dan darurat pornografi. (dakwahmedia.net, 5/5).


Pemerintah baru kelabakan ketika ada kasus baru yang terungkap dan diekspos di media. Latah menyuarakan sanksi yang ‘berat’ bagi para pelaku untuk unjuk simpati semata. Namun, sanksi yang diberikan ternyata tak sedikit pun menimbulkan efek jera. Yang terjadi justru sebaliknya. Kasus demi kasus terungkap menunjukkan wajah sistem kapitalis sekuler yang sebenarnya. Sistem rusak yang berusaha memisahkan agama dari hidup kita. Dan sistem yang menjadikan uang adalah segala-galanya.

Lalu apa Solusinya?

Sungguh, kejahatan yang menimpa Yuyun dan berbagai kasus sesudahnya adalah peristiwa memalukan, yang tidak cukup hanya disikapi dengan menyalakan lilin, klakson, terompet atau semacamnya. Penyelesaiannya harus dibangun dari tiga pilar.


Pertama, pembinaan individu rakyat (termasuk generasi umat) sehingga mereka menjadi generasi yang takut pada kemurkaan dan azab Allah SWT.


Kedua, kontrol masyarakat harus ditingkatkan. Di sini termasuk orangtua yang punya kewajiban pertama dalam memantau anak-anak mereka. Karena keluarga adalah orang terdekat yang yang akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarga yang lainnya. Dan orangtua adalah yang paling dimintai pertanggungjawaban atas akidah dan perilaku putra-putrinya. Oleh karena itu, solusi yang pertama akan cukup sulit dilakukan jika tidak ada solusi yang kedua (dukungan dari keluarga, khususnya orangtua). “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS At-Tahriim: 6)

Tetangga dan masyarakat umum juga harus sadar bahwa keberadaan mereka sangat penting untuk mengontrol warga di sekitarnya. Saat ini kita hidup bukan pada kondisi ideal sebuah masyarakat Islami. Banyak orang yang sudah tidak peduli dengan kerusakan generasi muda yang terjadi saat ini. Padahal Rasulullah SAW bersabda:

"Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya." (HR al-Bukhary).

Keempat, penerapan aturan dan sanksi tegas dari negara. Individu yang Islami, juga keluarga dan masyarakat yang Islami tentu akan sulit terwujud jika tidak ada aturan yang tegas dari institusi formal, yakni negara. Mencuatnya kasus sadistik yang terjadi saat ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Hal itu adalah masalah sistemik yang juga harus diselesaikan secara sistemik pula. Mulai dari, sistem (pengaturan) terkait media massa yang harusnya tidak mempertontonkan gaya hidup hedonisme, pornografi, pornoaksi. Lalu, sistem pendidikan yang mengatur lembaga-lembaga pendidikan untuk membina para siswanya (sehingga bukan hanya transfer ilmu semata). Kemudian, sistem ekonomi yang harus diatur dengan syariat Islam, bukan syariatnya kapitalis yang menyebabkan orangtua lebih berorientasi pada materi daripada mengurusi anak-anak mereka. Sampai terkait sistem peradilan terkait peredaran miras dan sanksi tegas bagi pelaku tindak pidana. Kejahatan yang terjadi pada Yuyun misalnya dapat dikenai sanksi: hukuman jilid karena penculikan, rajam karena pemerkosaan, sekaligus qishas karena pembunuhan.

Walhasil, penerapan Syariat Islam dalam seluruh aspek tadi menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Tidak satupun aturan yang sempurna selain Islam dalam menyelesaikan permasalahan. Termasuk kasus sadistik yang angkanya semakin naik. Tentu saja aturan ini harus diterapkan secara integral-menyeluruh oleh negara, dan tidak ada yang dapat menjamin pelaksanaannya kecuali Negara dengan Konsep Pemerintahan Khilafah.

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Monday, May 16, 2016

Post a Comment
close