Buka Puasa Bersama di Gereja Inisiatif Istri Gus Dur



Meski mendapatkan penolakan keras dari Front Pembela Islam (FPI), acara buka bersama Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid dengan para pemuka agama Katolik di gereja Semarang tetap digelar. Bahkan Barisan Anshor Serba Guna Nahdhatul Ulama (Banser) Jawa Tengah siap mengamankan acara tersebut.

Kepala Satuan Koordinasi Wilayah Banser Jawa Tengah, Hasyim Asy'ari, menyatakan, anggotanya siap diterjunkan untuk mengamankan acara. Namun, pihaknya menyatakan sikap bahwa acara bukber di gereja Santo Yakobus Zebedeus Pudak Payung itu merupakan inisiatif Shinta Nuriyah, termasuk lokasi dan peserta.

"Sikap Banser jelas, kita menghormati Ibu Nyai Nuriyah sebagai Guru. Jadi jika beliau menghendaki hadir di Pudakpayung, maka Banser siap kawal dan dampingi," katanya di Semarang, Kamis, 18 Juni 2016.

Menurutnya, sikap itu penting ditegaskan agar tidak salah paham dan tidak menimbulkan kesan bahwa kegiatan itu adalah inisiatif gereja, dan Banser membela gereja. "Padahal kita kawal Ibu Nyai Nuriyah. Kita akan kerahkan Banser Satkorcab Kabupaten Semarang dan Kota Semarang untuk stand by di lokasi, " katanya.

Sebelumnya, ormas Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah menyatakan penolakannya terkait cara bukber di gereja tersebut. Penolakan itu bahkan tak hanya di gereja Pudak Payung, melainkan rencana awal digelar di gereja Paroki Raja Ungaran. FPI mengklaim, penolakan itu juga datang dari sejumlah ormas Islam lain.

"Kita tolak acara itu karena keberatan kalau Bu Shinta berdoa bersama di gereja," kata Ketua Tim Advokasi FPI Jawa Tengah, Zaenal Abidin Petir.

Menurut rencana, acara buka di gereja akan digelar pada hari ini pukul 16.00-17.45 WIB. Menurut panitia acara, acara buka bersama istri mendiang Gus Dur ini di gereja Semarang dimaksudkan sebagai bentuk kerukunan lintas agama.

Penolakan ini bukan hanya dari FPI, justru penggagas awal Adalah dari para sesepuh NU Pudak payung KH Fachrudin Al Hafiz dan Muslimat NU. Jadi, memang sengaja untuk tidak mengotori bulan suci ini, Buka bersama di gereja tersebut untuk dipindah di Kelurahan saja.

Ini bukan kerukunan antar umat beragama, tapi sudah menjerumus ke pemahaman sesat pluralisme yang ujungnya sinkretisme. sseharusnya dalam masalah ibadah seperti ini,kaum muslimin memgang prinsip yang sudah jelas, lakum dinukum waliadien !!

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Friday, June 17, 2016

Post a Comment
close