BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-13: UBAH ALOKASI


Oleh : Prof Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu bagaimana mereka mengatur alokasi sumber daya dalam hidupnya.

Semua apa yang ada di dunia serba terbatas.  Sekaya ataupun seberkuasa apapun seseorang, tetap saja dia dicengkam keterbatasan.  Setidaknya kapasitas otaknya terbatas.  Tenaganya terbatas.  Waktu yang dia miliki terbatas.  Orang yang dia kenal terbatas.  Oleh karena itu dia mesti pandai-pandai mengatur alokasi semua sumber daya yang dia miliki.  Dan alokasi ini tergantung apa yang dia anggap penting.

Kalau kita memiliki sebuah gelas besar, lalu kita memiliki beberapa butir kelereng, beberapa sendok pasir dan secangkir air, lalu kita akan memasukkan semuanya ke dalam gelas besar tadi, apa dulu yang kita masukkan?

Kalau kita masukkan air dulu secangkir, ada kemungkinan gelas besar itu langsung hampir penuh, sehingga kelereng dan pasir itu tidak bisa masuk.  Atau kalau dipaksakan masuk, maka airnya juga akan meluap dan malah terbuang percuma.   Tentu saja, cara yang paling tepat adalah kita masukkan seluruh kelereng dulu.  Lalu pasir akan mengisi di sela-selanya.  Baru terakhir adalah air.

Kelereng adalah hal-hal yang kita anggap vital & urgen dalam hidup atau dalam pekerjaan kita.  Jadi, dengan sumberdaya kita yang terbatas, kita harus mengalokasikan dulu hal-hal yang kita anggap vital, yang kalau itu tidak ada, maka hidup atau pekerjaan kita tidak punya makna lagi.  Kemudian kita alokasikan yang lebih urgen, yang faktor waktu menentukan.

Persoalannya apa yang kita anggap vital dan urgen?  Bagi anak sekolah, tentu saja sekolah adalah urgen.  Kalau sekolahnya sampai gagal, maka hidupnya selanjutnya bisa bermasalah, pilihannya semakin terbatas.  Sekolah juga urgen, karena pada titik tertentu ada batasan usia.  Bahkan bagi mahasiswa pascasarjana yang ingin mendapat beasiswa pun ada batas usia.  Beberapa lembaga membatasi usia calon penerima beasiswa program Doktor pada 35 tahun.  Ini karena didasari pemikiran agar yang bersangkutan sudah menamatkan Doktornya pada usia 40 tahun, sehingga masih cukup waktu untuk mengabdikan ilmunya.

Bagaimana untuk orang yang sedang meniti karier dan juga telah berumah tangga?  Apakah kelerengnya adalah kariernya, sehingga waktunya untuk keluarga hanya dijadikan “pasir”, cukup disisipkan di sela-sela “kelereng kariernya” ?  Mungkin dia akan meraih jenjang karier tertinggi.  Tetapi bagaimana kalau itu harus dibayar dengan keluarga yang berantakan, istri selingkuh dan anak menjadi pecandu narkoba?  Pada titik inilah, kita semakin menyadari bahwa memilih apa yang kita jadikan “kelereng” adalah setidak-tidaknya sama pentingnya dengan mengalokasikan sumberdaya yang kita miliki.  Dengan demikian alokasi sangat terkait erat dengan preferensi (soal memilih apa yang kita akan utamakan).

Keberhasilan pemerintah pusat ataupun daerah pun sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengalokasikan sumberdaya.  Mereka sudah tahu, bahwa anggaran yang dimiliki terbatas, personelnya terbatas, ruang atau lahanyang dimiliki terbatas, mandat yang diberikan juga tidak lama.  Maka mestinya mereka dapat mengalokasikan itu semua pada hal-hal yang memang vital dan urgen bagi rakyatnya.  Setiap perencanaan baik tata ruang, personel, anggaran dan kegiatan mestinya dipikir masak-masak, apakah hal itu benar-benar vital bagi rakyat dan urgen dikerjakan sekarang ?

Dengan menyadari bahwa waktu hidup kita di dunia ini terbatas, tenaga, kapasitas otak, orang-orang yang kita kenal, juga harta benda kita semua terbatas, maka kita perlu mengalokasikan dengan benar berdasarkan hal-hal yang kita anggap vital dan urgen dengan itu semua.

Kalau waktu kita di dunia habis, kita mati, apa yang vital dan urgen bagi kita?  Kalau kita percaya bahwa Allah Yang Maha Kuasa hanya menilai kita dari ketaatan kita di dunia kepada-Nya, maka tentu semua perintah Allah yang wajib akan menjadi kelereng-kelereng kita.  Kita akan jadikan ibadah mahdhoh yang fardhu sebagai kelereng.  Kita akan jadikan berbakti pada orang tua sebagai kelereng.  Kita akan jadikan dakwah amar ma’ruf nahy munkar sebagai kelereng.  Demikian juga hal-hal fardhu lainnya.  Tidak apalah kalau yang sunnah nafilah atau yang mubah belum sempat kita beri alokasi, asalkan semua yang wajib telah teralokasikan.  Kalau kita gagal mengatur alokasi sumberdaya kita untuk semua yang wajib ini, pasti Allah enggan merubah nasib kita.  Dia bahkan berjanji tidak akan mengabulkan doa-doa kita, manakala kita berdiam diri (tidak melakukan nahy munkar) ketika menyaksikan kemungkaran meraja lela.

Secara detil, mereka yang terjun ke dalam dunia dakwah, karena meyakini bahwa itu adalah sebuah “kelereng”, harus pula pandai-pandai mengalokasikan sumberdaya di sana.  Apakah tepat mengerahkan seluruh sumberdaya untuk hanya membahas topik sholat saja misalnya?  atau topik sabar saja?  Atau sebaiknya ada alokasi yang seimbang dengan yang menyampaikan topik-topik lain, semisal bagaimana menata keluarga yang sakinah, bagaimana terlibat dalam muamalah (ekonomi) yang syar’i, hingga bagaimana menata negara yang sesuai cara Rasulullah.  Semua perlu dialokasikan, dan preferensi mana yang lebih utama, disesuaikan dengan kondisi target dakwah serta ketersediaan sumberdaya dakwah yang dimiliki.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk mengubah alokasi hidup kita. Mudah-mudahan, pada hari ke-13 bulan Ramadhan, kita sudah bisa mengubah atau mengoptimasi alokasi sumberdaya yang kita miliki dalam hidup kita, agar Allah mengubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Friday, June 17, 2016

Post a Comment
close