BULAN PERUBAHAN - Ramadhan Hari-15: UBAH INVESTASI


Oleh : Prof Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu bagaimana mereka berinvestasi dalam hidupnya.

Sebenarnya, semua orang terlahir bodoh, miskin dan tak berdaya. Lihatlah seorang bayi yang baru lahir. Dia tak tahu apa-apa, bahkan siapa dirinya juga dia tidak tahu. Dia tak memakai apa-apa. Dan dia tak bisa apa-apa kecuali menangis. Kalau dia beruntung, dia akan didampingi oleh orang tua yang baik, yang akan mengajarkan apapun yang perlu dia ketahui di dunia ini. Mereka juga akan memberikan ASI, makanan, pakaian dan tempat berteduh. Sampai suatu ketika nanti, dia cukup kuat untuk mengarungi sendiri dunia yang luas ini. Lihatlah, apa yang dilakukan si orang tua tadi, adalah sebuah investasi. Tanpa investasi, mustahil manusia yang bodoh, miskin dan tak berdaya, bisa berubah menjadi pandai, kaya dan berdaya.

Namun di dunia ini tidak semua manusia beruntung seperti itu. Faktanya, ada anak yang sedari kecil hanya didampingi orang tua yang juga bodoh, miskin dan tak berdaya. Akibatnya, anak itu tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layakpun tidak. Akibatnya, ketika dia beranjak dewasa, kebodohan, kemiskinan dan ketidakberdayaan orang tuanya itu bisa menurun dalam dirinya. Jadilah lingkaran setan alias siklus kebodohan, kemiskinan dan ketidakberdayaan yang berkelanjutan.

Mata rantai siklus itu harus diputus. Dengan investasi.

Investasi ini ada tiga macam: internal, horizontal dan vertikal.

Investasi internal adalah bagaimana seseorang membangun dirinya sendiri. Suatu ketika, investasi ini memang perlu stimulus dari luar dirinya, tetapi sesungguhnya dirinya sendirilah yang berperan sangat signifikan. Perannya adalah bahwa dia harus melakukan berbagai hal, misalnya belajar meraih sebuah kompetensi, menjaga kesehatannya, selalu bersabar menjalani proses, dan sebaginya. Dengan perspektif ini, maka membaca buku yang bermutu adalah sebuah investasi. Menggosok gigi adalah sebuah investasi. Rapi dalam antrian (tidak menyerobot) adalah sebuah investasi.

Investasi horizontal adalah bagaimana seseorang menjadikan dirinya bernilai di tengah-tengah manusia. Di situlah perlunya dia berkomunikasi dan membuat jejaring dengan orang lain. Investasi ini bisa berkembang ke ranah finansial. Namun modal utamanya adalah reputasi yang membuat orang percaya. Kalau orang percaya, maka modal baik berupa asset fisik maupun uang akan mudah diperoleh. Karena itu, bersikap ramah adalah sebuah investasi. Bertindak profesional adalah sebuah investasi. Menepati janji adalah sebuah investasi.

Investasi vertikal adalah bagaimana seseorang menjadikan dirinya pantas ditolong oleh kekuatan di luar alam semesta (supranatural force), yaitu dari Allah swt. Investasi ini membuat dia diselubungi oleh perlindungan yang tidak tampak, yang mendekatkannya ke rizki yang tidak disangka-sangka, menjauhkannya dari marabahaya, dan membuat doanya mudah terkabul. Investasi vertikal dilakukan dengan senantiasi mentaati yang disukai Allah swt, berupa menjalankan semua yang diwajibkan, menjauhi semua yang diharamkan, dan menambahnya dengan semua yang termasuk sunnah-nafilah. Maka tampaklah, bahwa sholat berjama'ah lima waktu di masjid adalah sebuah investasi. Membaca Qur'an dan merenungkan maknanya adalah sebuah investasi. Menghubungkan tali silaturahim adalah sebuah investasi. Bershadaqah adalah sebuah investasi. Dan berdakwah amar ma'ruf nahy munkar adalah sebuah investasi.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk mengubah investasi hidup kita. Mudah-mudahan, pada hari ke-15 bulan Ramadhan, kita sudah bisa berinvestasi internal, horizontal dan vertikal, agar Allah mengubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Sunday, June 19, 2016

Post a Comment
close