BULAN PERUBAHAN, Ramadhan Hari-2 : Ubah Posisi


Oleh : Prof Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu di mana posisinya. Yang diubah ini setidaknya ada 3 macam:

1. Ubah secara fisik posisi tempat dia berada
2. Ubah secara mental kedudukannya di dunia
3. Ubah secara proaktif posisinya terhadap sebuah peristiwa

Ketika Rasulullah menunjukkan kemuliaan berjama’ah di shaf pertama, itu tanda bahwa posisi menentukan prestasi.  Ketika Rasulullah menunjukkan bahwa berdiri sebagai muadzin itu lebih utama daripada berangkat ke masjid setelah mendengar adzan, itu tanda bahwa posisi menentukan nasib. Di dunia finansial saja kita melihat bahwa posisi tempat usaha bisa menentukan seberapa banyak akan didatangi pelanggan.

Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah bahkan mencontohkan hijrah, sebagai perubahan posisi secara fisik (migrasi), yakni dari Daarul Kufur (negeri yang menerapkan sistem kufur dan menghalangi dakwah Islam) ke Daarul Islam (negeri yang menerapkan sistem Islam dan keamanannya ada di pundak kaum muslimin).  Dalam konteks individual, Rasulullah bahkan menceritakan kisah seseorang dari umat terdahulu, yang telah banyak membunuh ulama, lalu ingin bertobat.  Untunglah ada seorang alim yang menasehatinya, bahwa untuk bertobat, pembunuh itu harus pindah, keluar dari lingkungannya yang selalu memaksa dirinya tetap dalam kondisi fasik. Pembunuh itu harus pindah menuju ke lingkungan orang-orang shaleh.  Dalam perjalanannya, pembunuh itu meninggal.  Malaikat penjaga surga dan penjaga neraka memperebutkan pembunuh itu. Tetapi setelah diukur, ternyata pembunuh itu sudah lebih dekat ke kampung orang shaleh walaupun hanya satu jengkal.  Maka jadilah dia hak malaikat penjaga surga.  Itulah hikmah dari merubah posisi. Kalau kita ingin menjadi shaleh, ubah posisi kita secara fisik mendekati komunitas orang-orang shaleh.Namun selain mengubah posisi fisik, kita bisa juga mengubah posisi mental.  Orang-orang yang bermental inferior (rendah diri), akan tidak berhasil mengubah nasibnya, sekalipun diberikan fasilitas dan bekal yang super lengkap.  Kepada mahasiswa yang selalu mengeluh dengan laptopnya, yang konon sudah 5 tahun tuanya, saya sampaikan, bahwa tahun 1997 dulu saya meraih gelar Doktor dengan laptop yang hanya memiliki RAM 4 MB dan harddisk 250 MB !!!  Dan tahukah Anda, bahwa peluncuran Apollo ke bulan bahkan hanya dengan komputer yang kondisinya lebih parah lagi.  Posisi mental memang amat penting, terlebih bagi pemangku jabatan publik.  Ada pejabat eselon-1 yang suka mengeluh.  Katanya anak buahnya payah.  Padahal, dia dalam posisi bisa melakukan perubahan. Kalau dia berwenang mengganti, ya ganti saja anak buahnya itu.  Kalau dia berwenang mengirimkan ke suatu training, ya kirimkan saja.  Gitu saja mengeluh.  Jadi pejabat, tetapi posisi mentalnya kacung.Seorang muslim harus memiliki posisi mental sebagai hamba Allah yang hidup untuk beribadah dan taat kepada syariat-Nya, dan pada saat yang sama berusaha keras menjadi bagian dari umat yang terbaik, yang mampu dan berwibawa menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah.  Hanya dengan itu dia akan dapat menuntaskan misi sebagai pembawa rahmat ke seluruh alam.  Ini posisi mental yang harus dipegang teguh oleh seorang muslim, di negeri manapun dia berkiprah, dan pada profesi dan jabatan apapun dia bekerja.

Sebagai hamba Allah, seorang muslim harus memposisikan diri bahwa dia itu lemah dan terbatas. Karena itu dia selalu merasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah.  Petunjuk itu turun lewat Nabi-Nya.  Karena itu, seorang muslim tidak akan merasa lebih pintar dari Rasulullah, dalam mengatur urusan kehidupan.  Dia tidak akan menjadikan kehendak orang banyak sebagai sumber hukum tasyri’i, karena membuat hukum itu wewenang Allah semata.  Dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, dia senantiasa mencari apa syari’at Allah dalam menjawab persoalan itu. Ketika dia telah mendengarnya, maka dia mentaatinya.  Dia memposisikan dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai majikannya.

Namun yang terpenting adalah posisi seseorang terhadap suatu peristiwa.  Ketika ada masalah atau musibah, maka dia bisa memposisikan diri sebagai korban, sebagai penonton, atau sebagai PENOLONG.  Kalau kita memposisikan diri sebagai korban, kita hanya perlu menyalahkan orang lain.  Semua yang salah orang lain, konspirasi Yahudi, ulah Iluminati atau makar Dajjal.  Kita tidak perlu introspeksi.  Kalau kita memposisikan diri sebagai penonton, kita salahkan saja korban, dan kita tidak perlu berbuat apa-apa.  Tetapi kalau kita memposisikan diri sebagai penolong, maka kita akan berpikir keras, bagaimana agar musibah itu dapat diatasi, dan ke depan tidak terulang lagi.  Sesungguhnya Allah pasti akan menolong seorang hamba yang menolong urusan agama-Nya.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk merubah posisi kita, bukan malah bulan bertahan dalam posisi kebekuan yang lama.  Mudah-mudahan, mulai masuk malam-2 bulan Ramadhan, kita sudah bisa merubah POSISI kita, agar Allah merubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Monday, June 6, 2016

Post a Comment
close