BULAN PERUBAHAN - Ramadhan Hari-5: UBAH FREKUENSI


Oleh : Prof Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu frekuensi dirinya.

Di dunia ini bersliweran jutaan gelombang radio. Gelombang radio itulah yang ditumpangi siaran radio, televisi maupun sinyal ponsel kita. Tetapi kita hanya bisa menikmati salah satu saja, yakni bila frekuensi dari alat penerima kita sudah kita samakan dengan frekuensi pemancar.

Ternyata seperti itu pula hubungan komunikasi di dalam diri manusia, antara manusia dengan manusia lain, dan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Ada manusia yang tidak mampu mendengar suara hati nuraninya. Akal dan perasaannya ada pada frekuensi yang berbeda, sehingga perasaannya tidak mengikuti apa yang dibenarkan oleh akalnya. Ada dokter yang tahu bahwa merokok itu merusak kesehatan, tetapi keinginannya untuk merokok tidak dapat dihindarinya. Ada juga ustadz yang tahu bahwa riba itu haram, tetapi keinginannya untuk memiliki barang mewah sekalipun dengan kredit ribawi tidak dapat dicegah. Demikian juga ada ustadzah yang kenal hukum wajibnya menutup aurot dengan jilbab (gamis) dan khimar (kerudung), kalau mengisi pengajian juga berbusana lengkap, tetapi ternyata kalau menemui tetangga di halaman rumah kerudungnya sering dilupakan. Lebih ironis lagi, ada seorang pejabat publik, tokoh suatu gerakan Islam, Doktor lulusan Timur Tengah, tetapi terbukti di pengadilan telah melakukan tindak pidana korupsi. Yang dikorupsi juga dana yang secara spesifik merupakan titipan umat Islam. Ternyata frekuensi akal dan perasaan mereka belum sama. Kepribadian mereka masih terbelah.
Getar frekuensi yang sama antara akal dan perasaan itu hanya bisa diraih bila orang semakin sering menyamakannya. Artinya, semakin sering orang memaksa amalnya mengikuti kebenaran yang dikenal akalnya, maka akan semakin mudah dia tersentuh dengan kebenaran. Tak heran Islam mensyaratkan mukallaf (orang yang dikenai beban hukum) itu harus orang yang berakal sehat. Akallah yang dapat mengenali kebenaran. Sedang perasaannya (hawa nafsunya) harus dapat ia kendalikan sendiri.

Dalam hubungan antar manusia, kita sering mendapatkan ada orang-orang yang mudah mengerti maksud kita, dan kitapun mudah mengerti maksud mereka, tetapi ada juga yang sulit. Akibatnya sering timbul salah paham antar manusia. Kata seorang ahli komunikasi, 50% problem di dunia itu karena mis-komunikasi. Mis-komunikasi inilah yang menyulut dari perceraian hingga peperangan. Karena itu tidak ada salahnya, agar komunikasi kita efektif, kita mencoba menyamakan frekuensi dengan lawan bicara. Kata Rasulullah, "Sampaikan Islam dengan bahasa yang dimengerti kaummu". Untuk mengerti frekuensi lawan bicara, kita perlu mengetahui latarbelakangnya. Misalnya, dia berasal dari mana, keluarganya seperti apa, pernah sekolah di mana saja, kerjanya sekarang apa, hobbynya apa, kawan atau lawan dia siapa, pernah atau sedang menghadapi masalah apa saja, dan sebagainya. Dengan bekal itu, mungkin kita bisa empati. Kalau dia bersikap kasar, atau acuh tak acuh, atau bahkan antipati dengan kita, kita bisa mengerti. Dan dengan bekal itu kita bisa mencari frekuensi yang lebih tepat.

Namun yang paling penting adalah mencari frekuensi yang paling tepat dalam berhubungan dengan Tuhan. Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu tentang segala sesuatu, termasuk tentang diri kita. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu dia berikan hidayah baik yang tersurat di dalam Qur'an, maupun yang tersirat di alam semesta dan di berbagai kejadian yang kita temui dalam kehidupan. Tetapi tidak semua hidayah itu dapat kita tangkap. Karena frekuensi kita belum kita samakan dengan frekuensi Tuhan.

Tak heran, banyak orang, meski mengaku sama-sama menjadikan Qur'an sebagai referensi, tetapi pemahamannya bisa berbeda, bahkan bisa berseberangan. Ini karena di antara mereka masih berbeda frekuensinya dalam memahami "sinyal Tuhan". Perbedaan frekuensi ini bisa karena perbedaan dalam mengenal bahasa dan budaya Arab, perbedaan dalam memahami realitas fakta yang dihukumi, atau juga perbedaan kepentingan dalam masalah itu.

Karena itu, para ahli ilmu di zaman dahulu selalu berendah hati. Mereka memahami bahwa ijtihad itu - selama dijalankan dengan metode yang sah - hasilnya bisa benar dan juga masih bisa salah. Kalau benar dapat dua pahala, kalau salah dapat satu pahala (karena telah menggunakan metode yang sah). Imam Syafi'i mengatakan,

كلامي صواب يحتمل الخطأ و كلام غيري خطأ يحتمل الصواب

Pendapatku benar dan mungkin bisa saja salah, sedang pendapat orang lain salah dan mungkin saja benar.

Maka, para ilmuwan zaman dahulu, mencurahkan usaha yang maksimal dalam menyamakan frekuensinya dengan frekeunsi Ilahiyah, agar maksimal dalam mengenal kebenaran yang sejati. Rasulullah pernah mensyariatkan, bahwa para sahabat yang ingin bertanya tentang suatu persoalan kepada beliau, dianjurkan untuk shadaqah dulu kepada faqir miskin. Shadaqah itu memuluskan jalan menyamakan frekuensi mereka dengan frekuensi pelajaran yang akan diberikan Nabi. Untuk itu, bahkan para saintispun, setiap kali menemui kesulitan di laboratorium, atau akan menuliskan hasil risetnya, mereka sholat sunat memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, agar diberikan kekuatan, sehingga apa yang dituliskannya itu benar, dapat bermanfaat bagi umat manusia, bisa menginspirasi orang-orang berikutnya, benar-benar diperlukan dalam kehidupan dunia dan akherat, dan telah disampaikan dengan hikmah dan cara yang baik.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk merubah frekuensi kita. Setiap amal fardhu dan nafilah di bulan ini diharapkan bisa menjadikan kita lebih mudah menyamakan frekuensi kita dengan frekuensi Ilahi. Mudah-mudahan, mulai masuk malam-5 bulan Ramadhan, kita sudah bisa merubah FREKUENSI kita, agar Allah merubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Thursday, June 9, 2016

Post a Comment
close