BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-6: UBAH ASUMSI


Oleh : Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu asumsi-asumsi yang selama ini digunakannya.

Dunia ini penuh dengan asumsi (anggapan yang dianggap benar).  Tidak hanya untuk negara setiap membuat RAPBN yang dimulai dengan beberapa asumsi (misal nilai tukar Dollar, lifting minyak, dsb), setiap hari orang beraktivitas pun dengan menyimpan asumsi di dalamnya. Contoh dari asumsi itu:  dia berangkat ke tempat kerja karena berasumsi di sana ada sesuatu yang dapat dikerjakannya, atau kalau dia tidak berangkat, dia akan mendapatkan sanksi, setidaknya sanksi sosial (malu), karena orang-orang lain juga berangkat, dan mereka sama-sama dibayar untuk itu.  Tentunya akan sangat berbeda, kalau dari awal dia punya asumsi bahwa di kantor tidak ada yang dapat dikerjakannya, atau di sana dia akan mendapatkan suasana yang tidak enak, yang membuatnya makin lama merasa justru makin membusuk.

Orang mencari sebuah tempat juga menyimpan asumsi.  Minimal, dia berasumsi bahwa alamat yang dituju itu memang ada, bukan fiktif, bukan pula palsu.  Karena itu, di kehidupan nyata, tidak ada orang yang pergi mencari Negeri Dongeng, karena negeri itu memang hanya ada di dalam dongeng di majalah anak-anak.  Demikian pula, se real apapun film Harry Potter, tidak ada orang yang serius mencari sekolah bernama Sekolah Sihir Hogwarts, karena semua berasumsi bahwa itu hanya khayalan.

Setelah berasumsi bahwa tempat yang dituju ada, maka dalam perjalanan ke sana orang juga berasumsi bahwa di jalan raya secara umum orang lain akan mematuhi aturan lalu lintas.  Tanpa asumsi ini, kita akan sangat sulit berperilaku di jalan, misalnya di sisi kiri atau kanan kendaraan kita berjalan, atau kalau lampu lalu lintas berwarna hijau kita sebaiknya jalan terus atau berhenti.

Ketika sampai di tempat tersebut, orang juga akan berperilaku sesuai asumsi.  Misalnya, orang Indonesia yang biasa buang sampah atau meludah sembarangan, begitu sampai ke Singapura akan mendadak takut buang sampah atau meludah sembarangan.  Hal ini karena dia berasumsi, di Singapura ada hukum kebersihan yang sangat ketat, konon buang sampah sembarangan bisa didenda 100 Dollar, dan penegak hukumnya sangat tegas, tidak bisa disuap. Asumsi ini yang membuat Singapura menjadi kota terbersih di dunia, termasuk di tempat-tempat yang tidak ada polisi.

Asumsi ini muncul karena sebab yang bermacam-macam.  Yang terbanyak adalah karena tradisi (al-urf) yang sudah dibuat orang sebelumnya, yang bisa saja bersumber dari mitos.  Bisa juga itu peraturan yang telah lama tersosialisasikan dan dipatuhi.  Namun ada juga asumsi karena pengalaman individual, baik dialami sendiri atau didengar dari pengalaman orang lain.

Yang repot kalau asumsi ini bersifat negatif.  Misalnya orang Barat berasumsi bahwa orang Islam – apalagi Arab dan keriting – itu bebal-bebal, susah diajak berpikir kritis dan maju.  Asumsi bahwa orang Jawa itu nrimo (pasrah pada nasib), lelaki Sunda itu pemalas, dan perempuan Minang itu matre.  Di sini asumsi sama dengan prasangka. Dan benar menurut Qur’an: sebagian besar prasangka itu dosa.  Prasangka adalah asumsi yang tidak rasional. Biasanya ini hanya karena secuil pengalaman buruk individual, tidak mewakili populasi, apalagi hasil survei. Khusus untuk asumsi yang bias gender atau rasis ini saya katakan: “Semua orang Jawa itu sesat … ” (padahal saya juga orang Jawa), terus saya lengkapi, “Semua orang Jawa itu sesat, kecuali yang beriman dan beramal shalih”.  Hal yang sama tentu juga bisa diterapkan untuk semua etnis.

Contoh asumsi negatif yang lain adalah yang menyangkut kelemahan diri, sehingga diri enggan berubah. Misalnya ucapan, “Yach, saya belum dapat hidayah, padahal kalau Allah kehendaki, tentu tak ada yang menghalangi”, “Rejeki itu di tangan Tuhan, kalau memang buat saya, ya akan sampai juga”, “Saya bukan orang Arab, nggak berbakat untuk belajar huruf Arab”, dan sebagainya.

Dampak asumsi ini bisa mengerikan.

Asumsi bahwa Tuhan memang belum memberinya hidayah, membuatnya hanya menunggu, bukannya malah giat memburu hidayah.  Akibatnya meski sudah mapan, bekal sudah cukup, tetapi tidak juga mendaftar untuk berangkat haji atau pergi berdakwah.  Dia berasumsi haji atau dakwah itu harus pangglan, sementara dia merasa belum dapat panggilan.  Bagi pengemban dakwah, asumsi di atas bisa juga membuatnya pasif, belum-belum menganggap orang lain “susah”, sehingga tidak berusaha lebih empati atau lebih kreatif dalam mendekati dan menggarap target dakwahnya.

Asumsi bahwa rejeki itu sudah ditentukan Tuhan, membuatnya pasif menunggu pemberian orang, bukannya aktif, kreatif dan optimis, berusaha menjemput rejeki yang jauh lebih besar yang pasti memang telah ditentukan Tuhan, dan tetap disyukuri bila setelah berusaha hasilnya belum sebesar yang diharapkan.

Asumsi bahwa dia tidak berbakat belajar huruf Arab, menghalanginya belajar membaca Qur’an atau bahasa Arab, bukannya malah lebih rajin lagi.  Bukankah air biarpun jatuh setetes demi setetes, kalau berpuluh tahun, bisa pula melubangi batu yang keras?

Intinya, kalau mau berubah, kita memang harus merubah asumsi-asumsi dalam kita.  Asumsi-asumsi yang negatif harus kita ganti.  Asumsi yang tidak rasional harus diganti dengan asumsi rasional yang ada dasarnya dalam Kitabullah atau Sunnah Rasul, atau ada dasarnya menurut ilmu pengetahuan.

Termasuk asumsi yang harus kita ubah adalah asumsi bahwa kondisi umat Islam yang terpuruk dan terkotak-kotak dalam lebih dari 50 negara bangsa saat ini sudah final, mustahil diubah lagi.  Asumsi bahwa akhir dari sejarah adalah kemenangan kapitalisme.  Asumsi bahwa demokrasi itu adalah sistem pemerintahan terbaik bagi manusia. Asumsi bahwa tidak mungkin melakukan pembangunan tanpa hutang dan tidak mungkin hutang tanpa melibatkan bunga.  Asumsi-asumsi ini semua harus kita ubah, karena didasarkan hanya pada mitos-mitos dan kompromi-kompromi yang tidak memuaskan akal, tidak menenangkan jiwa, serta tidak menyelesaikan permasalahan manusia.  Kita ganti dengan asumsi bahwa ajaran Islam telah lengkap, mengatur segala urusan dengan cara yang khas termasuk urusan pemerintahan, dan umat Islam adalah umat yang terbaik yang dihadirkan Allah di tengah manusia, dan bahwa Khilafah yang mempersatukan umat Islam akan bangkit lagi. Sebenarnyalah ini bukan sekedar asumsi, karena ada realita empiris di masa lalu.   Kalau kita menggunakan asumsi ini, maka persepsi dan aksi kita ke depan akan sangat berbeda.

Kita harus berasumsi bahwa kalau kita mendekati Allah sejengkal, Allah akan mendekati kita sehasta.  Kalau kita mendekati Allah dengan berjalan, Allah akan mendekati kita dengan berlari.  Ini asumsi yang bersumber dari iman Islam.  Jadi, hidayah harus kita dekati, bukan kita tunggu !  Berkah harus kita rengkuh, bukan kita nanti. Kita rengkuh dengan menerapkan syari’at mulai dari diri kita, dan kita perjuangkan agar diterapkan di masyarakat dan disebarkan ke seluruh dunia oleh negara yang punya komitmen untuk itu.  Negara yang punya komitmen untuk menjadi jalan hidayah dan keberkahan bagi seluruh warganya.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk merubah asumsi-asumsi kita. Mudah-mudahan, mulai masuk malam-6 bulan Ramadhan, kita sudah bisa merubah ASUMSI kita, agar Allah merubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Friday, June 10, 2016

Post a Comment
close