BULAN PERUBAHAN – Ramadhan Hari-7: UBAH INFORMASI


Oleh : Prof. Fahmi Amhar
Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu perlakuannya terhadap informasi, baik yang datang kepadanya, maupun yang pergi darinya.

“Katakanlah, buku apa yang kau baca, siaran radio apa yang kau dengar, tayangan TV mana yang kau tonton, dan situs internet mana yang kau kunjungi, maka kami bisa tahu, kamu ini manusia seperti apa, dan sepuluh tahun lagi, kau akan jadi apa”.

Manusia adalah satu-satunya mahluk di muka bumi yang dapat menerima berbagai jenis informasi, mengolahnya, menyimpannya, menyajikannya dalam bentuk lain, dan menyebarluaskannya sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi jauh sesudahnya.  Tidak ada binatang yang menyimpan pengalamannya dalam sebuah media yang bisa dimanfaatkan binatang lain yang tidak pernah bertemu dengannya.

Karena itu, informasi memiliki kekuatan merubah.  Bahkan, di abad-21 M ini, diyakni bahwa informasi lebih kuat dari kapital, lebih kuat dari senjata, bahkan lebih kuat dari tenaga berjuta manusia.

Tetapi untuk bisa mengubah nasibnya ke arah yang dikehendaki dengan informasi, seseorang wajib mengubah perlakuannya terhadap informasi.  Dia harus mampu memilah sumber informasi yang tepat, menggunakan akal sehat yang dimilikinya untuk menilai, apakah informasi itu layak dipercaya atau tidak, layak dimanfaatkan atau tidak, layak diteruskan atau dibuang saja.

Secara alamiah, informasi itu ada tiga jenis.

Ada informasi yang bersifat objektif/induktif, tidak tergantung siapa yang bicara, tetapi dapat dinilai dari logika di dalam informasi itu sendiri.  Ini biasanya menyangkut kesimpulan sebuah analisis dari premis-premis yang diketahui sebelumnya.  Misalnya, kalau ada dua fakta: (1) Nabi mendapat wahyu sehingga terjaga dari segala kesalahan di bidang agama; (2) Nabi berkata, bahwa mujtahid itu kalau benar dapat 2 pahala, kalau salah dapat 1 pahala.  Kesimpulannya: Nabi itu bukan mujtahid, karena nabi tidak bisa salah.  Pernyataan ini benar, karena konsisten dengan premisnya.

Contoh lain, ada seorang pengamat politik menyatakan, bahwa “Semua pengamat politik itu ngawur”. Pernyataan ini jelas salah, karena mengandung paradox di dalam dirinya, karena dia sendiri pengamat politik, berarti dia juga ngawur.  Padahal kalau dia ngawur, maka pernyataan “Semua pengamat politik itu ngawur” itu salah, berarti yang benar justru “tidak semua pengamat politik itu ngawur”.

Tidak semua informasi yang objektif, itu sudah lengkap.  Kalau objeknya rumit, maka tidak semua premisnya lengkap.  Karena itu, kesimpulan yang dibangun, suatu saat masih mungkin direvisi.  Dulu, berabad-abad orang puas memodelkan gerakan planet dengan fisika Newton.  Belakangan, Einstein menunjukkan bahwa model gravitasi yang mengatur gerakan planet itu jauh lebih rumit.  Einstein maju dengan teori relatifitas umum. Belakangan, data yang terkumpul menunjukkan bahwa Einstein lebih mendekati kebenaran.  Fisika Newton tidak salah total, tetapi dapat dipandang sebagai penyederhanaan dari fisika Einstein, dan tidak berlaku ketika ada medan gravitasi yang besar, atau kecepatan yang tidak lagi dapat diabaikan terhadap cahaya.  Ketika ternyata premis itu tidak lengkap, maka kebenaran kesimpulannya dapat direlatifkan.

Ada pula informasi yang bersifat deduktif, ini tergantung siapa yang bicara, punya otoritas tidak?  Kalau soal nama anak, itu pasti yang punya otoritas adalah orang tuanya.  Jadi kalau orang tuanya menyebut nama anaknya “Faiz”, maka itu pasti benar, dan pasti salah yang menyebut anaknya “Bejo”, meskipun maknanya sama.  Kalau soal rambu lalu lintas, itu yang punya otoritas adalah Polantas bersama DLLAJR.  Jadi kalau ada rambu “verboden”, maka pasti salah kalau orang masuk ke situ.   Di sini kebenaran tidak relatif.

Demikian juga kalau soal keberadaan surga/neraka, dan sifat-sifat calon penghuninya, itu yang punya otoritas adalah yang menciptakannya, Allah swt. Tentunya Allah berkata melalui rasul-Nya yang membawa bukti kenabian (mukjizat).

Ada pula informasi yang bersifat naratif, ini tergantung dari akurasi dan kejujuran rantai informasi (informan).

Kadang, informan pertama yang melihat fakta sudah dihinggapi oleh bias definisi.  Misalnya seekor kucing disangka harimau.  Rupanya definisinya tentang harimau adalah yang oleh orang lain masih dianggap kucing.

Bias berikutnya adalah alat yang dipakainya.  Ada alat yang peka dan teliti, ada yang kurang peka.

Lalu ada bias kondisi.  Informan yang dalam kondisi tidak fit, misalnya mengantuk, letih, lapar, atau sedang ada keperluan lain yang membuatnya terburu-buru, pasti tidak seakurat informan yang dalam kondisi ideal.

Kemudian ada bias pemrosesan.  Sebagian informasi pasti diproses dulu, dihubungkan dengan informasi lain atau suatu model yang dihinggapi asumsi.  Akibatnya, dua informan yang sama, bisa menilai kondisi dengan cara yang berbeda.  Informan yang pemberani akan berbeda laporannya dengan informan yang penakut.  Informan yang cerdas akan berbeda dengan informan yang biasa-biasa saja.  Informan yang islami akan berbeda dengan informan yang sekuler.

Terakhir, informasi itu bisa disajikan dengan cara yang berbeda.  Informan yang halus dan santun tutur katanya, akan berbeda dengan informan yang kasar atau cenderung memilih kata-kata yang menyinggung perasaan. Informan yang optimis akan melihat masalah sebagai peluang, sedang informan yang pesimis akan melihat peluang sebagai masalah.

Itulah kondisi informasi yang kita hadapi.  Mau tidak mau kita memang harus memilah dan memilih informasi yang akan kita ambil, kita percaya, kita jadikan acuan dalam mengambil keputusan, dan akan kita sebarkan.

Seorang muslim tentu diharapkan memilih rantai informasi yang pemberani (agar tidak takut ditekan pihak manapun), cerdas dan islami.  Tetapi untuk informasi yang sifatnya induktif atau deduktif, tentunya dia tetap harus menggunakan akal sehatnya, untuk menilai apakah kesimpulan analisis dalam informasi itu layak diambil atau tidak.  Dewasa ini banyak sumber informasi dengan bias ideologis, baik yang terlalu pro-Islam maupun terlalu anti-Islam. Yang pro Islam akan mengumbar berita yang terlalu positif untuk Islam, sekalipun tidak masuk akal (misalnya bahwa ada astronot yang mendengar adzan di bulan), atau yang terlalu negatif untuk lawannya (misalnya bahwa Amerika ada di balik tsunami Aceh 2004).  Hal-hal yang diberitakan itu terlalu tidak masuk akal sehat, karena bertentangan dengan fakta ilmiah yang dapat diverifikasi oleh siapapun dengan ideologi apapun. Jadi meskipun pro-Islam, sumber informasi yang sudah bias sebenarnya sudah tidak layak.

Hal serupa tentu saja perlu kita terapkan pada sumber Informasi yang terlalu anti-Islam.

Dan nasib kita sendiripun juga ditentukan, seperti apa informasi yang meninggalkan kita, artinya yang kita keluarkan ataupun yang orang lain menilai tentang diri kita.

Ada orang yang sebenarnya orang baik atau berprestasi, tetapi kebaikan atau prestasinya laksana gunung es, sebagian besar berada di bawah permukaan, tidak tampak, sementara yang tampak justru kejelekannya atau kegagalannya.  Hal ini karena sikapnya yang membuat orang mendapatkan informasi bahwa dia orang jelek atau wanprestasi.  Sebaliknya, ada juga jago pencitraan, yang kejelekannya tertutupi oleh kebaikannya, walaupun sebenarnya kebaikannya itu masih amat sedikit.

Yang terbaik tentu saja orang yang kebaikannya mendominasi, baik di area yang tidak kelihatan maupun di area yang kelihatan.  Sehingga orang mendapatkan informasi yang benar tentang dirinya.  Ini bisa dimulai ketika dia juga terbiasa memilih informasi yang benar tentang dunia sekitarnya.

Mestinya Ramadhan adalah bulan untuk merubah cara kita memperlakukan informasi. Mudah-mudahan, mulai masuk malam-7 bulan Ramadhan, kita sudah bisa merubah INFORMASI yang kita terima atau yang meninggalkan kita, agar Allah merubah nasib kita.
Like Fanpage kami :

Saturday, June 11, 2016

Post a Comment
close