Derita Masyarakat Sadikin (Sakit Sedikit Jatuh Miskin)



Sebagaimana yang kita ketahui, layanan kesehatan yang diterima masyarakat peserta BPJS sering minimalis dan tidak optimal. Bahkan dalam beberapa kasus, klaim pasien peserta BPJS acapkali ditolak, terutama dalam kasus pasien yang harus melakukan operasi dengan biaya besar. Selain itu, banyak tindakan medis, termasuk obat-obatan, yang tidak di-cover oleh BPJS. Problem yang vital, keberadaan BPJS merupakan bentuk lepas tanggung jawab Pemerintah dalam menjamin kesehatan warganya. Melalui BPJS Pemerintah seolah mau ’cuci-tangan’ dari kewajibannya melayani rakyat di bidang kesehatan.

di negeri demokrasi ini kita dapatkan jaminan terhadap kesehatan gratis dan merata bagi masyarakat semakin jauh. Dengan adanya swastanisasi pada pengelolaan kesehatan berakibat pada mahalnya biaya kesehatan. Sementara fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah tetap tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

Rakyat kembali diberi kado pahit, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sejak 1 April 2016 telah mengenakan denda 2,5 persen bagi penunggak premi yang menjalani rawat inap di rumah sakit dalam berbagai daerah di Tanah Air.Denda bagi penunggak premi BPJS tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Pepres) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Jaminan Kesehatan Nasional, yang merupakan revisi kedua dari Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013. Contohnya, jika tidak membayar premi selama tiga bulan untuk paket kelas I sebesar Rp 80 ribu per bulan, maka biaya perawatan rumah sakit bagi pasien bersangkutan sampai sembuh sebesar Rp 50 juta. Karena itu, saat keluarga pasien melunasi ongkos rawat inap, harus membayar 2,5 persen ditambah Rp50 juta dan ditambah lagi tunggakan tiga bulan tersebut.

Betapa nikmatnya mimpi kita semua jika negara dapat memberikan kenyamanan pada warganya berupa kesehatan gratis, pendidikan murah, sampai taraf hidup yang layak. Tentu saja, ini tidak hanya untuk segelintir masyarakat, tetapi berlaku untuk semua warga negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Tak diragukan bahwa kita nelangsa dan geram ketika kita membawa anggota keluarga yang sakit ke rumah sakit umum yang hanya menjawab “di sini semua kamar sudah penuh Pak, atau BPJS kelas 3 tidak mampu meng-cover kebutuhan obat si pasien Bu”. Hampir semua dari kita, rakyat Indonesia harus bekerja keras untuk menebus obat yang mahal, susah payah kita, mendapatkan sebungkus makanan, sementara para politisi memakan gaji dan tunjangan yang fantastik.

Banyak orang menderita kelaparan di negeri yang memiliki sumber daya luar biasa ini. Dan pada saat yang sama kita tidak dapat tidur tenang di malam hari karena melonjaknya harga-harga kebutuhan hidup di semua level. Lebih buruk lagi, kita dipaksa membayar beban pajak untuk kepentingan para politisi yang malah membangkang untuk membayar pajak. Kita juga familiar melihat anggota komisi menghambur-hamburkan uang rakyat dengan dalih rapat dewan dari hotel ke hotel. Aparat penegak hukum semakin susah untuk bisa menyentuh dasar skandal BLBI, Century, dan lain sebagainya.

Ingat, kesehatan adalah termasuk hal yang merupakan kebutuhan asasi dan harus dikecap oleh manusia dalam hidupnya. Keduanya termasuk masalah pelayanan umum dan kemashlahatan hidup terpenting. Negara merupakan pihak yang berkewajiban mewujudkan pemenuhan kedua hal ini untuk seluruh rakyatnya.

Islam telah menetapkan bahwa yang akan menjamin kebutuhan dasar itu adalah negara. Pengadaaan dan jaminan terhadap kebutuhan mendasar ini akan ditanggung sepenuhnya oleh negara, baik untuk orang miskin maupun kaya, muslim maupun non muslim. Baitul Maal akan menanggung pembiayaannya. Praktis, Islam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok, serta pelayanan-pelayanan publik bagi tiap individu rakyatnya.


Tentu kita memerlukan pemerintahan yang lebih baik yang memenuhi kebutuhan semua orang daripada pemerintahan yang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sekelompok kecil kaum elit. Dan lebih penting lagi, kita semua perlu mengadopsi ideologi yang benar dengan solusi yang komprehensif untuk merealisasi kehidupan yang jauh dari kesalahan ideologi kapitalis yang dipaksakan oleh barat kepada kita.


Umar Syarifudin (Syabab HTI)

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Saturday, June 4, 2016

Post a Comment
close