Fakta Mencengangkan Gerakan Feminisme Di Amerika


Oleh : Kafil Yamin
Di Amerika, dan negara-negara Barat pada umumnya, kaum pria semakin takut menikah. Gaji gede, tampang keren, tapi takut masuk dunia rumah tangga. Ini buah dari feminisme yang di sini juga diagung-agungkan oleh sebagian wanita Muslim.

Kalau ada percekcokan rumah tangga, umumnya yang disalahkan laki-laki. Kalau istri tidak bahagia, itu pasti salah si lelaki. Laki-laki Amerika tampak gagah-gagah, tapi di rumah mereka umumnya pencundang. Bukan terutama karena hormat kepada perempuan, tapi karena secara sosial dan hukum, posisi mereka lemah.

Istri biasa ngamuk, lempar piring, teriak-teriak histeris. Emang laki-laki tak bisa? Bisa! Tapi kalau perilaku ini dilayani, si laki-laki lah yang kena hukum KDRT. Memang aneh, KDRT hampir selalu ditujukan kepada laki-laki. Padahal banyak perempuan bisa nonjok dan nyakar. Bahkan pernah ada yang memotong 'barang' suami.

Jumlah pernikahan menurun setiap tahun. Seorang pendeta mengatakan, di awal karir kependetaannya 26 tahun lalu, ia menikahkan sedikitnya 35 pasangan tiap tahun. Sejak 10 tahun belakangan, pernikahan terus menurun, hanya 5 pasangan setiap tahun.

Sementara itu, usia pengantin semakin meningkat. Kalau dulu pasangan rata-rata berusia 20-24 tahun, kini rata-rata di atas 35 tahun.

Sebuah studi mengungkapkan, hanya 29 persen laki-laki Amrik sekarang memandang rumah tangga sebagai hal penting. Tak heran sekarang makin banyak pria dan wanita berusia 40an tetap membujang dan menggadis (menggadis tak berarti perawan). Tinggal di apartemen, berteman bir dan anjing. Kesepian. Kosong.

Laki-laki menikah antara lain antara lain untuk memenuhi kebutuhan biologis. Sekarang hubungan seks di luar nikah adalah hal yang normal, maka ngapain nikah hanya untuk seks?

Menyalurkan cinta dengan memberi nafkah? Sekarang di dunia kerja Amerika, jumlah perempuan lebih banyak. Lulusan perguruan tinggi perempuan lebih banyak. Pekerjaan rumah tangga semakin direndahkan. Suami bisa bertahan agak lama dalam pernikahan bila lebih banyak mengurus rumah, anak, masak, nyuci piring, dsb.

Akibatnya, makin banyak pasangan tanpa nikah. Ini lebih aman karena bisa bubar setiap saat tanpa risiko dan tanggung jawab. Bagaimana kalau punya anak? Tinggal kesepakatan aja. Atau titip entah kepada siapa.

Studi yang sama mengungkapkan ada 79 juta pasangan tanpa nikah di Amrik sekarang. Anak-anak mereka masih kecil sudah mengalami berbagai kelainan: agresif, hiperaktif, obesitas, stress.

Wahai feminis Indonesia, termasuk yang berbusana Muslimah, kalian mau mempromosikan masyarakat seperti ini? Karena mendapat dana gerakan kesetaraan jender? Celaka.
Like Fanpage kami :

Saturday, June 18, 2016

Post a Comment
close