Senjakala Negara Bangsa


  1. Pada awalnya  masyarakat hidup dalam kehidupan fitrah, penuh kebebasan tapi terpimpin oleh orang-orang yang mereka percayai sebagai pemimpin. Di antaranya dalam model Sultaniyya
  2. Pada abad ke 17 lahirlah para bankir. Perekonomian berubah, dari basis komoditi menjadi berbasis uang kertas, hasil jenius masa itu.
  3. Muncullah imperialisme dan kolonialisme untuk perluasan modal dan pasar – yang disebut kapitalisme.
  4. Tepatnya neokolonialisme dan neoimperialisme dengan modus operandi baru yang efisien dan efektif.
  5. Pertama, diberikanlah ‘kemerdekaan politik’, dan ‘kehormatan’ pada ‘kaum terjajah’ sebagai ’bangsa-nasional’, yang sejajar dengan bangsa merdeka lainnya
  6. Demi status baru ini tiap ‘bangsa merdeka’, dibangunlah mitos dan ritus-ritusnya sendiri, secara seragam: lagu kebangsaan, bendera nasional, dan  Konstitusi
  7. Segala artefak ini boleh beragam, tapi tidak dalam esensinya, yakni doktrin ‘dipisahkannya gereja dan negara’, sebagai kata sandi ‘ditundukkannya gereja oleh negara’
  8. Kedua, ‘bangsa-bangsa baru’ merdeka, ini segera didefinisikan sebagai ‘terbelakang, miskin, berpenyakit, dan bodoh’. Butuh pembangunan
  9. Elit dunia ketiga ini dididik, diajari membuat APBN, dengan formula ekonomi neoklasik, yakni defisit-anggaran, dengan teknik Pelita, selenggarakan ‘proyek pembangunan’
  10. Keempat, untuk memastikan status quo, demokrasi diterapkan sebagai mesin kekuasaan piramidal Firaunik. Memudahkan kendali oleh para bankir
  11. Dalam negara fiskal tugas pemerintah mengambil utang ke bankir, menghabiskan lewat APBN, menarik pajak pada rakyat.
  12. Kelima, dengan demokrasi dan pemerintah boneka, terus terjadi pemajakan, penjualan aset, swastanisasi, transformasi pemilikan sosial kepada oligarki bankir.
  13. Dalam demorkasi, siapa pun presidennya tak penting. Asal tunduk patuh. Kasim yang dikebiri.
  14. Rakyat ditransformasikan bertahap, dari manusia otonom menjadi buruh, menjadi konsumen, terakhir jadi debitur – dan pada saat bersamaan, sebagai pembayar pajak.
  15. Jadi, negara fiskal, dengan demokrasinya, tidak lain adalah sistem perbudakan. Orang bekerja untuk tuannya, yakni para bankir. Tak ada kebebasan memiliki harta.
  16. Pahamilah demokrasi modern adalah instrumen politik para bankir, yang muncul pada abad ke 17, diterapkan melalui kudeta atas kekuasan gereja dan raja pada Revolusi Perancis
  17. Melalui demokrasilah dua kelas baru muncul dalam masyarakat: bankir dan politisi di atas. Benih kapitalisme tumbuh dan besar melalui demokrasi ini.
  18. Dua kelas baru muncul, dua kelas lama, gereja dan kestaria, dihancurkan,. Atas nama persamaan, kebebasan, dan persaudaraan. Lahirlah model republik.
  19. Dalam republik sebagai wadah negara fiskal, negara – yakni para politisi – memberikan hak monopoli kepada para bankir untu mencetak uang kertas
  20. Pasca Revolusi Perancis, koin emas dan perak disingkirkan, diganti dengan uang kertas, yakni Assignat. Dengan kertas inilah para bankir semakin berkuasa.
  21. Para bankir mendapat hak monopoli itu, dan membentuk Bank Sentral. Sebagai imbalan mereka sediakan utang untuk keperluan ‘pembiayaan negara’ (proyek-proyek).
  22. Lewat Konstitusi tiap-tiap individu warga negara, dipaksakan menjadi jaminan atas pengembalian utang-ribawi tersebut, melalui pemajakan tersebut di atas.
  23. Pajak itu sendiri ada dua jenis, pajak langsung yang ditarik secara tunai dari harta warga negara dan tidak langsung (inflasi dan seignorage)
  24. 24.Tiap tahun birokrasi negara- politisi yand Anda pilih lewat Pemilu  – menyusun APBN  tersebut di atas, termasuk cicilan utang
  25. Negara menjamin kepada para bankir atas (pengembalian) utang dengan bunga ber bunga ini dari pembebanan pajak kepada warga negara.
  26. Para bankir, dengan sangat mudah memenuhi kebutuhan biaya tersebut, berapa pun nilainya, dengan cara mencetak kredit ex nihilo, nyetak uang dari udara hampa
  27. Uang kertas, kini sudah jadi digital, memungkinkan bankir melakukan itu. Gelembungkan uang melalui utang berbunga, diserap APBN.
  28. Dari sinilah kita disodori suatu trick yang dikenal sebagai ‘Utang Negara’ (Public Debt). Dulu aalsannya “pembangunan”, sekarang apa saja, seperti ‘reformasi’.
  29. APBN, tepatnya utang negara menjadi legitimasi pemerintah berkuasa untuk memajaki rakyat. Ini modusin herent dalam negara fiskal demokrasi
  30. Demokrasi memastikan keterpisahan kapital di tangan oligarki bankir internasional, dari politik domestik. Politik domestiklah yang dikendalikan oleh bankir
  31. Bank Sentral dipisahkan dari (kewenangan) politik pemerintah dengan mantra ‘Independensi Otoritas Moneter’
  32. Para bankir mengendalikan politisi dan pemerintah, bukan sebaliknya. Pemerintahan 100% boneka para bankir. Semua kebijakan adalah untuk kepentingan bankir
  33. Inilah hasilnya buat rakyat: utang yang terus menggunung pada para bankir. Pajak yang makin menjerat dan menindas.
  34. Demokrasi adalah usurokrasi, sistem riba, alat para bankir untuk lahan investasi terbesar mereka. Tak ada independensi. Demokrasi adalah tirani.
  35. Tetapi, sistem politik riba ini tidak akan lestari. Sangat rapuh pada dirinya sendiri, karena ditopang oleh kebatilan, tipu daya uang kertas dan kredit berbunga.
  36. Keruntuhannya sudah di ambang mata. Dimulai dari runtuhnya pilar pokoknya, sistem moneter/finansialnya. Inilah yang sedang terjadi di Eropa dan AS.
  37. Para bankir mengulur-ulur, dengan berbagai akrobat, mencetaak uang baru, tarik pajak tinggi, tapi pada satu titik, tak dapat diteruskan. Perbankan, uang kertas, bakal runtuh secara keseluruhan.
  38. Runtuhnya sistem perbankan, akan diikuti oleh runtuhnya struktur politiknya, yakni negara fiskal dengan demokrasinya.
  39. Sistem tirani yang melawan fitrah alam ini akan sampai pada titik ajalnya. Model kehidupan baru yang lebih alamiah akan meggantikannya.
  40. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddimah, kehidupan manusia mengikuti siklus organik, lahir, tumbuh, menua, busuk dan mati.
  41. Negara fiskal, dengan demokrasinya yang menindas ini, nampak telah sampai pada senjakalanya. Segera runtuh dan mati. Sekian.
Like Fanpage kami :

Sunday, June 26, 2016

Post a Comment
close