Slogan Jahat “Hormati yang Tidak Berpuasa”


Oleh: N. Vera Khairunnisa

Awal ramadhan tahun ini, masyarakat Indonesia disuguhkan dengan berita mengenai slogan berisi toleransi. Slogan tersebut di antaranya berbunyi, “hormati yang tidak berpuasa”. Berbagai slogan yang dikemukakan di beberapa daerah pada intinya mengajak masyarakat untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Bahkan di salah satu daerah, pemimpinnya mengeluarkan kebijakan yakni membolehkan warung buka selama 24 jam, dengan dalih menghormati yang puasa dan yang tidak berpuasa.

Sebenarnya, ajakan “toleransi” seperti fakta di atas tidak terjadi tahun ini saja. Tahun sebelumnya pun slogan “hormati yang tidak berpuasa” ini sudah diopinikan oleh pemerintah. Hasilnya, masyarakat menjadi salah kaprah dalam memahami toleransi. Kalau dulu masyarkat masih tabu jika melihat orang yang tidak berpuasa makan di jalan-jalan, maka sekarang mereka biasa saja. Kalau dulu masyarakat masih malu saat tidak puasa bukan dengan alasan syar’i, maka sekarang mereka kehilangan rasa malu. Mereka pun jadi terbiasa melihat dan bahkan melakukan kemaksiatan.

Di Balik Toleransi “Hormati yang tidak berpuasa”

Dari dulu, jika berbicara mengenai toleransi, ujung-ujungnya umat Islam yang selalu dirugikan. Kita sudah terbiasa dengan ajakan perayaan natal bersama, perayaan tahun baru, dan perayaan valentine day. Jadi yang disebut toleransi itu adalah ketika umat Islam mau ikut natal bareng, ikut ngerayain tahun baru. Kalau yang nggak mau natal bareng, anti mengucapkan selamat natal, maka dia tidak toleran.

Sekarang, saat umat Islam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan pun, umat Islam diminta untuk toleran terhadap yang tidak berpuasa. Ini jelas tidak adil dan tidak masuk akal. Kalau mereka konsisten dengan apa yang mereka sebut sebagai toleransi, seharusnya ketika umat Islam berpuasa, mereka pun ikut berpuasa, dengan alasan menghormati yang sedang berpuasa. Itu! Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Ada apa?

Sungguh, apa yang terjadi di negeri mayoritas muslim ini, dengan fakta-fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa penguasa terindikasi memiliki niat untuk menjauhkan umat Islam dari Islam. Mereka seolah ingin umat Islam terbiasa dengan kemaksiatan dan kemunkaran. Jelas, ini adalah buah dari diterapkannya sistem demokrasi sekular. Paham kebebasan dan juga pemisahan antara agama dan kehidupan telah menghancurkan sifat keimanan dan ketakwaan dalam diri muslim. Sehingga mereka kebablasan dan salah kaprah dalam memaknai toleransi.

Ramadhan: Moment perubahan menuju Takwa

Dalam Islam, telah dijelaskan bahwa momen ramadhan adalah momen di mana umat Islam harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab di bulan ini, Allah swt akan melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang melakukan kebaikan. Bahkan dalam ayat yang memerintahkan untuk berpuasa pun di sebutkan bahwa tujuan akhir dari puasa adalah untuk meraih ketakwaan.

Melihat hal ini, seharusnya sebagai pemimpin yang baik, yang hanya mengharapkan ridha Allah dan Rasul-Nya, tidak semestinya menjerumuskan masyarakatnya pada kemaksiatan, justru harusnya menyeru masyarakat agar memanfaatkan moment ramadhan untuk semangat menjalankan kewajiban berpuasa dan amalan-amalan baik lainnya. Sehingga pemimpin yang bertakwa tidak akan menyerukan slogan “mari hormati yang tidak berpuasa”, tetapi justru menyerukan slogan “di bulan Ramadhan ini, mari kita raih takwa”.

Hanya saja, pemimpin seperti ini tidak akan lahir dari sistem sekular seperti yang sedang diterapkan saat ini. Pemimpin yang mengajak masyarakatnya untuk takwa yang sebenarnya, pasti hanya akan lahir dari sistem berbasis akidah Islam, yakni Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Maka jika kita rindu dengan sosok pemimpin tersebut, sudah selayaknya kita bersegera untuk ikut berjuang menegakkan Khilafah. Wallahua’lam.
Like Fanpage kami :

Tuesday, June 14, 2016

Post a Comment
close