TITIK BAHAYA DAN TITIK NYAMAN DALAM DAKWAH


Oleh : KH. Nasruddin
Kenapa dalam jum’atan 40 orang harus mendengar khutbah, sebagai sarat syahnya jum’ah?
kenapa pula bilal sebelum azan mengingatkan jamaah dengan firman Allah “ adakah yg lebih baik ucapannya dari pada ucapan orang yg mengajak ke jalan Allah?”.

Akhi fillah, ternya di balik dua aktifitas yg di lakukan sang khatib dan para jamah inilah yg menjadi cikal bakal kebangkitan ummat muslim. Ummat jadi benci terhadap maksiat dan ummat-pun jadi semangat Ta’at karena khutbah.

di satu sisi jamaah harus mendengar isi khutbah; di sisi yg lain khatib harus berani menyampaikan isi khutbah.

Intinya, PEMAHANLAH YG AKAN MEMBNGKITKAN UMMAT.
FAKTA YG ADA.

Fakta yg ada saat ini terbalik. Para jamaah pada ngantuk. Bisa jadi karena jamaah kelelahan kerja, bisa jadi pula materi khatibnya yg alay dan membuat ngantuk. Para khatibnya tak berani menyampaikan materi yg membangkitkan. Membaca buku yg sudah letek. Bertahun tahun tak di ganti, dan bahasannya tak jauh jauh dari sabar, syukr dan nerima ing pandum.
Hasilnya baik jamaah maupun khatibnya datar saja. Tak ada kebangkitan di sana.

TITIK RISKAN DAN TITIK NYAMAN BAGI PENDAKWAH.
Bagi para da’i dan khatib perlu menyadari sejak dini, bahwa dakwah yg mengikuti manhaj keNabian mempunyai titik nyaman dan titik tak nyaman.
Titik nyaman para dai adalah:


  1. Ketika mereka hanya membatasi diri untuk menyampaikan materi keislaman yg melingkupi hal hal yg melipur lara. Mislanya, mereka hanya berkutat masalah sabar, syukur, narimo dan penyakit hati ala sufi. Hal ini memang membuat para jamaah ayem tentrem, dan bagi si Da’i tidak akan banyak menemui resiko di benci jamaah.
  2. Isi dakwah hanya berputar masalah amar makruf.
  3. Dakwah tidak bersinggungan dengan pemerintah atau kekuasaan.

TITIK TAK NYAMAN.
Titik tak nyaman dalam dakwah adalah:

  1. Ketika para khatib sudah mulai berani menyampaika NAHI MUNKAR. Ia sudah mulai melarang judi, riba, zina, buka aurat dan adat istiadat yg secara syari jelas jelas bersebrangan dengan hukum Allah.
  2. Bila para dai sudah mulai berani mengkritisi kebijakan kebijakan politik yg tak sesuai dengan hukum Allah, dan lebih berresiko lagi jika sudah mulai otak atik persoalan mendasar dalam bernegara.terlebih lagi jika sudah mempersoalkan sistem negara. Sungguh ini adalah beberapa titik krusial yg akan mengundang bahaya bagi para dai dan ummat. namun, hal ini pulalah yg akan memantikkan kebangkitan di jiwa dan fikiran ummat.

WAHAI PARA PENGEMBAN DAKWAH, SIAPKAN DIRI JAUH JAUH HARI, DARI RESIKO APAPUN YG AKAN MENIMPAMU KARENA DAKWAH AGUNG INI.
Like Fanpage kami :

Tuesday, June 21, 2016

Post a Comment
close