DPR bingung kenapa baru sekarang Santoso bisa ditembak mati



Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding mengungkapkan terbunuhnya dalang teroris Santoso dalam operasi Tinombala menimbulkan banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian.

“Saya kira banyak pertanyaan muncul, kenapa baru sekarang Santoso bisa ditembak, kenapa tidak dari dulu? Termasuk masyarakat Poso kenapa berlarut-larut, padahal hanya di Kabupaten Poso,” ungkap Sudding

Ia mengungkapkan bahwa beberapa dari pertanyaan yang muncul adalah perbedaan jumlah personil gabungan TNI dan Polri yang tidak seimbang dengan kelompok Santoso yang hanya berjumlah 21 orang.


“Ada 3000-an personil TNI dan Polri yang mengejar Santoso dan kawan-kawan, jumlahnya hanya 21 orang, kok sangat sulit sekali. Pelibatan ribuan personil yang memburu 21 orang jadi pertanyaan besar buat saya,” terang politisi Hanura itu.

Selain itu, Sudding juga menduga, tertembaknya Santoso merupakan upaya dari Tito Karnavian selaku Kapolri baru untuk meraih dukungan dari masyarakat.


“Bisa jadi tertembaknya Santoso pasca dilantik menjadi Kapolri adalah untuk mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak. Selalu dikatakan, sudah teridentifikasi, tinggal menunggu waktu,” kata Sudding.

Terlepas dari design atau tidaknya soal Santoso, dirinya memberi aplaus kinerja Polri dan TNI.

“Kita hargai dan apresiasi TNI Polri, tapi disisi lain, pertanyaan masyarakat tidak bisa dikesampingkan. Kasus ini segera dituntaskan karena berkaitan dengan wilayah yang terstigma sebagai wilayah konflik,” ungkap Sudding.
Like Fanpage kami :

Monday, July 25, 2016

Post a Comment
close