Kisah Mengharukan Syahidnya Imam Taqiyuddin An Nabhani



Oleh : Adi Victoria
al-Imam al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah adalah sosok pejuang syariah dan khilafah yang tidak pernah lelah dalam berdakwah. Beliau adalah amir pertama sekaligus pendiri Hizbut Tahrir, sebuah partai politik Islam. Politik adalah aktivitasnya, dan Islam adalah ideologi partai ini. Hizbut Tahrir didirikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada 14 Maret 1953 M.
Syaikh Abdul Azis Al Badri dikenal di Indonesia melalui sejumlah karyanya seperti Al Islam Baynal Ulama wal Hukam (Diterbitkan Penerbit Darul Falah dengan Judul "Hitam Putih Wajah Ulama-Penguasa"), Al Islam: Dhaminun Lil Haajat Al Asasiyah Likulli Fardin wa Ya'malu lirafaahiyatihi (diterbitkan Penerbit GIP dengan judul "Hidup Sejahtera Dalam Naungan Islam"), dan sejumlah buku ideologis lainnya.
Syaikh Abdul Azis Al Badri dikenal di Indonesia melalui sejumlah karyanya seperti Al Islam Baynal Ulama wal Hukam (Diterbitkan Penerbit Darul Falah dengan Judul “Hitam Putih Wajah Ulama-Penguasa”), Al Islam: Dhaminun Lil Haajat Al Asasiyah Likulli Fardin wa Ya’malu lirafaahiyatihi (diterbitkan Penerbit GIP dengan judul “Hidup Sejahtera Dalam Naungan Islam”), dan sejumlah buku ideologis lainnya.
Pada awal diumumkan berdirinya Hizb, Syeikh Abdul ‘Aziz al-Badri dan rekannya telah mendengar berita berdirinya Hizb di al-Quds. Lalu beliau datang dari Baghdad ke al- Quds melakukan perjalanan untuk mencari Hizb. Mereka adalah Syeikh Abdul ‘Aziz al-Badri ditemani Ustadz Ibrahim Makiy dan seorang yang. Mereka bertiga bertemu dengan Syeikh Taqiyuddin di rumah Tawfik Abu Khalaf. Hadir juga Syeikh Abdul Hayi ‘Arafah, Syeikh Abdul Qadim Zallum, As’ad Bayoudh dan yang lainnya. Maka terbentuklah tiga orang sel pertama Hizb di Irak. Perlu diketahui bahwa Syeikh Abdul Qadim Zallum setelah itu yakni setelah meninggalkan al-Khalil, beliau tinggal di Baghdad selama beberapa tahun di bawah mantel pegawai di perusahaan Ishaq Abu Khalaf Trading di Baghdad.
Beliau bersama Syeikh Abdul ‘Aziz al-Badri[1]dan rekan beliau beraktivitas tanpa kenal lelah untuk mencapai titik pusat (nuqthah al-irtikâz) di Irak. Beliau juga dibantu oleh sejumlah syabab yang diutus ke Irak seperti Shalih Abdus Salam al-Muhtasib, Ibrahim Ratib Abu Ghazalah dan yang lainnya. Perlu dicatat bahwa pendiri Hizb Syeikh Taqiyuddin memberikan perhatian besar terhadap aktivitas thalabun nushrah di Irak.
Beliau beberapa kali melakukan perjalanan ke Irak untuk bersama Abu Yusuf (Syeikh Abdul Qadim Zallum) dalam beberapa kontak penting di Irak diantaranya kontak dengan almarhum Abdus Salam ‘Arif dan yang lainnya. Perjalanan terakhir beliau terjadi sebelum beliau wafat ketika beliau ditangkap di perbatasan Irak dengan Suria.
Beliau ditahan tidak lama setelah adanya kampanye besar-besaran penangkapan terhadap para anggota Hizbut Tahrir di Irak. Namun para penguasa tidak mengetahui bahwa beliau adalah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani pemimpin Hizbut Tahrir. Beliau disiksa dengan siksaan yang keras hingga beliau tidak mampu lagi berdiri karena banyaknya siksaan. Bahkan beliau merupakan tahanan terakhir di antara tahanan Hizbut Tahrir yang mereka bantu untuk berdiri ketika dikembalikan ke penjara. Beliau terus-menerus mendapatkan siksaan hingga beliau mengalami kelumpuhan setengah badan (hemiplegia).
Penyiksaan yang dilakukan oleh intelijen yang menangkap beliau tidak berhasil mengorek keterangan dari beliau hatta nama beliau saja karena beliau juga tidak membawa dokumen satupun. Kata-kata yang beliau ucapkan untuk menjelaskan diri beliau setiap kali ditanya adalah “syeikh yabhatsu ‘an ‘ilâj (orang tua yang mencari solusi)”. Maka para anggota intelijen yang menangkap beliau akhirnya merasa iba dan mendeportasi beliau melalui perbatasan Suria dalam keadaan tangan beliau terkelupas dagingnya karena siksaan yang begitu kuat dan kejamnya siksaan yang dilakukan oleh para thaghut. Pendeportasian beliau melalui perbatasan Irak-Suria terjadi sebelum intilijen Yordania datang dan memberitahu bahwa orang yang mereka tangkap adalah Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang mereka cari, tetapi mereka datang setelah kesempatan itu hilang.
Kemudian beliau segera ke Lebanon. Di Lebanon beliau mengalami kelumpuhan pada otak. Tidak lama kemudian beliau dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan nama samaran. Dan di rumah sakit inilah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullahu wa ta’ala wafat. Beliau dikebumikan di pekuburan asy-Syuhada di Hirsy Beirut di bawah pengawasan yang sangat ketat, dan dihadiri hanya sedikit orang di antara keluarganya.
Tentang tanggal wafatnya masih simpang siur. Sebagian peneliti menyebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada tanggal 25 Rajab 1397 H./20 Juni 1977 M.. Pernyataan ini masih perlu dipertanyakan, sebab tanggal 25 Rajab 1397 H. tidak bertepatan dengan tanggal 20 Juni 1977 M., melainkan tanggal 30 Juni. Sedang koran ad-Dustur menyebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada hari Kamis 19 Muharram 1398 H./29 Desember 1977 M.. Mungkin saja tangal ini bukan tanggal wafatnya beliau, melainkan tanggal dipublikasikannya pengumuman kematian di koran, sebab Hizbut Tahrir mengumumkan kematian beliau dalam bayan (penjelasan) bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada tangga 1 Muharram 1398 H. atau tanggal 11 Desember 1977 M.. Dan ini yang lebih dipercaya untuk dijadikan pegangan.
Sungguh ada sesuatu yang cukup menyakitkan, yang menambah kesedihan hati yang begitu berduka atas hilangnya orang yang alim, mulia, dan pemikir untuk pembebasan, yaitu apa yang diceritakan oleh asy-Syeikh DR. Abdul Aziz al-Khayyath bahwa semua media cetak di neger-negeri Arab dan negeri-negeri Islam menolak untuk mempublikasikan berita meninggalnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Asy-Syeikh al-Khayyath berkata: “Saya ingat bahwa saya berusaha kepada koran ad-Dustur dan pemimpin redaksinya ketika itu agar mempublikasikan sebuah berita duka, dan ia baru mau memenuhi keinginanku setelah didesak, dan akhirnya dipublikasikan dengan beberapa baris kecil—dan itupun diletakkan di belakang salah satu halaman—berita tengan wafatnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. []
Inilah gambar makam al-Imam al-'Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani , ulama besar abad ini, di Taman Makam Al Auza'i, Beirut, Libanon. Mari kita berdoa untuk beliau.
Inilah gambar makam al-Imam al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani , ulama besar abad ini, di Taman Makam Al Auza’i, Beirut, Libanon. Mari kita berdoa untuk beliau.
Catatan kaki :
[1]. Sayangnya, pada tahun 1958 M terjadi kesalahpahaman antara Syaikh Abdul Aziz al-Badri dengan pimpinan umum Hizbut Tahrir, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dan tidak lama setelah itu, yaikh Abdul Aziz al-Badri keluar dari Hizbut Tahrir. Menurut hasil wawancara Rodhi (penulis buku Tsaqofatuhu wa Manhajuhu fi Iqomah Daulah al-Khilafah al-Islamiyyah) dengan sejumlah tokoh HT, kesalahpahaman antara Syaikh Abdul Aziz al-Badri dengan pimpinan umum Hizbut Tahrir adalah bahwa beliau rahimahullah pernah mengirim telegram ucapan selamat kepada para perwira yang telah melakukan revolusi 14 Juli 1958 M serta memuji mereka. Kemudian, setelah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengetahui, maka beliau mengikarinya, dan menyalahkannya karena tergesa-gesa memuji mereka tanpa terlebih dahulu mengetahui kenyataan mereka sebenarnya, dan tanpa koordinasi dengan pimpinan. Tidak lama setelah itu beliau keluar dari Hizbut Tahrir.
“Meski beliau keluar dari Hizbut Tahrir, namun hubungan beliau dengan Hizbut Tahrir tetap baik.”, tulis Rodhi.
Rujukan :
1. Buku hizb at-Tahrir, Tsaqofatuhu wa Manhajuhu fi iqomah Daulah al-Khilafah al-Islamiyyah
2. Buku Ahbabullah (kekasih-kekasih Allah)

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Sunday, July 17, 2016

Post a Comment
close