Riba dan Petaka Kemacetan



Salah satu penyebab menumpuknya jumlah kendaraan di jalan adalah kemudahan jual beli kendaraan sistem kredit dengan perantara leasing ribawi.

Sistem kredit riba yang tidak berkah ini membuat manusia menganggap enteng hukum Allah Ta'ala dengan alasan darurat, kebutuhan hidup, demi menemui orang tua di kampung, jika tidak kredit via leasing kapan bisa punya mobil dan segudang alasan lainnya.

Jangan tertipu dengan tawaran kredit yang berlabel syariah yang mengandung syubhat dalam prakteknya. Cukup dengan salah satu parameter saja jika anda mau melihat apakah akad kredit kita terjerat akad riba atau tidak.

Lihatlah didalam perjanjian jual beli apakah ketika kita telat didalam pembayaran angsuran akan dikenakan denda atau ta'zir dan apapun namanya. Meskipun akan dialihkan ke dana sosial atau dinamakan sebagai penghasilan non halal, tidak lain itu adalah riba bahkan tergolong riba jahiliyah.

Didalam surat Ali Imran Ayat 130 Allah Ta'ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا الربا أضعافا مضاعفة

" Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.."

Imam Qotadah berkata ketika menafsirkan ayat diatas :

إن ربا الجاهلية أن يبيع الرجل البيع إلى أجل مسمى فإذا حل الأجل ولم يكن عند صاحبه قضاء زاد وأخر عنه
(جامع البيان لابن جرير الطبر)

"Sesungguhnya riba jahiliyah adalah ketika seseorang melakukan jual beli secara tempo, kemudian jika jatuh tempo pembayaran dan orang tersebut tidak dapat membayar maka dikenakan biaya tambahan (denda) kemudian ia diberi tangguh." ( Jaami'ul Bayaan, oleh Ibnu Jarir At-Thobari ).

Cobalah kita introspeksi diri karena besar kemungkinan musibah kemacetan yang menimpa para pemudik adalah karena perjalanan dan kendaraan yang kita gunakan tidak diberkahi oleh Allah Ta'ala.

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu di sini sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30).


Sumber : sekolah muamalah
Like Fanpage kami :

Tuesday, July 12, 2016

Post a Comment
close