Kisah Mukidi dan Simalakama mimilih pemimpin kafir


Sebuah Analogi Cerdas dari Prof Fahmi Amhar menyikapi Pilkada,.. Memilih Pemimpin Kafir Atau Pemimpin Muslim Walau tak mau menerapkan Syariat? Berikut Percakapan Fiktif antara Mukidi dan Paijo

ALkisah Mukidi berada di arena pesta....
Ada lomba menghabiskan makanan di sana......
Kemudian Paijo menawari Mukidi : mau makan babi rica-rica,
atau iga bakar, tapi kemarin sapinya mati karena disiksa ?
Mukidi: Kalau saya tidak ikut makan bagaimana?
Paijo : Ya nggak apa-apa sih, tapi jadi tidak ikut lomba ...
Mukidi: Ya udah, saya puasa dulu saja, siapa tahu, makanan yang halal & thoyyib sebentar lagi juga dapat, dengan izin Allah tentu saja.
Paijo : Ya gak boleh gitu, wajib ikut, jangan duduk manis saja.
Mukidi: Mohon maaf, insya Allah tidak masalah saya tidak ikut pesta.
Paijo : Kalau situ gak ikut ikut pesta, nanti yang menang lomba makan yang suka babi rica-rica.
Mukidi : Ya bagaimana? Habis semua menunya bikin sakit perut saya!
Paijo : Yang penting yang menang jangan mereka.
Kalau sampai mereka menang, pasti itu salahmu juga!
Mukidi : Lho koq jadi salah saya? Kenapa bukan yang bikin lomba?
Paijo : Karena yang bikin lomba tidak bisa salah. Mereka itu laksana para dewa.
Mukidi: Pasti itu Dewa Simalakama ya?
Paijo : Kamu itu sok tahu aja! Merasa benar sendiri saja!


Kemudian Mukidi Pergi mengambil toa, dan berucap " Saudara saudara Ayo tinggalkan pesta Makan haram ini,...tau ndak, disamping Gedung ini ada Sapi Limusin yang siap di Sembelih lengkap dengan Siapan Bumbu dapurnya?.....ayo,keluar semua ...

Akhirnya banyak peserta yang keluar dari gedung dan ikut Seruan mukidi,..begitu juga adayang mencaci dan mengumpat mukidi...terutama para penjual babi dan Sapi Glonggongan...

Di adopsi dari status Prof Fahmi Amhar, dengan beberapa perubahan
Like Fanpage kami :

Monday, September 12, 2016

Post a Comment
close