Mahasiswa dan Pembungkaman Misi Ideologis

                       

Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Aktivis GEMA Pembebasan Komisariat UGM)


Trend topic video opini #tolakahok #tolakpemimpinkafir oleh saudara Boby dari Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Komsat UI menjadi perbincangan di berbagai media sosial. Hingga hari yang ke-4 selepas viralnya opini tersebut, banyak komentar positif maupun negatif yang tercantum di berbagai laman-laman medsos, baik di facebook maupun youtube.  Dan saat ini, media akhirnga berbondong-bondong untuk mengonfirmasi mengenai sikap mahasiswa-mahasiswa yang berani menyatakan sikap penolakannya terhadap ahok. Terutama hashtag tolaknya yakni #tolakahok #tolakpemimpinkafir.


Sikap mahasiswa GEMA Pembebasan memang dinilai berani. Terlihat dari video-video yang dilakukan sudah banyak, bukan hanya mengenai #tolakpemimpinkafir. Banyak lagi video-video opini lainnya yang diserukan agar ummat ini menyadari problematika yang sangat ini sedang kompleks melanda negeri Indonesia. Sehingga, peran yang dilakukan GEMA Pembebasan sejatinya menjadi kebanggaan bagi ummat karena mahasiswa dan gerakannya masih diharapkan untuk terus kritis, khususnya dengan alasan argumentatif dan ideologis.


Bila dikatikan dengan peran mahasiswa, agent of change, iron stock, dan sebagainya, GEMA Pembebasan dan gerakan mahasiswa lainnya yang saat ini sudah menjalankan upaya muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) adalah aktivitas yang justru sejalan dengan peran mahasiswa. Belum lagi bila ditambah dengan adanya tridarma perguruan tinggi yang salah satunya melakukan pengabdian kepada rakyat. Maka, salah satu bentuk pengabdian itu adalah kritis terhadap kedzaliman yang dilakukan penguasa kepada ummat dan menjelaskan kebathilan sistemik yang melanda negeri serta solusi visioner-ideologis yang akan menyelesaikan problematika itu.
 .
Selain itu, aktivitas agen perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa dan gerakannya, yang juga dilakukan oleh GEMA Pembebasan menjadi salah satu bahan evaluasi mendasar terhadap masalah multidimensi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dan hal yang jarang sekali disentuh oleh mahasiswa dan kalangan intelektual adalah gagasan-gagasann ideologis yang mengakar sehingga dapat menyelesaikan akar masalah yang saat ini terus tampak.  Gagasan mengakar dengan standar Islam itulah yang sejatinya tepat untuk menyelesaikan masalah saat ini.


Ketajaman terhadap perkara ketundukan kepada syari'at pencipta inilah yang terus diserukan oleh kawan2 GEMA Pembebasan. Mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menyadarkan kita akan posisi sebagai makhluq li khaaliq (makhluk milik pencipta) sehingga terdapat konsekuensi untuk tunduk kepada perintah-Nya. Salah satunya adalah menjadikan pemimpin muslim dengan kepemimpinan Islam, dan tidak menjadikan pemimpin kafir sebagai auliyaa (penolong, pelindung, pemimpin) sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa : 144.

Selain itu, bilamana kesadaran terhadap Allah SWT (idrak bi shilati billah) itu tidak muncul dalam diri kita. Maka, bisa dipastikan aspek-aspek ruhiyyah yang seharusnya hadir ditengah masyarakat akan hilang dan lenyap. Apalagi ketika dipimpin oleh pemimpin kafir. Bukanlah keberkahan hidup, namun justru kemurkaan Allah SWT yang akan selalu menyelimuti setiap sendi kehidupan.

Sehingga, menjadi aneh, jikalau dari seluruh aktivitas2 yang benar dan mulia ini, dihentikan bahkan DIBUNGKAM !. Padahal gagasan-gagasan mereka adalah sebuah misi-misi Ideologis untuk menyelesaikan problem. Khususnya menolak pemimpin kafir sebagai sikap ketundukan terhadap syari'at Allah SWT. Belum lagi, pemimpin tersebut secara faktual telah menyengsaran rakyat. Maka, ini menjadi sikap yang harus diapresiasi sebagai bukti cinta kepada negeri. Terlebih cinta mereka terhadap keberkahan hidup dengan aturan khaliqunnas, Allah SWT. Apakah kemudian pantas mereka sebagai mahasiswa mendapatkan pembungkaman dalam membawa misi ideologis ?

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Thursday, September 8, 2016

Post a Comment
close