Antara Ahok, Zakir Naik dan Habib Riziq : Dalam Perspektif Linguistik dan Komunikasi



Ulasan ringan untuk mereka yang bertanya pada saya: “Kenapa publik merespon video Habib Rizieq berbeda dengan cara mereka merespon video Ahok?”
Sebelum membaca, ucapkan doa masing2. Pastikan kepala dingin, logika gak karatan, hati gak kusam, tendang jauh prasangka. 😀 Saya hanya ingin membatasi ulasan sesuai judul di atas. Siapkan kopi dulu karena tulisannya agak panjang.
Bayangkan situasi berikut:
A. Kamu terbaring di rumah sakit. Kemudian datang seorang pengunjung, dan berkata “umurmu sudah tidak lama lagi.”
Bagaimana kamu akan merespon? Kaget, tersinggung, marah, menganggap pengunjung kurang ajar, atau bahkan menganggap dia menyumpahi kamu lekas meninggal.
Bagaimana jika yang berkata adalah doktermu? Doktermu masuk kamar dan berkata, “umur anda sudah tidak lama lagi.”
Apakah kamu akan merespon ucapan dokter sama seperti kamu merespon ucapan si pengunjung? Tidak.
Kenapa? Karena kamu yakin dokter berkata benar dan tidak bermaksud menyumpahi kamu meninggal. Karena kamu percaya dokter lebih tau kondisi kesehatanmu, bahkan lebih dari dirimu sendiri.
Apakah kamu telah bersikap tebang pilih kepada pengunjung dan dokter? (bisa jawab sendiri, kan?)
Situasi tersebut menggambarkan bahwa:
Pesan yang sama, disampaikan oleh orang yang berbeda, dapat memberikan makna yang berbeda!
B. Di tengah keriaan bersama teman-teman, kamu mengeluarkan lelucon dan tertawa terbahak-bahak. Bagaimana kira-kira teman sekitarmu merespon? Kemungkinan mereka akan senang dan ikut tertawa terpingkal-pingkal.
Coba bayangkan jika kamu melemparkan lelucon
dan tertawa terbahak-bahak saat sedang takziah. Apakah teman dan orang sekitar akan merespon dengan cara yang sama? Katakanlah niatmu baik untuk menghibur kesedihan mereka. Apakah mereka akan ikut tertawa? Tidak. Mereka akan mengusirmu keluar dari rumah duka!
Konteks situasi menentukan apakah perkataan dan sikapmu dapat diterima atau tidak. Saya harap kamu mengerti bahwa temanmu tidak sedang melakukan standar ganda atas sikapmu.
Situasi tersebut menggambarkan bahwa:
Pesan yang sama, disampaikan oleh orang yang sama, dalam konteks situasi yang berbeda, dapat menyampaikan makna yang berbeda.
C. Temanmu datang menanyakan pendapatmu tentang cara dia berpakaian, dan kamu berkata, “Penampilamu terlihat buruk, baju itu tidak pantas untuk bentuk tubuhmu.” Apa yang akan dilakukan temanmu? Berterima kasih, mengganti pakaiannya, dan menanyakan pendapatmu kembali.
Bagaimana jika kamu menyampaikan perkataan yang sama kepada seseorang yang tidak ada ikatan emosi denganmu? Misalnya kepada orang yang kamu temui di mall, atau seorang tamu yang datang ke rumahmu untuk keperluan lain, kamu berkata, “Penampilamu terlihat buruk, baju itu tidak pantas untuk bentuk tubuhmu.”. Bagaimana mereka akan merespon? Jika kamu lakukan pada orang pertama, kemungkinan dia akan menggamparmu dengan tas belanjaannnya. 😀 😀 Jika pada orang kedua, tamumu akan langsung pergi, mungkin setelah dia menyiramkan air minum ke wajahmu. Hihihihihi… 😀
Temanmu bukan saja memiliki ikatan lebih dekat denganmu; dia mempercayai kompetensimu untuk menilai dan juga datang dengan kondisi siap untuk mendengar penilaianmu tentang penampilannya. Sedangkan tamu kedua datang tidak untuk mendengarmu mengkritisi penampilannya.
Situasi tersebut menggambarkan bahwa:
Orang yang sama, mengatakan hal yang sama, pada pendengar (recipient) yang berbeda, dapat menyampaikan makna yang berbeda.
Sampai di sini kamu masih belum paham kenapa orang merespon video Ahok berbeda dengan video Habib? Mungkin kamu butuh minum kopi…hehehehe…
Pragmatik (Pragmatics) seperti halnya semantik (Semantic) adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji makna. Jika semantic mengkaji makna satuan lingual secara internal, pragmatic mengkaji makna satuan lingual secara eksternal. Yule (1996:3) menyebutkan ada 4 definisi pragmatic, yaitu mencakup (a) bidang yang mengkaji makna penutur, (b) makna menurut konteksnya, (c) tentang makna yang diujarkan, dan (d) bidang yang mengkaji bentuk ekpresi menurut jarak sosial yang membatasi participan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Lebih lanjut Om David Crystal (1987), mendefinisikan pragmatic sebagai berikut: “pragmatics studies the factors that govern our choice of language in social interaction and the effect of our choice on others. In theory, we can say anything we like. In practice, we follow a large number of social rules (most of them unconsciously) that constrain the way we speak.”
Lebih jelas ya…? Jadi, dalam berkomunikasi yang penting bukan hanya apa yang dituturkan (ujaran / utterance), tetapi juga siapa yang menuturkan (penutur / speaker), kepada siapa kita bertutur (petutur / recipient) dan dalam konteks apa tindak tutur dilakukan. Secara tidak langsung Om David juga berkata, dalam interaksi sosial terdapat pilihan bahasa (yang harus diperhatikan) dan efeknya terhadap orang lain (pendengar). Walaupun dalam teori kita dapat mengatakan apa saja, namun praktiknya kita mengikuti aturan sosial yang membatasi cara kita berbicara.
Adakah di antara kamu yang berkomentar, “saya yakin banget kalo ini pasti bukan penistaan agama soalnya yang ngomong Habib Rizieq, jadi gak mungkin dia salah maupun didemo!”
Jawabnya: Ya, memang itulah intinya! Masih tidak paham juga? Coba sesap kopimu dan aktifkan sel-sel kecil kelabu di otakmu itu… qiqiqiqi… 😀
Utterance (Tuturan)
Ahok: “…bapak ibu jangan mau dibohongi pakai al-maidah ayat 51…”
Habib: “…nipu umat pakai ayat quran, nipu umat pakai hadist…” (Silakan cari video lengkap masing2).
Sudah paham dong struktur kalimat di atas?
Siapa yang berbohong? Orang! Mereka yang menggunakan ayat.
Bukan ayatnya? Bukan!
Lantas apa peran ayat di sini? Alat untuk berbohong atau alat kebohongan.
Lalu mengapa respon publik berbeda atas ucapan yang sama? Simak poin di bawah
Speaker (Penutur)
Ahok: Siapa Ahok? Seorang gubernur / pejabat pemerintah, beragama Nasrani.
Apakah Ahok dipandang (oleh pendengarnya) sebagai orang yang mengerti Quran? Tidak.
Mengerti tafsir Quran? Tidak.
Berkompetensi dalam menyampaikan ayat Quran? Tidak.
Mengimani Quran? Tidak.
Habib: Siapa Habib Rizieq? Seorang guru (ustad) yang memiliki jamaah (pengikut) yang mempercayainya sebagai orang yang berilmu agama.
Apakah Habib dipandang (oleh pendengarnya) sebagai orang yang mengerti Quran dan Hadist? Ya.
Berkompetensi dalam menyampaikan ayat Quran? Ya.
Mengimani Quran? Ya.
Publik merespon Habib seperti pasien merespon dokternya. Habib dianggap lebih tau dan berilmu dari jamaahnya, memiliki kompetensi untuk membahas Quran, dan mengimaninya. Jamaah percaya yang disampaikan Habib adalah kebaikan. Sementara Ahok bukanlah orang yang diharapkan mengeluarkan komentar berkenaan ayat Quran. Selain tidak mengerti, tidak dapat membaca, dia juga tidak mengimani Al Quran. Walau Ahok berkata tidak bermaksud menistakan, publik menganggapnya tidak pantas.
Situational Context (Konteks Situasi)
Ahok: Menyampaikan dalam pertemuan kunjungan kerja yang ditujukan untuk mensosialisasikan prestasi kerja / program kerja pemerintah. Secara implisit, menyisipkan pesan kampanye politiknya dengan menyinggung ayat Quran. Disampaikan dalam ruang terbuka, di hadapan pendengar yang majemuk.
Habib: Menyampaikan dalam majelis ilmu, dalam tema yang ditujukan untuk membahas fenomena munculnya ulama yang memelintirkan ayat, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Disampaikan dalam lingkup tertutup (terbatas), di hadapan jamaahnya sendiri.
Ucapan Habib sesuai dengan tema pembahasannya, pada media (waktu dan tempat) yang sesuai. Seperti orang yang tertawa di tengah keriaan; pada tempatnya. Ibarat ucapan dokter yang pedih namun dinilai sebagai kebenaran. Publik meresponnya sebagai peringatan.
Sementara Ahok mengucapkannya tidak pada konteks situasi yang dapat diterima. Publik meresponkan sebagai tuduhan (mereka yang berbohong) dan penistaan (alat kebohongan).
Recipients (Petutur)
Ahok: Penduduk pulau dan pegawai pemda. Pendengar majemuk (beragam agama). Tidak terdapat ikatan yang kuat dan kepercayaan antara pendengar dan pembicara terkait apa yang dituturkan. (Kemudian disebarkan dan mendapat perhatian publik yang lebih luas).
Habib: Jamaahnya sendiri. Pendengar tunggal (kaum muslim). Terdapat ikatan yang kuat dan kepercayaan antara pendengar dan pembicara terkait apa yang dituturkan.
Pada kasus Ahok, pendengar hanya berharap Ahok berbicara terkait agenda kunjungan kerjanya dan tidak berharap Ahok menyinggung ayat Quran dalam pemaparannya. Seperti tamu yang datang berkunjung, mereka tidak berharap tuan rumah mengkritisi penampilannya. Itu dianggap tidak sopan. Sedangkan Habib berhadapan dengan jamaah yang memang datang untuk mendengar tausiyah sesuai tema. Jamaah siap mendengar apapun yang dikatakan Habib. Seperti teman yang memang dengan sadar datang meminta saran, dia akan bersiap dengan penilaian buruk.
“Jadi, subjektif dong?” Benar!
Makna bahasa itu tidak mutlak sama. Jangan karena A berkata hal yang sama seperti B, lantas pendengar dituntut merespon dengan cara yang sama. Jika tidak sama, maka pasti benci dengan salah satunya.
Aaaah, terlalu sempit untuk cepat berprasangka demikian. Coba nikmati kopimu… 😀
Tante Julia T Wood, dalam bukunya Interpersonal Communication (2010) berkata “The meanings of language are subjective.”
Because symbols are abstract, ambiguous, and arbitrary; the meaning of words are never self-evident or absolute (Duck, 1994a, 1994b; Shotter, 1993). Kita mengkonstruksi makna dalam proses interaksi dengan orang lain melalui dialog yang mengalir dan tercerna di kepala kita.
Language use is rule-guided! (Wood, 2010). Kalian yang pernah ikuti kelas Bahasa Inggris (saya) tentu paham dengan aturan yang mengatur pengucapan (rules that govern pronunciation / phonology) dan struktur kalimat (sentence structure / syntax). Selain dua aturan tersebut ada aturan komunikasi (communication rules), yang terbagi pemahaman atas apa arti komunikasi dan jenis komunikasi apa yang pantas (sesuai) dalam situasi tertentu.
Kalian yang pernah ikuti kelas Public Relations (saya) tentunya juga lazim dalam menyusun perencanaan komunikasi strategis, kita selalu lebih dulu menganalisa target audience, merancang key messages, menentukan key speaker, dan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan (key messages).
Why? Because that all matters!
Jadi, jika ingin berteriak, pastikan kamu sadar apa yang kamu teriakkan.
Silakan berkomentar, namun pastikan komentarmu tidak asbun 😀
“Pasti karena Ahok Cina Kristen…!” –> karena Ahok Kristen, mungkin saja, tapi tidak ada hubungannya dengan Ahok Cina. Ini contoh komentar asbun 😀
“DR. Zakir Naik juga suka ngutip kitab agama lain, kenapa Ahok dipermasalahkan?” –> Jika Ahok adalah seorang ahli perbandingan agama, berbicara di tengah forum yang memang diperuntukkan membahas perbandingan agama, di hadapan audience yang memang datang dengan kesadaran dan bersiap mendengarkan apa yang dikatakan sesuai tema seperti apa yang dilakukan DR Naik, tentunya silakan saja… 😀
“Ini pasti dipolitisasi!” –> Ahok adalah seorang politisi, yang bergabung dalam partai politik, yang sedang melakukan kampanye politik, pernyataannya keluar dalam ranah politik, saat sedang menyelipkan pesan politiknya. Apa yang kamu harapkan jika kenyataannya seperti ini? 😀
Get up, leave your cocoon and take some fresh air! Mengharapkan kasus ini bebas politisasi adalah tidak mungkin.
Tahukah kamu, sebuah tabung akan tampak seperti lingkaran jika kamu hanya melihatnya dari sisi atas. Coba berkeliling mendapatkan perspektif lain. Andaikan kamu tidak mendapati bentuk tabung dengan jelas, setidaknya kamu tidak ngotot mempertahankan yang kau lihat adalah lingkaran.
Jangan mudah menuduh mereka yang bergerak adalah orang yang penuh kebencian. Nyatanya mereka yang mudah menghujat orang lain penuh kebencian adalah mereka yang tidak dapat melihat hal lain selain kebencian. Jika kamu tidak bisa mengerti apa yang orang lain rasa, jangan paksa mereka menuruti pemahamanmu.
Tahukah kamu kenapa kain flannel terlihat indah? Karena masing-masing kotak menjaga proporsinya dan mendekatkan diri dengan kotak lainnya, sehingga tercipta pola yang indah. Bayangkan jika kotak satu mengambil porsi kotak lainnya dan saling menjauh? Tidak akan ada selembar kain flannel 😀
Aaah…, kopi saya sudah menjadi dingin. Mari minum teh saja…! 😉
Silakan share jika mencerahkan; jangan share jika untuk balas-balasan.
Crystal, David. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press
Duck, S.W. 1994a. Meaningful Relationships. Thousand Oaks, CA: Sage.
Duck, S.W. 1994b. Steady as (s)he goes: Relational Maintenance as a Shared Meaning System.
Shotter. J. 1993. Conversational Realities: The Construction of Life through Language. Newbury Park, CA: Sage
Wood, Julia T. 2010. Interpersonal Communication: Everyday Encounters. 6th Edition. Wadsworth: Wadsworth Cengage Learning

Sumber : https://www.facebook.com/rizka.widayati/posts/10210776634037660
Like Fanpage kami :

Saturday, November 19, 2016

Post a Comment
close