Ketika Dosen Lihat Kaki Santri Ciamis Berdarah



SEBELUM kini digelar Aksi Bela Islam Jilid III atau aksi 212, para santri asal Ciamis, dikabarkan berjalan kaki menuju Jakarta. Perjalanan mereka disambut baik oleh masyarakat umum. Mereka sengaja menyediakan makanan, minuman, bahkan pakaian di pinggir jalan yang dilintasi oleh peserta aksi.

Nah, ada kisah menarik nih di balik perjalanan peserta aksi. Salah satunya datang dari seorang dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Maimon Herawati yang melihat seorang santri berdarah. Berikut kisahnya.

Usai mengajar kelas pagi, saya turun ke Jatos. Dengan Isna, kami memilih sandal gunung dan sepatu nyaman pakai. Seluruh sandal dan sepatu ukuran 39-42 kami beli. Teteh penjaga toko menelpon pemilik toko, minta harga sangat murah dibanding harga yang tertulis di sandal gunung itu.

Gerombolan besar itu dengan cukup sulit dibawa menggunakan motor ke arah Dangdeur.

Di sana berbaris masyarakat. Murid TK sampai SMK. Remaja sampai nenek kakek. Di depan mereka berbagai hal: baju, makanan, sepatu dan sebagainya.

Pekikan takbir terdengar sesekali. Juga yel yel. “Islam bersatu, tidak bisa dikalahkan!”

Kepala-kepala itu melongok, menunggu-nunggu kedatangan remaja santri Ciamis.

“Mereka hebat. Mereka luar biasa.” Demikian komen-komen yang terdengar.

Saya menggabungkan diri dengan teman yang lain.

Hampir sejam, satu persatu mujahid remaja itu mendekat. Sebagian bertopi lebar. Wajah mereka penuh senyum. Sebagian mereka, tangannya sudah penuh dengan barang-barang.

Masyarakat harus dipaksa mundur karena semua berebut ke tengah jalan, membawakan berbagai hal.



“Dikumpulkan saja dalam truk, Ibu-Ibu,” pinta koordinator. “Nanti akan dibagikan.”

Ada banyak yang menyeka airmata.

Sekejab saja sandal-sandal gunung dan sepatu itu habis.

Di depan saya masih lewat remaja-remaja santri.

Wartawan Antara yang berdiri tak jauh dari saya menjelaskan jumlah santri yang dia saksikan berkisar 1500 orang.

Ada yang bersandal jepit. Kakinya nampak bekas darah mengering.

“Nomor kakimu berapa, Nak?”

Dia mendongak. “43.”

Saya tersenyum. “Maaf ya, Bu Imun belum membeli nomor itu tadi. Bu Imun akan segera beli dan kirimkan ya. InsyaAllah.”

Dengan Isna, kami kembali ke Jatinangor, mencari toko sepatu yang lain. Lagi seluruh sandal gunung dan sepatu nyaman ukuran 42-44 stok toko dihabiskan. Plus berlusin-lusin kaos kaki.

Kembali ke Cipacing.

Santri-santri sudah berkumpul di RM Sehati. Saya mendapat info dari Faris ada Gubernur Jabar di dalam. Banyak bus berjejer di luar rumah makan.

Saya menyerahkan gembolan pada Faris.

Saya sendiri tak lama di sana karena harus menjadi pembicara pada seminar nasional di kampus.

Sempat bertelponan dengan Kang Teddy Setiadi. Beliau juga di lapangan.

Sepanjang jalan tadi, banyak ditemui wajah yang sering bersama dalam aktivitas kepalestinaan dan lainnya.

Ah, saat hati itu berdetak karena hal yang sama, tidak janjian pun Allah pertemukan.

Semoga demikian juga hendaknya nanti pertemuan di surga. Amiin. []

Sumber: www.tarbiyah.net
Like Fanpage kami :

Friday, December 2, 2016

Post a Comment
close